• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Berawal dari Jakarta, Butt...

Berawal dari Jakarta, Butter Baby Kembangkan Dunia Kreatif hingga Los Angeles

Minggu, 25 Okt 2026, 15:25 WIB

JAKARTA — Butter Baby, merek donat yang didirikan Henry dan Nick Burch, membawa pendekatan kreatif dalam membangun merek kuliner ke panggung World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta. Dalam sesi bertajuk “Brand Diplomacy Through Food” pada 22 Oktober 2026, keduanya membahas bagaimana gastronomi, identitas lokal, dan kreativitas dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan lintas budaya.

Dalam diskusi tersebut, Henry dan Nick menyoroti peran merek makanan dan minuman (food and beverage/F&B) yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyampaikan cerita, karakter, serta nilai-nilai lokal kepada khalayak yang lebih luas. Tantangannya adalah membangun daya tarik lintas budaya tanpa kehilangan identitas dan akar yang menjadi fondasi sebuah merek.

Ket. Foto: Co-founder Butter Baby, Nick Burch (memegang pelantang), dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada Kamis (22/10/2026). Butter Baby membawa kreativitas Jakarta ke WCCE 2026 melalui pendekatan yang memadukan donat, storytelling, animasi, dan desain sebagai medium pertukaran budaya. — Sumber: Butter Baby

Butterlandia dan Pendekatan Storytelling

Bagi Butter Baby, donat menjadi titik awal untuk menghadirkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar menikmati makanan. Merek ini menggabungkan produk kuliner dengan storytelling, animasi, desain ruang, dan pengalaman ritel untuk membangun dunia kreatif yang mereka sebut sebagai Butterlandia.

Co-founder Butter Baby, Nick Burch, mengatakan pengembangan merek dilakukan dengan menciptakan dunia yang dapat dimasuki dan dialami konsumen. Produk menjadi pintu masuk, sedangkan cerita, animasi, dan desain memperkuat karakter serta pengalaman yang ditawarkan.

“Bagi kami, membangun brand adalah tentang menciptakan dunia yang ingin dimasuki dan dialami orang-orang. Produk menjadi titik awal, sementara storytelling, animasi, dan desain membantu menghadirkan karakter serta pengalaman yang lebih utuh,” ujar Nick.

Dari Jakarta menuju Los Angeles

Menurut Nick, Butter Baby ingin terus mengeksplorasi cara baru dalam membangun merek tanpa meninggalkan identitas awalnya. Pendekatan tersebut diterapkan melalui berbagai bentuk pengalaman, mulai dari toko utama (flagship store) di Jakarta, instalasi karakter di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, hingga kegiatan pop-up di Los Angeles, Amerika Serikat.

Meski hadir di lokasi dan konteks yang berbeda, Butter Baby berupaya mempertahankan karakter yang konsisten. Dengan demikian, pengalaman konsumen tidak hanya bertumpu pada produk donat, tetapi juga pada cerita dan dunia kreatif yang menyertainya.

Co-founder Butter Baby, Henry Burch, mengatakan Jakarta memiliki peran penting dalam perkembangan merek tersebut. Menurut Henry, dinamika kota ini memberikan ruang bagi eksperimen dan membentuk cara Butter Baby mengembangkan kreativitasnya.

“Jakarta selalu menjadi bagian penting dari cara kami membangun Butter Baby. Kota ini memberi kami energi, keberanian untuk bereksperimen, dan cara melihat kreativitas secara lebih terbuka. Kami ingin membawa semangat itu ke setiap pengalaman Butter Baby, sekaligus membuktikan bahwa sebuah ide yang lahir dari Jakarta dapat terhubung dengan banyak orang,” kata Henry.

Kuliner sebagai Medium Pertukaran Budaya

Partisipasi Butter Baby dalam WCCE 2026 menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai potensi industri kuliner sebagai ruang pertemuan antara produk, kreativitas, dan pertukaran budaya. Melalui pendekatan yang memadukan gastronomi dengan desain dan narasi, Butter Baby berupaya menunjukkan bagaimana gagasan yang tumbuh di Jakarta dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang menjangkau audiens internasional.

Bagi Butter Baby, produk tetap menjadi fondasi pengembangan merek, sementara kreativitas dan imajinasi membuka peluang untuk memperluas pengalaman konsumen. Pendekatan ini menempatkan kuliner bukan hanya sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan identitas dan membangun koneksi lintas budaya.

  • Industri Kuliner
  • ekonomi kreatif
  • bisnis kuliner
  • Butter Baby
  • Industri F&B
  • diplomasi budaya
  • WCCE 2026
  • Kreativitas Jakarta
  • Henry Burch
  • Nick Burch
  • Brand Storytelling
  • Desain dan Animasi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.