Polda Papua Barat Daya Mengedukasi Pelajar soal Bahaya Perundungan
Sabtu, 24 Okt 2026, 21:52 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
SORONG – Kepolisian Daerah Papua Barat Daya mengedukasi siswa SD dan SMP YPPK Moria di Kota Sorong tentang bahaya perundungan dan dampak kenakalan remaja guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
“Para pelajar didorong untuk membangun pertemanan yang sehat, menghormati perbedaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama,” kata Kasubbid PID Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny S. A. Hengkelare di Sorong, Sabtu (24/10).
Jenny mengatakan edukasi tersebut merupakan upaya meningkatkan kesadaran pelajar untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas dari perundungan.
Kegiatan itu diikuti kepala sekolah, siswa kelas IV hingga VI SD, siswa kelas VII hingga IX SMP, serta para guru di lingkungan YPPK Moria.
Ia menjelaskan para siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk perundungan, mulai dari kekerasan fisik, ejekan atau penghinaan secara verbal, hingga pengucilan dan perilaku sosial lain yang dapat melukai perasaan serta menurunkan kepercayaan diri korban.
Menurut dia, perundungan bukan sekadar candaan antarteman, melainkan perilaku yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, rasa aman, hubungan sosial, dan semangat belajar anak.
Selain membahas perundungan, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai dampak kenakalan remaja dan pentingnya kemampuan mengendalikan diri dalam pergaulan.
Jenny berharap para pelajar mampu membedakan perilaku positif dan negatif, berani menolak ajakan yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain, serta bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Ia juga mengimbau para siswa agar tidak melakukan, mendukung, ataupun membiarkan perundungan terjadi di lingkungan sekolah.
Apabila mengalami atau menyaksikan perundungan, para siswa diminta berani melaporkan kejadian tersebut kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya agar dapat segera ditangani dengan tepat.
Jenny mengatakan pencegahan perundungan membutuhkan keterlibatan aktif pihak sekolah dan keluarga, antara lain melalui penciptaan suasana belajar yang inklusif, pengenalan perubahan perilaku siswa, serta pendampingan bagi anak yang mengalami maupun melakukan perundungan.
“Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi salah satu langkah penting dalam mendeteksi persoalan sejak dini,” katanya.
Ia berharap edukasi tersebut membuat para pelajar semakin memahami bahaya perundungan dan kenakalan remaja, mampu mengambil keputusan positif, serta berperan aktif menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!