Hati-hati Bunda! Ini Tanda-tanda Bayi Anda Alami Penyakit Jantung Bawaan, Lelah Ketika menyusu
Sabtu, 24 Okt 2026, 18:17 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Brawijaya.
TANGERANG - Konsultan jantung anak, Dr Anisa Rahmadhany, mengatakan tanda - tanda penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi di sejumlah kasus baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian seperti lebih cepat lelah ketika menyusu, bernapas lebih cepat atau sulit mencapai kenaikan berat badan sesuai usianya.
"Pada beberapa kasus, gejala penyakit jantung bawaan dapat terlihat sejak bayi dilahirkan. Namun beberapa gejala perlu diwaspadai apalagi jika terjadi secara berulang dan disertai keluhan lain, kondisi tersebut perlu mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut," katanya dalam keterangannya di Tangerang, Sabtu.
Ia menjelaskan, PJB merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian sejak awal kehidupan. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran orangtua terhadap kondisi jantung anak, termasuk memahami tanda-tanda yang kerap tidak disadari.
Anisa menjelaskan, penyakit jantung bawaan adalah kelainan pada struktur jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama masa perkembangan janin. Kelainan ini memiliki beragam bentuk, mulai dari adanya lubang pada sekat jantung, gangguan pada katup jantung, hingga kelainan susunan pembuluh darah besar.
Perbedaan jenis dan tingkat keparahan kelainan membuat gejala yang muncul pada setiap bayi tidak selalu sama. Sebagian bayi mengalami gangguan sirkulasi darah yang berat sejak lahir, sedangkan bayi lainnya dapat terlihat sehat selama beberapa waktu.
Pada kondisi tertentu, tubuh bayi masih mampu menyesuaikan diri dengan kelainan yang ada. Namun, seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kebutuhan oksigen tubuh, gangguan tersebut dapat mulai menimbulkan gejala.
Orang tua perlu memperhatikan perubahan kondisi bayi, terutama apabila bayi terlihat mudah lelah ketika menyusu, sering berhenti untuk mengambil napas, berkeringat berlebihan saat menyusu, atau mengalami kenaikan berat badan yang kurang optimal. Napas yang lebih cepat dari biasanya juga perlu diwaspadai, terlebih jika disertai kesulitan menyusu atau perubahan warna kulit.
"Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat," ujar Anisa dari BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa bayi yang lahir dengan kondisi baik, menangis kuat, dan memiliki skor Apgar normal pasti terbebas dari kelainan jantung.
Skor Apgar merupakan penilaian awal untuk mengetahui kondisi umum bayi pada menit-menit pertama kehidupan. Skor ini bukan alat untuk mendeteksi kelainan struktur jantung.
"Pemeriksaan kondisi bayi setelah lahir perlu dilengkapi dengan skrining yang sesuai. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi," katanya.
Sementara itu salah satu pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan adalah pengukuran saturasi oksigen pada tangan dan kaki bayi. Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis. Jika dilakukan tepat waktu, hasilnya dapat mengubah perjalanan kesehatan anak ke depan.
Apabila ditemukan hasil skrining yang tidak normal atau terdapat kecurigaan klinis, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk ekokardiografi atau USG jantung, sesuai kebutuhan.
"Bila terdeteksi dan ditangani sejak dini, sebagian besar anak dengan kelainan jantung bawaan kini dapat tumbuh dan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya," ujarnya.
Orang tua juga perlu segera membawa bayi untuk mendapatkan pertolongan medis apabila terlihat kesulitan bernapas, mengalami kebiruan pada bibir atau lidah, atau menunjukkan tanda gangguan kondisi umum.
"Bayi dengan napas cepat yang menetap, kesulitan menyusu, atau kenaikan berat badan yang tidak optimal juga perlu dievaluasi oleh dokter," katanya. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!