• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pakar PYFA Ingatkan Risiko...

Pakar PYFA Ingatkan Risiko Cedera Lutut bagi Penderita Obesitas yang Memaksakan Lari

Jumat, 23 Okt 2026, 23:10 WIB

AKARTA – Penderita obesitas perlu berhati-hati saat mengikuti tren olahraga lari. Aktivitas dengan intensitas tinggi yang dilakukan tanpa persiapan fisik memadai dapat meningkatkan risiko nyeri sendi lutut hingga kerusakan tulang rawan. Karena itu, pemilihan jenis olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh untuk mencegah cedera.

Medical Expert PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), dr. Carlinda Nekawaty, mengingatkan bahwa lari tidak selalu menjadi pilihan olahraga yang tepat bagi setiap orang, terutama mereka yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori obesitas. Beban tubuh yang ditopang lutut serta benturan berulang ketika kaki menyentuh permukaan jalan dapat meningkatkan tekanan pada persendian.

Ket. Foto: Ilustrasi nyeri pada sendi lutut. Pakar PYFA mengingatkan risiko nyeri dan kerusakan sendi lutut pada penderita obesitas yang memaksakan diri berlari. Simak pilihan olahraga yang lebih aman untuk menjaga kesehatan sendi. — Sumber: PYFA

Jika dilakukan tanpa memperhatikan kesiapan otot dan sendi, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan cedera. Dalam jangka panjang, kerusakan tulang rawan juga dapat meningkatkan risiko osteoartritis, yaitu penyakit sendi degeneratif yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bergerak.

“Pada individu dengan hasil indeks massa tubuh obesitas, struktur anatomi lutut mereka sering kali tidak sanggup menahan beban berat tubuhnya sendiri saat melakukan olahraga intensitas tinggi seperti berlari. Oleh karena itu, saya sangat tidak menyarankan mereka untuk langsung menjadikan lari sebagai olahraga utama,” ujar dr. Carlinda dalam keterangan tertulis, Jumat (23/10/2026).

Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya popularitas olahraga lari di Indonesia. Berdasarkan rangkuman data IndonesiaMarathon.com yang dikutip PYFA, jumlah ajang lari nasional pada periode 2025–2026 mendekati 1.000 kegiatan. Tingginya jumlah kegiatan tersebut mencerminkan besarnya minat masyarakat terhadap olahraga lari, meskipun antusiasme itu perlu diimbangi dengan persiapan fisik yang memadai.

dr. Carlinda menyarankan individu dengan berat badan berlebih atau obesitas untuk memprioritaskan penurunan berat badan melalui aktivitas fisik berdampak rendah (low-impact). Berjalan santai dapat menjadi salah satu pilihan, sedangkan latihan kekuatan bisa dilakukan dengan menyesuaikan jenis gerakan dan intensitasnya terhadap kondisi fisik masing-masing.

Menurutnya, penguatan otot merupakan bagian penting dari persiapan sebelum seseorang meningkatkan intensitas latihan. Otot yang kuat membantu menopang tubuh dan mendukung stabilitas persendian. Peralihan dari gaya hidup minim aktivitas menuju rutinitas olahraga pun sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan langsung mengambil jarak lari yang jauh atau mengikuti latihan berintensitas tinggi.

Bagi individu yang sudah mengalami nyeri lutut atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, pemilihan olahraga sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga medis atau ahli fisioterapi. Langkah tersebut diperlukan agar aktivitas fisik yang dilakukan sesuai dengan kemampuan tubuh dan tidak memperburuk keluhan yang sudah ada.

Pentingnya upaya pencegahan tersebut juga berkaitan dengan prevalensi obesitas di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, prevalensi obesitas pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 23,4 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa obesitas merupakan persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, termasuk dalam upaya menjaga fungsi gerak dan kesehatan sendi.

Selain kesiapan fisik, PYFA menyoroti pemenuhan nutrisi untuk mendukung kesehatan tulang dan persendian. Perusahaan farmasi tersebut menyatakan akan melanjutkan edukasi mengenai olahraga yang aman dan sesuai dengan kondisi individu. PYFA juga memiliki sejumlah produk, yakni Caltron, Osteor Plus, dan Syalox 300 P, yang dipasarkan untuk membantu memelihara kesehatan tulang dan persendian.

Meski demikian, menjaga kesehatan sendi dan mencapai berat badan yang sehat memerlukan pendekatan menyeluruh. Pengaturan pola makan, pemilihan aktivitas fisik yang sesuai, serta evaluasi kondisi kesehatan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Dengan meningkatkan intensitas latihan secara bertahap dan memperhatikan kemampuan tubuh, masyarakat dapat membangun kebugaran sekaligus mengurangi risiko cedera lutut.

  • Obesitas
  • osteoartritis
  • Olahraga Lari
  • kesehatan tulang
  • Kesehatan Sendi
  • Nyeri Sendi Lutut
  • PYFA
  • Carlinda Nekawaty
  • Olahraga Low-Impact
  • Survei Kesehatan Indonesia 2023

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.