Korut Klaim Telah Kerahkan Pasukan ke Perbatasan

Kamis, 22 Okt 2026, 02:45 WIB

SEOUL - Korea Utara (Korut) menyatakan berencana untuk kembali mengaktifkan pengeras suara di sepanjang perbatasannya dengan Korea Selatan (Korsel). Hal itu disampaikan oleh saudara perempuan pemimpin Kim Jong-un yang berpengaruh pada Rabu (21/10), setelah ia memperingatkan bahwa Pyongyang telah memindahkan unit pasukan baru ke posisi siaga tempur.

Ketegangan antara Seoul dan Pyongyang meningkat tajam sejak Korsel bulan lalu menyalahkan ledakan di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) yang dijaga ketat yang memisahkan kedua negara tersebut pada ranjau darat yang ditanam oleh Korut, tuduhan yang telah disangkal oleh Pyongyang.

Ket. Foto: Dua tentara Korsel sedang berpatroli di sepanjang perbatasan dengan Korut pada Selasa (20/10). Pada Selasa militer Seoul memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap setiap provokasi lebih lanjut dari Korut. — Sumber: AFP/JUNG YEON-JE

"Tim pasukan taktis kami telah siaga tempur, dan dalam bulan Oktober 2026, pengeras suara untuk perang psikologis melawan Korsel akan beroperasi di sepanjang perbatasan," kata Kim Yo-jong.

Rencana untuk kembali menggunakan taktik pengeras suara terungkap setelah adanya inspeksi kesiapsiagaan di perbatasan pada Rabu oleh Kim Yo-jong dan Marsekal Angkatan Bersenjata, Pak Jong Chon.

"Kepemimpinan militer kami menggarisbawahi perlunya membuat para pemberontak itu menyadari bahwa unit-unit persenjataan baru kami telah mengambil posisi siap tembak," kata Kim Yo-jong dalam sebuah pernyataan oleh kantor berita KCNA.

Sementara itu, Marsekal Pak mengatakan kepada pasukannya bahwa sudah waktunya untuk mengorganisir kekuatan tembak yang cukup kuat untuk menanamkan teror di hati musuh.

"Jika pasukan musuh melakukan provokasi yang benar-benar mengancam keselamatan personel militer kita, maka pasukan perbatasan Korut harus mengambil tindakan militer yang sangat mahir, khusus, dan dahsyat," kata dia.

Sebelumnya pada Selasa (20/10), militer Seoul memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap setiap provokasi lebih lanjut dari Korut.

Peneliti senior di Institut Urusan Militer Korea, Hong Sung-pyo, mengatakan kepada AFP pada Rabu bahwa klaim pergerakan pasukan tersebut harus ditanggapi dengan serius.

"Korut tampaknya telah memindahkan posisi militer kecil ke front terdepan perbatasan," kata dia. "Dari perkembangan yang telah kita saksikan sejauh ini, ini tampaknya termasuk yang paling serius. Korut sebelumnya telah melakukan berbagai demonstrasi kekuatan militernya, tetapi sekarang tampaknya ini menyangkut pengerahan operasional," imbuh dia.

Korut baru-baru ini secara terpisah telah menguji sejumlah senjata, termasuk sistem torpedo berpemandu presisi tipe baru dan misil hipersonik jarak menengah, yang keduanya dikatakan menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Militer Seoul pada Selasa menuduh Pyongyang berupaya mengalihkan tanggung jawab atas meningkatnya ketegangan militer, sambil menegaskan penggunaan pengeras suara dan melepaskan tembakan peringatan sebagai tindakan defensif yang sah untuk mencegah pasukan Korut melintasi garis demarkasi militer dan untuk mengusir kembali pasukan yang telah melintasinya.

Ketua Kepala Staf Gabungan Korsel, Jin Yong-sung, juga memerintahkan militer untuk merespons dengan tekad yang kuat jika Korut menggunakan tindakan Seoul sebagai dalih untuk melakukan tindakan agresif.

Siaran Propaganda

Sementara itu rencana untuk mengaktifkan kembali siaran propaganda dengan pengeras suara merupakan  taktik yang sudah ada sejak Perang Korea.

Pada tahun 2024, Korut mengirim ribuan balon pengangkut sampah ke selatan, dengan alasan sebagai pembalasan atas balon propaganda anti-Korut yang diterbangkan oleh aktivis Korsel.

Kemudian Korsel menyalakan siaran pengeras suara di perbatasan untuk pertama kalinya dalam enam tahun dengan memperdengarkan lagu-lagu K-pop dan berita internasional, sementara Korut membalasnya dengan menyiarkan suara-suara aneh di sepanjang perbatasan, yang membuat warga Korsel merasa gelisah.

Siaran-siaran propaganda tersebut sebelumnya telah mendorong Pyongyang untuk mengancam serangan artileri terhadap unit pengeras suara Seoul.

Presiden Korsel, Lee Jae-myung, telah berjanji untuk menjalin hubungan dengan Korut dan akan terus mengejar dialog tanpa syarat apapun, sebuah perubahan sikap dari pendahulunya yang agresif.

Tahun lalu, Kementerian Pertahanan Korsel menyingkirkan pengeras suara dari sisi perbatasan mereka sebagai langkah praktis yang bertujuan untuk membantu meredakan ketegangan dengan Korut. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.