Harga Cabai Bisa Meledak Jelang Nataru, Bapanas Ungkap Biang Keroknya di Laut
📅 Kamis, 22 Okt 2026, 23:25 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
MAKASSAR - Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), harga cabai diprediksi jadi biang kerok inflasi. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan stok cabai nasional aman, tapi ada satu masalah besar yang bisa bikin harga meroket di daerah.
Sekretaris Utama Bapanas, Ito Hediarto, mengungkapkan masalahnya bukan di produksi, melainkan di distribusi, terutama jalur laut.
"Kalau untuk cabai sendiri cukup, tinggal kita lihat saja sisi distribusinya," kata Ito di sela Gerakan Pangan Murah (GPM) Hari Pangan Sedunia di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10/2026).
Menurut Ito, pengiriman cabai yang harus menyeberang laut kerap tersendat di perjalanan. Akibatnya pasokan di daerah tujuan anjlok dan harga langsung naik.
Fakta di lapangan mengkhawatirkan. Data BPS yang dipaparkan di rakor inflasi Senin (19/10/2026) menunjukkan hampir 90 persen kabupaten/kota di Indonesia masih mengalami kenaikan harga cabai.
"Di rapat-rapat inflasi setiap Senin, kita sampaikan, kita jaga harga-harga ini supaya tidak menjadi bagian dari inflasi," tegasnya. Bapanas mencatat cabai dan beras adalah dua komoditas yang langganan naik setiap akhir tahun.
Bahkan dalam telekonferensi GPM nasional, Wamentan Muhammad Saleh Mustafa menyebut cabai masih menjadi pemicu inflasi di Papua. Sementara Dinas Ketahanan Pangan Kalimantan Tengah mengaku sangat bergantung pasokan cabai, bawang merah dan bawang putih dari luar pulau.
Untuk mencegah harga cabai meledak saat Nataru, Bapanas menyiapkan jurus Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Program ini akan memobilisasi cabai dari daerah surplus ke daerah yang kekurangan agar ongkos kirim tidak membebani harga jual.
Saat ini realisasi anggaran FDP baru 69,5 persen. Artinya masih ada 30,5 persen anggaran yang siap digelontorkan untuk daerah yang mengalami lonjakan harga ekstrem.
Selain cabai, Bapanas juga memastikan beras aman selama Nataru. Bapanas telah berkoordinasi dengan Bulog agar beras SPHP dan bantuan pangan tersedia tiap bulan.
"Insya Allah tidak usah khawatir dari masyarakat, setiap bulannya akan ada beras di masyarakat, termasuk di bulan Desember," kata Ito.
Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut Bulog menguasai stok 4,56 juta ton beras per 21 Oktober 2026. Bulog juga ditugaskan menyalurkan 1,03 juta ton beras SPHP sepanjang 2026 dan 391.000 ton jagung SPHP untuk peternak.
Pada hari yang sama, Gerakan Pangan Murah digelar serentak di 2.236 titik se-Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!