Data Stunting Badung Naik Jadi 2,8 Persen, Wabup Ungkap Penyebab Sebenarnya

Kamis, 22 Okt 2026, 19:35 WIB

BADUNG - Pemerintah Kabupaten Badung, Bali memperkuat langkah-langkah strategis percepatan penurunan angka stunting melalui pemutakhiran data riil serta penjangkauan langsung ke rumah-rumah warga. 

“Kami melibatkan seluruh perangkat daerah, pemerintah desa/kelurahan, tenaga kesehatan, kader, hingga elemen masyarakat,” ujar Wabup Bagus Alit Sucipta dalam keterangannya Mangupura, Kamis (22/10).

Ket. Foto: Wabup Bagus Alit Sucipta (kiri). — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Badung

Ia menjelaskan langkah itu dilakukan menyusul adanya penyesuaian data prevalensi stunting berdasarkan ePPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).

Berdasarkan data valid tersebut, prevalensi stunting di wilayah Badung tercatat sebesar 2,5 persen atau sebanyak 440 balita pada tahun 2025, dan mengalami penyesuaian menjadi 2,8 persen atau sekitar 485 balita pada tahun 2026.

“Kenaikan angka prevalensi pada tahun ini sejatinya dipengaruhi oleh perluasan cakupan pendataan di lapangan,” jelas dia.

Menurut Wabup Alit Sucipta apabila pada tahun 2025 pendataan hanya mencakup balita yang hadir secara fisik di Posyandu, maka pada tahun 2026 ini jangkauan sistem pendataan diperluas secara masif hingga ke seluruh fasilitas kesehatan resmi di Badung.

Selain itu salah satu langkah prioritas utama saat ini adalah melakukan validasi dan pemutakhiran data riil di lapangan mengenai balita stunting serta keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

“Kader Integrasi Layanan Primer, Tim Pendamping Keluarga, dan Kader Pembangunan Manusia juga kami instruksikan untuk memastikan keakuratan data tersebut paling lambat pada akhir November 2026,” ungkap dia.

Ia menjelaskan selain pemutakhiran data, penguatan peran Posyandu juga menjadi fokus utama melalui penerapan pola jemput bola ke rumah warga.

Pihaknya juga memperkuat pelaksanaan intervensi pendampingan, pemantauan kesehatan, hingga edukasi gizi dan pemberian vitamin dilakukan sejak dini, mulai dari pasangan calon pengantin hingga masa kehamilan.

“Langkah preventif ini diharapkan dapat mencegah lahirnya bayi baru dengan kondisi berisiko stunting,” jelas Wabup Alit Sucipta.

Dari sisi penanganan medis, Dinas Kesehatan Badng juga mengintensifkan intervensi spesifik secara cepat dengan pelayanan medis optimal, termasuk penyediaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) bagi balita sesuai dengan indikasi medis yang ditemukan.

“Pemkab Badung juga merangkul perguruan tinggi untuk riset dan edukasi, Majelis Desa Adat (MDA) melalui pendekatan kearifan lokal, serta dunia usaha memanfaatkan program Corporate Social Responsibility (CSR/TJSL),” pungkas Wabup Alit Sucipta.

  • pemkab badung
  • stunting badung
  • eppgbm
  • kesehatan balita
  • posyandu badung

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.