Prancis Perpanjang Jam Malam

Rabu, 21 Okt 2026, 02:15 WIB

PARIS - Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyatakan bahwa Prancis kembali memberlakukan jam malam di tempat-tempat yang diperlukan mulai Selasa (20/10) agar pihak berwenang bisa memulihkan ketertiban setelah aksi demonstrasi pada akhir pekan lalu berubah menjadi kerusuhan massal.

Negara dengan perekonomian terbesar kedua di zona euro itu pada Sabtu (17/10) diguncang oleh beberapa aksi kekerasan jalanan terburuk dalam beberapa tahun terakhir, hanya enam bulan sebelum pemilihan untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron.

Ket. Foto: Petugas polisi Prancis memeriksa seorang pria saat diberlakukan jam malam sebagian di Kota Lyon pada Senin (19/10). Pemerintah Prancis memperpanjang jam malam di sejumlah wilayah yang belum kondusif pada Selasa (20/10). — Sumber: AFP/OLIVIER CHASSIGNOLE

Gambar-gambar bentrokan, massa yang menjarah toko-toko, dan bangunan publik yang dibakar beredar di seluruh dunia, mendorong beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Jerman, untuk mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negara mereka di Prancis.

Setelah dituduh gagal mengantisipasi dan mengatasi kekerasan di jalanan, pemerintah Prancis telah berjanji untuk memulihkan ketertiban dan telah mengumumkan jam malam parsial di Paris dan beberapa kota lainnya pada Senin (19/10) lalu.

Pada malam hari, sebuah helikopter terpantau terbang di atas Place de la Republique di Ibu Kota Prancis, salah satu pusat kerusuhan, menyorotkan lampu sorot yang kuat ke seluruh alun-alun untuk memantau kepatuhan terhadap jam malam.

Presiden Macron, yang saat ini sedang melakukan kunjungan ke negara-negara Teluk dengan tujuan mengamankan pasokan minyak dan solar dalam upaya menurunkan harga, telah mengakui kekurangan dalam penanganan aksi protes tersebut.

Prancis saat ini sedang bergulat dengan berbagai krisis, termasuk utang publik yang tinggi, kemarahan atas kenaikan harga yang meroket, dan bangkitnya sayap kanan ekstrem.

Kerusuhan pada Sabtu pecah setelah sekitar setengah juta orang turun ke jalan di seluruh Prancis untuk mengecam tingginya biaya hidup, menyusul empat pekan protes di sekolah-sekolah.

Pemerintah Prancis sendiri telah menjadwalkan serangkaian pertemuan darurat lainnya pada Selasa, termasuk pembicaraan yang melibatkan perwakilan dari platform media sosial utama serta perundingan dengan serikat pekerja yang dijadwalkan digelar pada Rabu (21/10).

“Perpanjangan jam malam akan diputuskan jika situasi membutuhkannya," ucap PM Lecornu.

Beberapa kota, termasuk Paris, Bordeaux di barat daya, dan Nice di French Riviera, memberlakukan jam malam parsial pada Senin sebagai respons terhadap kerusuhan di perkotaan yang terjadi setelah demonstrasi mahasiswa selama beberapa pekan terkait kondisi pembelajaran yang buruk di sekolah menengah.

Jam malam khusus untuk anak di bawah umur akan diberlakukan di beberapa distrik kota pelabuhan Marseille di selatan mulai Selasa malam, setidaknya hingga Jumat, kata sebuah narasumber yang mengetahui masalah tersebut kepada AFP.

Penangkapan Perusuh

Sementara itu dilaporkan pasukan keamanan pada Selasa telah menangkap seorang pria yang diyakini terkait dengan kelompok ultrakiri yang melakukan pembakaran balai kota bersejarah di Kota Limoges, yang kehancurannya telah menjadi simbol kekerasan.

“Polisi antiteror pun telah dipanggil untuk menyelidiki dugaan pembakaran tersebut. Mereka telah menahan seorang pria berusia 34 tahun di dekat Kota Val d'Issoire,” ungkap Kantor Kejaksaan Limoges.

Di seluruh negeri, lebih dari 2.500 orang telah ditahan oleh polisi sejak akhir pekan, dan 67 orang telah dipenjara serta beberapa demonstran mengalami luka serius.

Atas terjadinya aksi unjuk rasa yang rusuh, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez telah menawarkan pengunduran dirinya pada Minggu, namun Presiden Macron menolak tawaran  Nunez.

Sedangkan Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, telah menjanjikan langkah-langkah dukungan untuk para pemilik toko dan pengrajin yang bisnisnya terkena dampak dari aksi unjuk rasa yang rusuh ini.

Patrick Martin, kepala kelompok lobi bisnis Medef Prancis, menuduh negara telah gagal selama kerusuhan perkotaan yang menimpa setidaknya 3.000 bisnis. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.