• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lubang Misterius Bulan, Ad...

Lubang Misterius Bulan, Ada Jejak Vulkanisme Purba yang Dicari NASA

Rabu, 21 Okt 2026, 05:22 WIB

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mendukung sebuah proyek penelitian untuk mengungkap kemungkinan keberadaan gua besar di bawah permukaan Bulan. Penyelidikan ini akan berfokus pada lubang besar bernama Marius Hills Pit, yang berada di salah satu kawasan dengan aktivitas vulkanik paling beragam di Bulan. Melalui penelitian ini, para ilmuwan berharap dapat memahami lebih jauh sejarah pembentukan permukaannya, seperti aktivitas aliran lava yang terjadi miliaran tahun lalu.

Proyek yang dipimpin Planetary Science Institute (PSI) itu diberi nama Geophysical Instruments for Marius Lunar Pit Investigation (GIMLI). Tim peneliti akan mengerahkan sejumlah instrumen geofisika untuk memeriksa kondisi bawah permukaan di sekitar lubang tersebut. Salah satu pertanyaan utama yang ingin dijawab adalah apakah Marius Hills Pit terhubung dengan rongga bawah tanah berukuran besar, termasuk kemungkinan terowongan lava yang memanjang jauh dari lubang di permukaan.

Ket. Foto: Tiga gambar lubang Marius Hills di Bulan, yang dipotret oleh Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA. Lubang ini memiliki kedalaman sekitar 34 meter dan lebar 65 kali 90 meter. Marius Hills dan lubang-lubang lainnya mungkin merupakan 'lubang cahaya' menuju tabung lava yang luas. — Sumber: NASA/GSFC/Universitas Negeri Arizona

Selama ini, para ilmuwan telah mengumpulkan bukti dari pengamatan wahana yang mengorbit Bulan mengenai kemungkinan keberadaan gua dan terowongan lava di bawah permukaannya. Namun, pengamatan dari orbit belum cukup untuk memastikan bentuk, ukuran, dan kesinambungan struktur tersebut. Karena itu, penelitian langsung di permukaan menjadi langkah penting untuk menguji dugaan yang selama ini berkembang berdasarkan data penginderaan jarak jauh.

Gua bawah tanah di Bulan bukan sekadar fenomena geologi yang menarik. Struktur tersebut juga berpotensi menjadi sumber informasi penting tentang sejarah vulkanisme Bulan sekaligus mendukung eksplorasi manusia pada masa depan. Jika keberadaan gua berukuran besar dapat dikonfirmasi, para ilmuwan akan memiliki kesempatan untuk mempelajari lingkungan bawah tanah yang relatif terlindung dari kondisi ekstrem di permukaan.

Gunakan Radar dan

Sensor Seismik

Untuk menyelidiki kemungkinan adanya rongga bawah tanah, GIMLI akan menggunakan wahana pendarat dan penjelajah Bulan yang membawa berbagai instrumen penelitian. Perangkat tersebut dirancang untuk mengumpulkan data dari beberapa metode pengukuran sehingga kondisi bawah permukaan dapat dianalisis secara lebih menyeluruh.

Salah satu instrumen utama adalah radar penembus tanah atau ground-penetrating radar. Perangkat ini menggunakan gelombang radio yang dipancarkan ke bawah permukaan. Gelombang tersebut akan dipantulkan ketika bertemu dengan batas antara material yang memiliki sifat berbeda. Pola pantulan yang diterima kembali dapat membantu ilmuwan mengenali lapisan geologi, perubahan material, dan kemungkinan adanya rongga di bawah tanah.

Selain radar, tim akan menggunakan sensor seismik untuk merekam perambatan getaran di dalam tanah. Berbeda dengan pendekatan yang hanya mengandalkan getaran alami, metode yang direncanakan dalam GIMLI menggunakan sumber getaran yang sengaja dihasilkan untuk mempelajari karakteristik bawah permukaan. Perubahan kecepatan dan pola perambatan gelombang seismik dapat memberikan petunjuk mengenai kepadatan material, struktur batuan, serta keberadaan ruang kosong.

Metode seismik aktif ini menjadi salah satu aspek yang menarik bagi tim peneliti. Pemimpin GIMLI, Than Putzig, yang menjabat sebagai wakil direktur sekaligus ilmuwan senior PSI, mengatakan bahwa metode tersebut pernah digunakan dalam survei seismik di Bulan pada era misi Apollo. Namun, pendekatan itu relatif lama tidak diterapkan kembali dalam penelitian planet.

Putzig menilai penggabungan metode seismik aktif dengan radar penembus tanah dan pengukuran gravitasi akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai struktur bawah permukaan. Menurut dia, kombinasi berbagai teknik tersebut berpotensi membantu tim mendeteksi terowongan lava yang diperkirakan membentang dari Marius Hills Pit.

Instrumen lain yang akan digunakan adalah gravimeter, yakni perangkat untuk mengukur variasi medan gravitasi. Keberadaan rongga besar dapat memengaruhi distribusi massa di bawah permukaan sehingga menghasilkan perubahan gravitasi yang sangat kecil. Data ini dapat dibandingkan dengan hasil radar dan pengukuran seismik untuk menguji apakah suatu anomali benar-benar menunjukkan adanya rongga.

Tim juga akan menggunakan kamera untuk mengambil gambar permukaan dan dinding lubang. Citra tersebut dapat membantu peneliti mengidentifikasi lapisan batuan yang terlihat, memperkirakan kondisi geologi setempat, serta menghubungkan temuan di permukaan dengan data dari instrumen yang memeriksa bagian bawah tanah.

Simpan Petunjuk Aktivitas Vulkanik

Marius Hills Pit menjadi lokasi yang penting karena berada di kawasan Marius Hills, salah satu wilayah Bulan yang memiliki sejarah aktivitas vulkanik kompleks. Lubang tersebut membuka akses visual ke lapisan material yang biasanya tersembunyi di bawah permukaan. Dindingnya memperlihatkan lapisan aliran lava dan regolit, yaitu material lepas yang menutupi permukaan Bulan.

Lapisan-lapisan tersebut dapat menjadi semacam arsip geologi yang merekam perubahan lingkungan Bulan sepanjang sejarahnya. Dengan mempelajari urutan lapisan, ketebalan, dan karakteristik materialnya, para ilmuwan dapat menyelidiki bagaimana lava bergerak dan mengendap di kawasan tersebut. Penelitian juga berpotensi membantu menentukan apakah aktivitas vulkanik berlangsung dalam beberapa episode yang dipisahkan oleh jeda panjang.

Informasi ini penting untuk memahami evolusi interior Bulan. Aktivitas vulkanik menunjukkan bahwa bagian dalam Bulan pada masa lalu memiliki energi panas yang cukup untuk menghasilkan dan menggerakkan magma ke permukaan. Dengan mengetahui bagaimana aliran lava terbentuk dan menyebar, ilmuwan dapat memperbaiki pemahaman mengenai proses yang membentuk dataran vulkanik Bulan serta perubahan kondisi interiornya sepanjang waktu.

Apabila GIMLI berhasil menemukan gua atau terowongan lava, struktur tersebut dapat memberikan petunjuk tambahan tentang proses pembentukannya. Terowongan lava umumnya terbentuk ketika bagian luar aliran lava mendingin dan mengeras, sedangkan material cair di bagian dalam terus mengalir. Setelah suplai lava berhenti atau aliran beralih ke tempat lain, bagian dalam dapat mengosongkan diri dan meninggalkan saluran memanjang.

Struktur serupa ditemukan di berbagai kawasan vulkanik di Bumi. Namun, kondisi gravitasi Bulan yang jauh lebih rendah dan lingkungan permukaan yang berbeda dapat memengaruhi pembentukan serta kestabilan rongga bawah tanah. Karena itu, penemuan terowongan lava di Bulan akan memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk membandingkan proses vulkanik di dua benda langit dengan kondisi lingkungan yang berbeda.

Gareth Morgan, ilmuwan senior PSI sekaligus wakil peneliti utama GIMLI, mengatakan bahwa konfirmasi keberadaan terowongan lava berukuran besar akan memberikan wawasan tentang cara kerja vulkanisme di Bulan. Menurut dia, pengetahuan mengenai tabung lava di Bumi dapat digunakan untuk membantu memahami sejarah geologi Bulan apabila struktur serupa berhasil diidentifikasi di sana.

Mendukung Eksplorasi Manusia

Selain kepentingan ilmiah, pencarian gua bawah tanah di Bulan juga berkaitan dengan rencana eksplorasi manusia dalam jangka panjang. Permukaan Bulan menghadirkan sejumlah tantangan bagi astronaut, mulai dari paparan radiasi kosmik hingga perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam. Permukaan tersebut juga tidak memiliki atmosfer tebal seperti Bumi yang dapat memberikan perlindungan alami terhadap lingkungan luar angkasa.

Rongga bawah tanah berpotensi menawarkan perlindungan alami dari sebagian kondisi tersebut. Dinding batuan dapat mengurangi paparan radiasi dan membantu meredam perubahan suhu dibandingkan dengan lingkungan terbuka. Jika tersedia ruang yang cukup besar dan kondisi strukturnya memungkinkan, gua atau terowongan lava dapat dipertimbangkan sebagai lokasi untuk menempatkan peralatan, fasilitas penelitian, atau habitat bagi astronaut.

Meski demikian, keberadaan rongga saja belum cukup untuk menjadikannya tempat tinggal. Para peneliti masih perlu mengetahui ukuran, bentuk, kestabilan dinding, kondisi material, serta tingkat kemudahan aksesnya. Lingkungan di dalam gua juga perlu diperiksa untuk mengetahui apakah terdapat risiko geologi yang dapat membahayakan operasi di sekitarnya.

Karena itu, GIMLI pada dasarnya merupakan misi penelitian geofisika, bukan proyek pembangunan habitat Bulan. Temuan dari misi ini dapat menjadi salah satu landasan ilmiah untuk menilai potensi gua bawah tanah dalam mendukung kegiatan eksplorasi berikutnya. Penelitian tersebut juga dapat membantu menentukan lokasi mana yang layak dipelajari lebih lanjut oleh misi robotik maupun misi berawak pada masa depan. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.