• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Film Clayface Hadirkan Hor...

Film Clayface Hadirkan Horor Brutal di Semesta Batman, Wajah Rusak Jadi Teror

Rabu, 21 Okt 2026, 06:30 WIB

London – Film superhero sebelumnya telah beberapa kali mengeksplorasi unsur mengerikan, tetapi jarang yang menampilkan adegan berdarah dengan intensitas seperti Clayface, film terbaru DC Studios dari semesta Batman.

Di tengah genre superhero yang tengah kesulitan menarik antusiasme penonton, penjahat super Batman yang mampu mengubah bentuk tubuhnya itu menghadirkan sesuatu yang sangat visceral, yakni horor yang terasa nyata dan mengusik fisik.

Ket. Foto: Tom Rhys Harries dan James Watkins menghadiri pemutaran khusus untuk penggemar film horor tubuh produksi DC Studios, Clayface, di Toronto. — Sumber: AFP

"Saya tidak hanya menginginkan adegan menakutkan yang mekanis atau sekadar kejutan mendadak. Saya ingin menghadirkan ketakutan yang meresap ke dalam diri penonton," kata sutradara asal Inggris, James Watkins, kepada AFP.

"Horor tubuh mungkin merupakan salah satu bentuk ketakutan yang paling mudah kita rasakan, karena kita semua takut terhadap hal-hal yang bisa terjadi pada tubuh kita."

Aktor asal Wales, Tom Rhys Harries, 36 tahun, yang memerankan Matt Hagen, seorang bintang film yang tengah menanjak kariernya, mengalami kerusakan wajah mengerikan akibat ulah seorang bos mafia dan kemudian bertekad melakukan balas dendam. Menurut Harries, karakter tersebut sangat cocok dengan genre horor tubuh.

"Karakter Clayface memang bisa dibilang sangat cocok dengan genre horor tubuh," katanya.

Film tersebut menjadi pengalaman pertama Harries terjun ke genre horor. Namun, ia menghadapi tantangan itu seperti menjalani peran akting lainnya, meskipun harus menghabiskan waktu berjam-jam di kursi rias sebelum beberapa sesi pengambilan gambar.

"Jika sebuah adegan bisa kami rekam menggunakan prostetik, sering kali kami memilih cara itu," kata Watkins, alih-alih mengandalkan efek visual.

"Dengan begitu, jika perlu menambahkan efek tertentu, kami sudah memiliki dasar yang sangat kuat. Selain itu, pengambilan gambar secara langsung memungkinkan kami mendapatkan reaksi nyata dari semua orang saat itu juga."

Harries mengaku tidak sabar untuk melepaskan prostetik yang dikenakannya. Ia bahkan mengakui kerap merobeknya sendiri setiap kali pengambilan gambar selesai, hingga mendapat teguran dari tim tata rias.

"Di suatu tempat, ada gudang kostum yang kantong-kantongnya berisi gumpalan wajah saya," candanya.

Komitmen yang sama terhadap detail visual dan tekstur juga memengaruhi pemilihan lokasi film di wilayah utara Liverpool, yang disulap menjadi Kota Gotham.

"Ketika berada di tepi Sungai Mersey, dengan hujan yang turun dan suasana yang begitu kuat, Anda benar-benar bisa merasakannya," kata Watkins.

"Tempat itu menciptakan atmosfer dan suasana tertentu, tetapi Anda tidak bisa menciptakannya di dalam studio."

Filosofi tersebut juga diterapkan Watkins dalam menanggapi kekhawatiran industri perfilman terhadap kecerdasan buatan (AI).

"Saya masih merasa bahwa percakapan yang saya lakukan dengan orang lain adalah percakapan antarmanusia, karena film pada akhirnya bertumpu pada emosi manusia," tegasnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.