• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Cara Mengatasi Bentrok Hob...

Cara Mengatasi Bentrok Hobi Orangtua dan Kepentingan Anak

Rabu, 21 Okt 2026, 00:54 WIB

JAKARTA – Keluarga muda, sekarang banyak yang memiliki hobi. Tak heran kadang ada konflik antara menyalurkan atau menjalankan hobi dan mengurus kepentingan anak bagi sejumlah orangtua. Lalu bagaimana solusinya? Psikolog mengingatkan orang tua untuk membangun kerja sama pengasuhan agar tetap dapat meluangkan waktu untuk diri sendiri atau me time dan melakoni hobi tanpa mengabaikan keselamatan dan kebutuhan anak.

Psikolog anak dan remaja Sani B. Hermawan, S.Psi, saat dihubungi antara di Jakarta, Selasa, mengatakan kesempatan orang tua untuk memiliki waktu pribadi turut dipengaruhi oleh ketersediaan dukungan pengasuhan atau support system.

Ket. Foto: jangan ditinggal, titipkan — Sumber: ist

"Orang tua itu sebenarnya masih bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Cuma, kalau support system-nya tidak banyak, peluang orang tua memiliki me time mungkin akan jadi lebih sedikit," kata Direktur Lembaga Psikologi Daya Insan itu.

Kerja sama pengasuhan dapat dilakukan bersama pasangan, kakek dan nenek, saudara, maupun pengasuh yang dapat dipercaya. Orang tua perlu mempertimbangkan kemampuan orang yang diminta membantu agar anak tetap mendapat pengawasan yang memadai.

Sani mengatakan orang tua juga dapat memanfaatkan waktu singkat ketika anak tidur untuk melakukan kegiatan yang disukai, seperti menonton, membaca, atau menjalankan hobi. Namun, orang tua perlu bersikap realistis terhadap waktu yang tersedia, terutama ketika anak masih bayi dan membutuhkan pengawasan intensif.

Dia juga menyarankan anak dikenalkan secara bertahap kepada orang dewasa lain yang aman dan dipercaya agar terbiasa berinteraksi dengan pengasuh selain orang tuanya.

Senada dengan pendapat Sani, psikolog klinis anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, yang dihubungi terpisah, mengatakan pengasuhan perlu dialihkan secara jelas kepada orang dewasa yang dipercaya, bersedia, dan mampu mengawasi anak.

"Pastikan orang yang dititipi memahami bahwa ia sedang bertanggung jawab menjaga anak, bukan sekadar berada di dekatnya," kata psikolog dari Lembaga Psikologi Universitas Indonesia itu.

Sebelum meninggalkan anak bersama pengasuh, orang tua sebaiknya menjelaskan dengan bahasa sederhana siapa yang akan menemani anak dan kapan mereka akan kembali. Orang tua juga perlu menghindari kebiasaan pergi diam-diam serta meluangkan waktu untuk kembali berinteraksi dengan anak setelahnya.

Jika akan melakukan kegiatan di luar rumah, misalnya mendaki gunung, Vera mengingatkan agar orang tua agar membuat rencana dan target perjalanan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta keselamatan anak.

Keselamatan anak ketika orang tua memerlukan me time atau menjalani hobi mencuat di media sosial setelah kasus seorang balita terjatuh dan meninggal di sebuah hotel di Samarinda, Kalimantan Timur, ketika orang tuanya sedang sarapan dan seorang anak ditinggal sendirian di tenda saat orang tuanya mendaki Gunung Prau, Jawa Tengah.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.