Macron Kecam Kerusuhan Prancis dan Perintahkan Evaluasi Keamanan
📅 Selasa, 20 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SParis - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam aksi kekerasan yang tidak terkendali dalam demonstrasi menentang tingginya biaya hidup di berbagai wilayah negara itu. Ia juga memerintahkan evaluasi terhadap penanganan keamanan setelah kerusuhan pada akhir pekan menyebabkan ribuan orang ditangkap, ratusan toko dijarah, dan hampir 1.000 personel keamanan terluka.
Seperti dilansir dari AFP, dalam pidatonya kepada masyarakat pada Minggu (18/10), Macron menegaskan pemerintah akan meningkatkan keamanan, tetapi tidak mengumumkan langkah drastis seperti penetapan keadaan darurat atau pemberlakuan jam malam.
"Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu," kata Macron. Ia menekankan perlunya membedakan demonstran yang menyampaikan "tuntutan yang sah" dengan pihak-pihak "yang menghancurkan, merusak, dan menjarah".
"Mereka yang melakukan perusakan harus membayar," ujarnya.
Macron berjanji pemerintah akan bersikap "tanpa kompromi" terhadap "para penghasut dari kelompok-kelompok sayap kiri ekstrem, yang bergabung dengan banyak pelaku kriminal" dan "melancarkan kekerasan yang tidak terkendali di kota-kota kita".
Demonstrasi pada Sabtu (17/10) diikuti sekitar setengah juta orang di berbagai wilayah Prancis untuk memprotes tingginya biaya hidup. Namun, aksi tersebut berkembang menjadi salah satu gelombang kekerasan perkotaan terburuk di negara itu dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah kantor pemerintahan kota dan toko dijarah serta dibakar.
Lebih dari 2.500 orang ditangkap selama akhir pekan, sementara hampir 1.000 personel keamanan, termasuk polisi dan gendarmerie, mengalami luka-luka. Tujuh di antaranya dilaporkan mengalami luka serius. Sejumlah demonstran juga terluka, termasuk seorang peserta aksi yang tangannya hancur akibat ledakan granat pengendali massa yang ditembakkan polisi.
Kehilangan Kendali
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez pada Senin (19/10) mengakui bahwa kepolisian "kehilangan kendali" di sejumlah kota besar saat kerusuhan terjadi. Ia juga mengakui adanya "kurangnya antisipasi" dalam pengerahan personel keamanan, yang dinilai tidak memadai untuk menghadapi banyaknya perusuh dan penjarah di sekitar lokasi demonstrasi.
Nunez memperkirakan sekitar 60.000 personel penegak hukum telah dikerahkan di seluruh Prancis pada Sabtu.
"Pada Sabtu, di sejumlah kota besar, Anda tidak mungkin menatap mata para pemilik toko setelah ratusan toko dijarah dan mengatakan kepada mereka bahwa kami tidak kehilangan kendali," kata Nunez.
Ia menyatakan telah mengajukan pengunduran diri kepada Macron sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kerusakan yang terjadi.
"Mengingat kerusakan yang telah terjadi, sudah sepantasnya saya mengajukan pengunduran diri," ujarnya.
Namun, Macron menolak pengunduran diri tersebut dengan alasan perlunya kesinambungan kepemimpinan dalam penegakan hukum. Sebagai gantinya, ia memerintahkan Nunez mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan transparansi mengenai kegagalan perencanaan dan intelijen yang berkontribusi terhadap kerusuhan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!