Dokter Tiongkok Latih Tenaga Medis Indonesia, Akupunktur hingga Teknologi AI
Selasa, 20 Okt 2026, 03:00 WIBJakarta - Selama tiga bulan, gerakan sederhana pun menimbulkan rasa sakit pada tangan Dr. Hetty Helen Yanti. Kelegaan akhirnya ia rasakan setelah menjalani penanganan oleh praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (traditional Chinese medicine/TCM) di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Panglima Besar Soedirman, Jakarta.
"Tangan terasa lebih ringan dan lebih baik," kata Hetty, dengan raut wajah yang menunjukkan kelegaan. Setelah sebelumnya mencoba akupunktur, ia menilai teknik yang diterapkan tim medis Tiongkok terasa lebih presisi karena menargetkan sumber rasa sakitnya.
Pengalaman Hetty menggambarkan salah satu manfaat pertukaran keahlian medis lintas negara dalam meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan Indonesia, khususnya di bidang pengobatan tradisional.
Melalui inisiatif Belt and Road Acupuncture Station atau Stasiun Akupunktur Sabuk dan Jalur Sutra yang diluncurkan di RSPPN Panglima Besar Soedirman, para spesialis Tiongkok bekerja bersama tenaga medis Indonesia pada 13-15 Oktober.
Program tersebut meliputi pelatihan klinis, konsultasi kesehatan gratis bagi masyarakat, serta lokakarya praktik mengenai metode diagnostik TCM berbantuan kecerdasan buatan (AI).
Diselenggarakan oleh Shenzhen Shouzheng Innovative TCM Development Foundation, pelatihan itu tidak hanya membahas teori, tetapi juga memberikan panduan mengenai keselamatan penggunaan jarum, prosedur penanganan kondisi darurat, dan ketepatan penentuan titik akupunktur.
Para dokter dan mahasiswa turut mempraktikkan teknik akupunktur untuk menangani masalah bahu dan lutut, serta metode khusus pada kulit kepala dan perut.
Bagi peserta Indonesia, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menjembatani pengetahuan teoretis dengan praktik klinis secara langsung di bawah bimbingan para ahli.
Natalia Santoso, mahasiswa yang mempelajari akupunktur dan pengobatan herbal di Jakarta, mengatakan pelatihan tersebut membantunya memahami teknik yang sebelumnya sulit dipelajari.
"Mempelajari TCM, yang kami anggap sulit, ternyata tidak begitu sulit setelah kita memahami poin-poin utama atau titik-titik akupunktur," katanya.
Natalia menambahkan, penjelasan langsung dari para ahli yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa utama membantu memperdalam pemahamannya dibandingkan hanya membaca buku teks terjemahan berbahasa Indonesia.
Selain teknik pengobatan tradisional, program itu memperkenalkan perangkat diagnostik TCM berbasis AI. Peserta mendapat kesempatan melihat penerapan teknologi digital dalam mendukung proses pemeriksaan menurut pendekatan pengobatan tradisional Tiongkok.
Kepala Departemen TCM RSPPN Panglima Besar Soedirman, Hetty Helen Yanti, mengatakan kolaborasi lintas negara memungkinkan dokter setempat mengasah keterampilan, terutama dalam menentukan titik akupunktur secara presisi.
Pertukaran Keahlian
Sementara itu, Hafna Rosita dari Konsil Kesehatan Tradisional Indonesia menilai pertukaran keahlian tersebut membuka peluang untuk meningkatkan kompetensi praktisi lokal sekaligus mengembangkan potensi pengobatan tradisional Indonesia.
"TCM telah berkembang pesat, dengan pendokumentasian, analisis, dan penelitian yang ekstensif," ujar Hafna, seraya menyoroti potensi pengobatan tradisional Indonesia yang masih dapat dikembangkan.
Menurut dia, kedua sistem pengobatan tersebut berpeluang saling melengkapi, misalnya melalui penerapan teknik akupunktur yang presisi bersama pemanfaatan kekayaan ramuan herbal Indonesia.
Dokter David Song dari Divisi Pengobatan Tradisional Indonesia dan Tiongkok (Traditional Indonesian and Chinese Medicine/TICM) di RSPPN Panglima Besar Soedirman mengatakan kolaborasi itu bertujuan memadukan pengobatan tradisional Indonesia dengan praktik TCM yang telah berkembang selama ribuan tahun.
"Melalui divisi TICM di RSPPN Panglima Besar Soedirman, kami berupaya mengintegrasikan ramuan herbal lokal Indonesia, yang dikenal sebagai jamu, dengan kearifan TCM yang telah ada selama ribuan tahun, guna melayani kebutuhan layanan kesehatan masyarakat kita dengan lebih baik," ujar David.
Ke depan, David meyakini kemitraan dengan berbagai institusi Tiongkok dapat memperluas pertukaran pengetahuan di bidang teknologi medis, penelitian, dan pelatihan klinis.
Direktur Departemen Medis Wenzhi Traditional Chinese Medicine, Chen Zhigeng, yang mewakili perusahaan layanan kesehatan digital berbasis AI yang berfokus pada TCM, mengatakan hasil program tersebut melampaui ekspektasi. Ia berharap kerja sama serupa dapat berlanjut.
Menurut Chen, kegiatan tersebut menjadi jembatan pertukaran medis dan budaya yang memungkinkan tenaga kesehatan Tiongkok dan Indonesia saling belajar sekaligus memperkuat kemitraan jangka panjang di bidang pengobatan tradisional.
- pengobatan tradisional
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.