Tas Frakta dari Ikea yang Ikonik Kini Gunakan 90 Persen Material Daur Ulang
Senin, 19 Okt 2026, 19:58 WIBJAKARTA â Tas belanja biru Frakta yang menjadi salah satu produk ikonik Ikea memasuki usia ke-30 dengan pembaruan pada material dan proses produksinya. Tas yang diperkenalkan pada 1996 ini kini menggunakan minimal 90 persen material daur ulang, dengan tetap mempertahankan desain, fungsi, kekuatan, dan harga yang terjangkau.
Ikea mencatat lebih dari 44 juta tas Frakta terjual setiap tahun, menjadikannya produk perlengkapan rumah dengan penjualan tertinggi di perusahaan tersebut. Selain digunakan untuk membawa belanjaan, tas ini juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan sehari-hari, mulai dari membawa cucian dan menyimpan barang hingga memilah sampah daur ulang serta membantu proses pindahan rumah.
Pembaruan Frakta dikembangkan oleh tim Ikea di Swedia selama beberapa tahun. Upaya tersebut berfokus pada peningkatan kandungan material daur ulang tanpa mengubah karakteristik yang membuat tas berwarna biru itu dikenal luas.
âFrakta adalah salah satu produk Ikea yang paling ikonis dan dicintai. Karena itu, memperbaruinya berarti memastikan bahwa hal-hal yang membuatnya istimewa tetap terjaga. Kami ingin meningkatkan penggunaan material daur ulang tanpa mengorbankan fungsi, kesederhanaan, desain khas, maupun harga yang terjangkau,â ujar Ririn Basuki, Public Relations Manager Ikea Indonesia melalui keterangannya pada hari Senin (19/10).
Tas Frakta berukuran 36 liter dan 71 liter kini dibuat menggunakan minimal 90 persen material daur ulang. Setidaknya 70 persen materialnya berasal dari plastik yang sebelumnya digunakan dalam industri kemasan makanan, seperti kantong jumbo untuk susu bubuk dan wadah makanan.
Sejumlah kecil pigmen biru tetap digunakan untuk mempertahankan warna khas Frakta. Sementara itu, polipropilena (PP) baru atau virgin masih digunakan dalam jumlah minimal untuk membantu menjaga kekuatan tas agar mampu membawa beban hingga 25 kilogram.
Perubahan Material dan Proses Produksi
Selain meningkatkan penggunaan material daur ulang, Ikea juga mengubah desain dan proses pembuatan Frakta. Badan tas dan tali pegangannya kini menggunakan satu jenis material, yakni polipropilena daur ulang. Penyederhanaan komposisi ini ditujukan untuk mendukung penggunaan sumber daya yang lebih efisien.
Proses produksi tas terbaru juga sepenuhnya otomatis untuk meningkatkan efisiensi, menjaga konsistensi kualitas, dan mengurangi limbah. Jika sebelumnya tali pegangan dijahit secara manual, kini bagian tersebut menyatu langsung dengan material tas.
Perubahan tersebut mengurangi kebutuhan benang dalam proses produksi. Ikea memperkirakan penghematan benang secara akumulatif mencapai sekitar 89.000 kilometer dalam setahun, atau cukup untuk melilit Bumi hampir dua kali.
Sisa material dari proses produksi juga dikumpulkan untuk dimasukkan kembali ke lini produksi dan diolah menjadi tas baru. Dengan demikian, material yang tersisa dapat dimanfaatkan kembali, bukan langsung menjadi limbah.
Menurut Ikea, otomatisasi dan efisiensi proses produksi turut membantu menekan biaya tambahan yang muncul dari pemrosesan, penyortiran, serta pengendalian mutu material polipropilena daur ulang. Langkah tersebut dilakukan agar Frakta tetap dapat dijual dengan harga terjangkau.
Dikembangkan Sejak 2017
Peningkatan kandungan material daur ulang Frakta merupakan hasil pengembangan yang melibatkan pengembang produk, insinyur, dan pemasok Ikea. Kolaborasi tersebut dimulai pada 2017 dengan tujuan meningkatkan penggunaan material daur ulang tanpa mengurangi daya tahan dan kualitas produk.
Pada 2020, kandungan material daur ulang pada Frakta telah mencapai 60 persen. Angka tersebut kini meningkat menjadi minimal 90 persen.
Ririn mengatakan, peningkatan kandungan material daur ulang menghadirkan sejumlah tantangan teknis, terutama karena polipropilena daur ulang memerlukan proses pengolahan dan pengendalian mutu tambahan. Tim pengembang juga harus merancang ulang beberapa bagian tas agar dapat menggunakan satu jenis material tanpa mengurangi kekuatan maupun keterjangkauannya.
âMeningkatkan kandungan material daur ulang hingga mencapai angka ini menghadirkan tantangan teknis tersendiri. Melalui pengujian selama bertahun-tahun dan kolaborasi erat dengan pemasok, tim berhasil mengubah cara Frakta dibuat sambil mempertahankan ciri khasnya,â kata Ririn.
Tiga Dekade Tas Frakta
Sejak diluncurkan pada 1996, Frakta dirancang sebagai tas praktis untuk membawa barang belanjaan. Namun, penggunaan produk ini berkembang seiring kebutuhan pelanggan. Ukurannya yang besar dan desainnya yang sederhana membuat tas tersebut dapat digunakan untuk beragam aktivitas di rumah maupun saat bepergian.
Memasuki usia ke-30, pembaruan Frakta menjadi bagian dari upaya Ikea meningkatkan pemanfaatan material daur ulang dan mengurangi ketergantungan pada plastik baru berbasis fosil.
Tas Frakta dengan material terbaru kini tersedia di toko-toko Ikea, baik secara langsung maupun melalui kanal penjualan daring. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi Ikea Indonesia di ikea.co.id dan akun media sosial @IKEA_id.
- industri ritel
- Inovasi Produk
- Keberlanjutan
- Ikea
- ekonomi sirkular
- Produk ramah lingkungan
- Tas Frakta
- Material Daur Ulang
- Pengurangan Limbah
- Plastik Daur Ulang
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
IKI Masih di 51,93, Industri RI Tetap Ngegas Meski Produksi Melambat
-
Penulis Horor Jepang Sesuji-sensei Sapa Pembaca Indonesia di IIBF 2026
-
Javier Siverio Mengamuk Lagi, Gol Tunggalnya Bawa PSMS Bungkam Adhyaksa FC
-
Gubernur NTB Bergerak! Warga Mataram Diduga Berada di Myanmar, Ini yang Terjadi
-
Pemakzulan Bupati Gowa Dikabulkan MA, Guru Besar Tadulako Ingatkan Kepala Daerah soal Etika
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.