Perang Perbesar Tekanan Harga dan Tingkatkan Biaya Ekonomi

Senin, 19 Okt 2026, 03:05 WIB

JAKARTA - Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan, pada pekan lalu mengatakan perang, konflik, dan gangguan rantai pasok meningkatkan beban kemanusiaan dan biaya ekonomi, sekaligus memperbesar tekanan harga. 

Al-Jadaan, yang juga Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional (IMFC) Dana Moneter Internasional (IMF), menyampaikan hal tersebut setelah pertemuan ke-54 komite itu di Bangkok, Thailand.

Ket. Foto: Menteri Keuangan Arab, Saudi Mohammed Al-Jadaan. — Sumber: Lillian SUWANRUMPHA/AFP

“Perang dan konflik menimbulkan dampak kemanusiaan yang berat, disertai biaya ekonomi yang signifikan dan dampak yang meluas. Ketegangan akibat ancaman dan gangguan rantai pasok meningkatkan ketidakpastian serta tekanan harga. Tantangan ini sangat berat terutama bagi negara-negara berpendapatan rendah dan negara-negara yang rentan,” kata Al-Jadaan.

Ia mengatakan, perekonomian global mampu menghadapi serangkaian guncangan baru-baru ini dengan lebih baik daripada perkiraan.

Namun, daya tahan yang menjadi penyangga perekonomian telah menyusut secara nyata. Karena itu, kemampuan ekonomi global untuk menghadapi guncangan baru tidak lagi dapat dijamin.

Komite tersebut memperingatkan bahwa konflik yang semakin meluas, meningkatnya ketegangan perdagangan, tingginya utang publik, dan kenaikan biaya pembiayaan kembali utang dapat memperbesar risiko ekonomi dan keuangan.

Perubahan teknologi yang berlangsung cepat, pergeseran demografi, serta risiko iklim juga menambah tekanan terhadap perekonomian global, menurut komite tersebut.

Bisa Lebih Mahal

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan harga bensin di AS saat ini tinggi, namun harganya bisa lebih mahal tiga kali lipat jika Angkatan Laut AS tidak hadir di kawasan Selat Hormuz.

“Harga bensin terlalu tinggi. Harganya bisa tiga kali lipat lebih mahal jika bukan Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjaga kelancaran aliran minyak dan gas keluar dari Selat Hormuz. Jika kita menyerah dan pergi begitu saja, harga energi akan melonjak drastis,” kata Vance saat wawancara dengan CBS.

Ia menambahkan bahwa AS ingin mencapai dua tujuan untuk mengakhiri konflik dengan Iran.

Menurutnya, Washington menginginkan komitmen Iran agar Teheran tidak berupaya memulihkan kapasitas pengayaan uraniumnya.

Selain itu, wapres juga mengatakan AS ingin mencegah krisis energi global yang mungkin terjadi jika mereka mengurangi kehadirannya di kawasan tersebut.

Sebelumnya, UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,6 persen pada 2026, dari 2,9 persen pada 2025. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang diproyeksikan turun menjadi 4 persen, dari 4,7 persen pada tahun sebelumnya.

  • Ketidakpastian global

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.