Pemuda India Gunakan AI untuk Bantu Ratusan Demonstran yang Ditangkap Polisi Temukan Jalan Pulang

Senin, 19 Okt 2026, 00:09 WIB

NEW DELHI – Ditangkap saat mengikuti demonstrasi, kemudian diturunkan di lokasi asing yang jauh dari pusat kota. Situasi itu dialami sejumlah demonstran di New Delhi, India. Namun, sebuah inisiatif berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hadir membantu mereka menemukan jalan pulang dengan aman.

Program bernama Detainee Gharwapsi Yojana tersebut digagas Rajiv Choudhary, pemuda berusia 25 tahun, bersama jurnalis Meghnad dan jaringan sukarelawan. Mereka membangun sistem digital untuk melacak informasi penahanan dan menghubungkan demonstran yang terlantar dengan orang-orang yang bersedia membantu perjalanan pulang.

Ket. Foto: Bagi mereka yang terjebak jauh dari rumah setelah ditahan, kombinasi teknologi dan solidaritas masyarakat itu dapat menjadi pembeda antara kebingungan berkepanjangan dan perjalanan pulang yang lebih aman. — Sumber: Istimewa

Dari Al Jazeera, inisiatif ini menjadi perhatian di tengah gelombang demonstrasi di India yang dipicu dugaan penyimpangan dalam daftar pemilih. Aksi tersebut menuntut pengunduran diri Ketua Komisi Pemilihan Umum India, Gyanesh Kumar, setelah muncul klaim bahwa 133 juta orang dihapus dari daftar pemilih.

Salah satu orang yang merasakan manfaat program tersebut adalah seorang perempuan berusia 19 tahun. Ia ditahan polisi ketika ribuan orang berkumpul di pusat New Delhi pada akhir pekan sebelumnya.

Setelah ditahan, perempuan yang meminta identitasnya dirahasiakan itu dibawa menggunakan bus polisi ke lokasi sekitar 50 kilometer dari tempat demonstrasi. Tanpa uang tunai dan dengan baterai telepon genggam yang habis, ia terpaksa berjalan di jalanan gelap selama hampir satu jam untuk mencari bantuan.

Situasi tersebut membuatnya ketakutan, terlebih ia berada sendirian pada malam hari di kawasan yang tidak dikenalnya.

Beruntung, sebuah mobil berhenti dan pengemudinya menawarkan bantuan. Perempuan itu kemudian mengenali salah satu sukarelawan yang pernah dilihatnya melalui video di internet. Ia pun merasa lebih yakin untuk menerima pertolongan hingga akhirnya berhasil kembali dengan selamat.

“Saya ketakutan dan benar-benar tersesat. Ketika para sukarelawan itu akhirnya membantu saya kembali dengan selamat, rasanya seperti sebuah keajaiban,” tuturnya.

AI dan jaringan relawan bekerja bersama

Choudhary menjelaskan, program tersebut dirancang untuk mengatasi persoalan yang kerap dihadapi demonstran setelah ditahan polisi, yakni kesulitan menghubungi keluarga, mencari kendaraan, dan menemukan jalan pulang setelah dibawa ke lokasi yang jauh dari pusat demonstrasi.

Sistem ini menggabungkan dasbor digital, pemrosesan data berbantuan AI, pemetaan lokasi, serta informasi yang dikirimkan sukarelawan di lapangan. Melalui WhatsApp, para sukarelawan dapat menyampaikan informasi seperti nomor bus polisi dan lokasi keberadaan demonstran yang membutuhkan bantuan.

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengoordinasikan penjemputan dan menghubungkan orang-orang yang terlantar dengan sukarelawan atau pengemudi di sekitar mereka.

Meski menggunakan teknologi AI, keberhasilan program ini tetap bergantung pada jaringan manusia yang bergerak langsung di lapangan. Para sukarelawan tidak hanya membantu menyediakan transportasi, tetapi juga mengupayakan akses bantuan hukum dan dukungan medis bagi mereka yang membutuhkan.

Menurut Choudhary, gagasan tersebut berkembang dari pengalamannya membantu demonstran dalam aksi sebelumnya. Ia awalnya terlibat dalam pengaturan perbekalan dan koordinasi sukarelawan, sebelum menyadari bahwa para demonstran yang ditahan membutuhkan sistem bantuan yang lebih terorganisasi.

Pada demonstrasi yang kembali berlangsung pada 2 Oktober, ia mulai mengembangkan sistem digital untuk memperkuat jaringan yang sudah terbentuk. Upaya tersebut berawal dari penggunaan lembar kerja sederhana sebelum berkembang menjadi dasbor yang membantu mengatur informasi dan koordinasi.

“Kami hanya ingin menjadi sistem pendukung yang dapat membantu masyarakat dalam perjuangan mereka untuk menuntut hak-hak mereka,” kata Choudhary.

Prioritaskan perempuan dan kelompok rentan

Jaringan yang semula kecil itu kini berkembang hingga melibatkan lebih dari 130 sukarelawan. Mereka menyumbangkan waktu, tenaga, dan sumber daya tanpa memungut biaya untuk membantu para demonstran yang kesulitan pulang.

Choudhary mengatakan, perhatian utama diberikan kepada anak di bawah umur, orang lanjut usia, perempuan, serta orang-orang yang baru pertama kali mengikuti demonstrasi.

Bagi perempuan, kebutuhan akan bantuan yang aman menjadi perhatian tersendiri. New Delhi menghadapi persoalan serius terkait kekerasan seksual, sehingga perjalanan sendirian pada malam hari atau menerima tumpangan dari orang asing dapat menimbulkan risiko tambahan.

Dalam salah satu kasus, Choudhary mengatur agar seorang pengemudi perempuan yang berada di dekat lokasi menjemput demonstran perempuan yang terlantar setelah ditahan. Pengaturan tersebut dilakukan agar ia dapat pulang dengan lebih aman.

Choudhary mengaku prihatin melihat orang-orang yang ditinggalkan di lokasi asing tanpa kepastian mengenai cara kembali ke rumah.

Bagi perempuan berusia 19 tahun yang dibantu tim tersebut, pertolongan yang diterimanya bukan sekadar soal transportasi. Ia juga memperoleh dukungan emosional setelah mengalami situasi yang membuatnya ketakutan.

Ia menyebut inisiatif tersebut sebagai penyelamat bagi para demonstran yang membutuhkan bantuan setelah penahanan.

Berawal dari New Delhi, berpeluang diperluas

Untuk saat ini, Detainee Gharwapsi Yojana masih beroperasi di New Delhi. Choudhary berharap program tersebut dapat diperluas ke kota-kota lain agar semakin banyak demonstran yang terlantar setelah penahanan memperoleh bantuan.

Di sisi lain, demonstrasi di India terus menjadi perhatian setelah aparat melakukan penindakan terhadap aksi-aksi yang berlangsung hampir setiap hari. Para demonstran menuntut pertanggungjawaban atas dugaan persoalan dalam daftar pemilih, sementara pihak berwenang menerapkan berbagai pembatasan keamanan, termasuk pemblokiran jalan dan penutupan stasiun metro.

Di tengah situasi tersebut, inisiatif Choudhary menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengoordinasikan bantuan kemanusiaan secara cepat. AI berperan membantu pengolahan informasi, sedangkan para sukarelawan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan.

Bagi mereka yang terjebak jauh dari rumah setelah ditahan, kombinasi teknologi dan solidaritas masyarakat itu dapat menjadi pembeda antara kebingungan berkepanjangan dan perjalanan pulang yang lebih aman.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.