IHSG Hari Ini Melemah Imbas Efek Lanjutan MSCI Soal Klasifikasi Bursa RIE
📅 Senin, 19 Okt 2026, 09:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (19/10), bergerak melemah disebabkan oleh dampak lanjutan dari pengumuman penyedia indeks pasar saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang membuka konsultasi terkait peluang perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.
IHSG dibuka melemah 223,23 poin poin atau 4,31 persen ke posisi 4.961,88. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50.
"Selama mampu kembali menembus area 5.326–5.332, IHSG berpeluang rebound menuju resistance 5.631. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus support 4.999, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 4.471,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Pada Jumat (16/10) pagi waktu Indonesia, MSCI mengumumkan untuk membuka konsultasi dengan pelaku pasar global mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
MSCI menerima masukan dari pelaku pasar mengenai potensi reklasifikasi MSCI Indeks Indonesia tersebut sampai 30 April 2027, dan akan mengumumkan keputusannya pada atau sebelum tanggal 30 Juni 2027.
MSCI menyatakan bahwa kekhawatiran pelaku pasar telah meningkat signifikan mengenai kemampuan investasi di pasar modal Indonesia, termasuk mengenai ketidakjelasan yang terus berlanjut dalam struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.
Meskipun otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan aksi reformasi, namun MSCI menilai perlunya implementasi yang konsisten dan bukti dampak material yang berkelanjutan dari aksi reformasi tersebut.
Dari dalam negeri, peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026 masih terbuka, yang berpotensi ada kenaikan suku bunga sebesar 25-50 basis poin hingga akhir tahun, terutama jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat.
Liza mengatakan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tingginya harga minyak dunia, serta risiko pelemahan nilai tukar menjadi faktor utama yang perlu dicermati karena berpotensi meningkatkan inflasi impor (imported inflation) dan menambah tekanan terhadap stabilitas harga domestik.
“Kondisi tersebut menempatkan BI pada tantangan untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Liza.
Sementara itu, BI mendorong penguatan kerja sama internasional melalui perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang negara ketiga dan meminimalkan dampak volatilitas nilai tukar global.
Hal tersebut disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti dalam rangkaian pertemuan IMF-World Bank dan G20 Finance Ministers and Central Bank Governors pada 12–18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand.
Dari mancanegara, data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi yang masih kuat, dengan data inflasi CPI dan PPI berada di atas perkiraan pasar.
"Kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, sementara peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai hampir 77 persen," ujar Liza.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!