Gletser Antartika Mencair Lebih Cepat Risiko Banjir Pesisir Meningkat

Senin, 19 Okt 2026, 01:00 WIB

Istanbul – Gletser Thwaites di Antartika, salah satu gletser terbesar di dunia, mencair jauh lebih cepat daripada perkiraan sebelumnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gletser tersebut berpotensi menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga dua kali lipat dari proyeksi terdahulu pada akhir abad ini.

Seperti dikutip dari Antara, studi yang diterbitkan pekan ini dalam jurnal Nature Communications menemukan bahwa air laut hangat meresap hingga beberapa kilometer ke bawah gletser dan mencairkan es dari bagian bawahnya.

Ket. Foto: Foto dari NASA ini memperlihatkan kondisi Gletser Thwaites di Antartika Barat. — Sumber: HANDOUT/NASA/AFP

Para peneliti memperkirakan Gletser Thwaites dapat menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga 30 milimeter atau 1,2 inci pada 2100, bahkan tanpa pemanasan tambahan di luar kondisi yang terjadi belakangan ini. Angka tersebut dua kali lipat dari perkiraan model lapisan es konvensional sebelumnya, yakni sekitar 15 milimeter atau 0,6 inci.

Gletser Thwaites dijuluki “Gletser Kiamat” karena potensi dampaknya jika mengalami keruntuhan. Gletser seluas sekitar 192.000 kilometer persegi di Antartika Barat itu memiliki luas yang kurang lebih setara dengan Senegal dan lebih besar daripada negara bagian Florida di Amerika Serikat.

Thwaites merupakan bagian dari Lapisan Es Antartika Barat. Bersama gletser lain, termasuk Gletser Pine Island, Thwaites berfungsi menahan aliran es dalam jumlah besar dari daratan menuju laut.

Saat ini, Gletser Thwaites menyumbang sekitar 4 persen dari kenaikan permukaan laut global. Sejak 2000, gletser tersebut telah kehilangan lebih dari 1 triliun ton es, dengan laju kehilangan sekitar 50 miliar ton setiap tahun.

Penelitian terbaru berfokus pada zona landasan (grounding zone), yaitu wilayah tempat es yang semula bertumpu pada dasar batuan mulai mengapung di atas laut. Berbeda dari model sebelumnya yang cenderung memperlakukan garis landasan sebagai batas tetap, studi ini memodelkan wilayah lebih luas yang memungkinkan air laut masuk lebih jauh ke bawah lapisan es akibat pergerakan pasang surut.

Penulis utama penelitian, Mattia Poinelli, ilmuwan proyek di University of California, Los Angeles (UCLA), menjelaskan bahwa proses yang disebut pemompaan pasang surut (tidal pumping) memungkinkan air hangat menjangkau bagian bawah es yang lebih dalam sehingga mempercepat pencairan.

Pemodelan tersebut juga menunjukkan risiko Gletser Thwaites kehilangan kontak dengan Punggung Mouginot, struktur bawah laut yang saat ini membantu menahan pergerakan gletser. Simulasi yang sesuai dengan pengamatan terbaru memperkirakan peluang sekitar 60 persen bahwa gletser itu akan terlepas dari struktur tersebut pada 2100, bahkan berpotensi sejak akhir 2030-an.

Perubahan itu dikhawatirkan mempercepat kemunduran gletser dan meningkatkan risiko kenaikan permukaan laut serta banjir di kawasan pesisir dunia. Para ilmuwan menilai pemanasan laut akibat perubahan iklim, terutama yang berkaitan dengan emisi bahan bakar fosil, turut meningkatkan tekanan terhadap gletser.

Kawasan Arktik

Dampak pemanasan global juga terlihat di kawasan Arktik. Peneliti Russia Andrei Leonov mengatakan lebih dari 15 pulau dengan berbagai ukuran telah ditemukan di kawasan tersebut sejak 2015, seiring menyusutnya gletser dan berubahnya bentang alam.

"Saya tidak dapat memberikan angka pasti, tetapi lebih dari 15 pulau telah ditemukan di Arktik sejak 2015. Pada saat yang sama, para peneliti memantau kemunculan pulau-pulau tersebut selama bertahun-tahun," kata Leonov, dosen madya Departemen Hidrografi Laut di Institut Akademi Kelautan Laksamana Makarov, Universitas Negeri Maritim dan Transportasi Perairan Darat.

Ia menjelaskan bahwa citra satelit membantu para peneliti melacak perubahan tersebut. Namun, proses verifikasi terkadang memerlukan waktu lebih dari satu tahun sebelum suatu bentang alam dapat dipastikan sebagai pulau baru.

Leonov menyebut perubahan iklim sebagai faktor utama yang mendorong kemunculan pulau-pulau tersebut, terutama akibat penyusutan bagian depan gletser yang dikenal sebagai gletser outlet.

Kemajuan teknologi penginderaan jauh juga mempermudah pemantauan perubahan garis pantai. Jika sebelumnya peneliti harus mendatangi lokasi untuk menemukan bentang alam baru, kini perubahan dapat terdeteksi melalui citra satelit dan dipantau dari waktu ke waktu.

  • Pemanasan Global

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.