Menhut Siapkan Uji Coba Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla di Kalteng, Seberapa Efektif?

Minggu, 18 Okt 2026, 00:27 WIB

SAMPIT - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan rencana uji coba penggunaan dry ice atau es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan sasaran awal membuka kembali akses penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.

“Alhamdulillah, walaupun pemasok dry ice ini susah, tetapi alhamdulillah sudah ditemukan pemasoknya di Kalimantan dan insya Allah mulai besok siang barangnya sudah sampai. Operasi dry ice-nya akan dimulai ke arah Palangka Raya untuk membuka dulu Bandara Tjilik Riwut,” kata Raja Juli di Sampit, Sabtu malam.

Ket. Foto: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah) bersama Bupati Kotim Halikinnor (kiri) dan Kapolres setempat serta lainnya di sela peninjauan karhutla di Kota Sampit, Sabtu malam (17/10). — Sumber: Antara foto

Ia menjelaskan, penggunaan dry ice menjadi salah satu upaya yang sedang dikembangkan pemerintah untuk mengurangi dampak asap karhutla. Metode tersebut sebelumnya telah diteliti oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama pihak dari Thailand.

Namun, hasil penelitian dan penerapannya masih terus dikembangkan sehingga efektivitas metode tersebut perlu dibuktikan melalui serangkaian uji coba dan evaluasi.

“Ini salah satu penelitian yang sudah dilakukan oleh teman-teman di BMKG bersama negara Thailand, tetapi hasilnya memang masih dalam usaha, yang terus dicoba,” ungkapnya.

Raja Juli mengatakan pemerintah telah melakukan intervensi menggunakan dry ice di Sumatera Selatan selama dua hari dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Berdasarkan laporan Gubernur Sumatera Selatan yang diterimanya, intervensi tersebut diikuti peningkatan jarak pandang dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter. Sementara itu, angka PM2.5 yang dilaporkan sebagai indikator kualitas udara turun dari 660 menjadi 200.

Meski begitu, ia menegaskan perubahan tersebut belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penggunaan dry ice. BMKG masih akan mengevaluasi kemungkinan adanya faktor lain yang turut mempengaruhi perubahan jarak pandang dan kualitas udara.

“Teman-teman BMKG mengatakan kita akan evaluasi, apakah benar penurunan itu murni karena dry ice atau mungkin ada kontribusi faktor lain. Jadi, sekali lagi, ini masih sedang dikembangkan,” ujarnya.

Raja Juli menyebutkan, uji coba tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah untuk mencari alternatif penanganan kabut asap, terutama ketika kondisi atmosfer dan cuaca belum mendukung penurunan konsentrasi asap secara alami.

Ia mengakui belum menguasai secara terperinci aspek teknis penerapan metode tersebut. Karena itu, Kemenhut terus berkomunikasi dengan BMKG untuk memperoleh penjelasan dan perkembangan mengenai pelaksanaannya.

Ia menambahkan, uji coba di Kalimantan Tengah akan melibatkan sejumlah pihak, termasuk TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta dukungan pendanaan yang tersedia.

“Namanya ikhtiar, namanya usaha, kita sebagai manusia akan terus lakukan. Kita coba, karena ini adalah suatu hal yang baru, kita akan trial and error,” ucapnya.

Apabila hasil evaluasi menunjukkan metode tersebut efektif membantu mengurangi dampak kabut asap, penerapannya akan diperluas secara bertahap ke kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Tengah yang membutuhkan penanganan serupa.

Uji coba itu diharapkan dapat menjadi salah satu opsi tambahan dalam menghadapi dampak karhutla, khususnya gangguan jarak pandang yang berpotensi menghambat aktivitas penerbangan dan mobilitas masyarakat.

Hasil pengujian di Kalimantan Tengah tetap akan menjadi bahan evaluasi untuk menilai sejauh mana metode dry ice dapat memberikan manfaat dalam penanganan kabut asap di wilayah tersebut.

“Kalau seandainya nanti efektif, kita geser terus ke kabupaten-kabupaten lain,” demikian Raja Juli.

  • Uji Coba
  • Menhut
  • kalimantan tengah
  • asap karhutla

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.