Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Melalui Nilai dan Praktik Keberlanjutan, Astra Bangun Kepercayaan Publik

📅 Minggu, 18 Okt 2026, 09:45 WIB | Oleh:
Melalui Nilai dan Praktik Keberlanjutan, Astra Bangun Kepercayaan Publik Doc: Dok. Istimewa

SOLO – Kepercayaan publik terhadap agenda keberlanjutan perusahaan kian diuji. Di tengah maraknya klaim keberlanjutan yang sulit dibuktikan, Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo menilai kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan. Kepercayaan harus ditenun dari nilai perusahaan hingga praktik sehari-hari.

“Kalau bercermin dari Astra, trust itu ditenun. Menenun itu tidak instan, penuh pemikiran dan dedikasi,” ujar Windy dalam sesi bertajuk “Keberlanjutan sebagai Fondasi Kepercayaan” pada Konvensi Humas Indonesia (KHI) di Solo, Sabtu (17/10).

Sesi tersebut merupakan sesi kedua pada hari pertama KHI yang digelar Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) pada 17–18 Oktober 2026. Diskusi tersebut berangkat dari satu pertanyaan kunci: kapan keberlanjutan berhenti menjadi klaim reputasi dan mulai menjadi bukti reputasi?

Bagi Windy, jawabannya terletak pada rasa percaya, yang ia sebut sebagai aset tak berwujud perusahaan. Astra, yang akan genap berusia 70 tahun pada Februari 2027, membangun aset tersebut melalui proses panjang yang konsisten.

Windy menegaskan, rasa percaya harus bersumber dari DNA atau nilai perusahaan itu sendiri. Di Astra, nilai itu terangkum dalam filosofi Catur Dharma yang dijalankan dari jajaran pimpinan hingga lini terbawah.

Nilai pertama adalah menjadikan Astra sebagai entiti yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Nilai ini berfungsi sebagai saringan dalam setiap keputusan bisnis, termasuk investasi. Menurut Windy, ada sejumlah pertanyaan yang selalu diajukan sebelum perusahaan masuk ke sebuah industri.

“Apakah keputusan perusahaan bisa menciptakan lapangan pekerjaan? Apakah ada multiplier effect-nya ke ekonomi dan sosial Indonesia? Apakah merugikan komunitas dan lingkungan?” kata Windy.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sejatinya mencerminkan prinsip dasar keberlanjutan, yakni menimbang dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan sejak tahap perencanaan, bukan sekadar melaporkannya di kemudian hari. 

Dengan pendekatan ini, keberlanjutan tidak berdiri sebagai program tambahan, melainkan melekat dalam proses pengambilan keputusan.

Tiga nilai lainnya menyangkut pelayanan terbaik kepada pelanggan melalui produk dan layanan, kolaborasi dan sikap saling menghargai di antara karyawan, serta upaya terus-menerus untuk mencapai hasil terbaik.

Windy mengakui, menyatukan nilai-nilai tersebut bukan perkara mudah bagi kelompok usaha sebesar Astra, yang menaungi hampir 200 ribu karyawan di sekitar 300 perusahaan.

“Kalau bicara hulu, hulunya harus benar. Sebuah organisasi memang didesain dari awal untuk membangun trust yang multifaset dan multidimensi,” ujarnya.

Menurut Windy, kepercayaan tidak hanya lahir dari komitmen besar, tetapi juga dari interaksi sehari-hari yang konsisten. Ia menggarisbawahi bahwa kepercayaan harus terasa dalam relasi dengan karyawan, saat berhubungan dengan pemerintah dan mitra, dan dalam pengalaman konsumen saat menggunakan produk dan layanan purnajual.

Bahkan hal sederhana seperti kedisiplinan waktu turut berperan. “Pada saat kami menghadiri rapat, orang Astra sangat tepat waktu. Hal-hal kecil itu terakumulasi dan membangun trust,” kata Windy.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Dampak Karhutla, Gangguan Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara

Dampak Karhutla, Gangguan Penerbangan Meluas hingga Sulawesi dan Sumatera Bagian Utara

18 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.