Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PISA Ungkap Komunikasi Remaja dan Orang Tua Menurun, Ini 3 Tips Bijak Gunakan AI

📅 Jumat, 16 Okt 2026, 16:45 WIB | Oleh:
PISA Ungkap Komunikasi Remaja dan Orang Tua Menurun, Ini 3 Tips Bijak Gunakan AI Doc: OpenAI
Ket. Komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan emosional di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital.

JAKARTA - Komunikasi terbuka antara orang tua dan remaja menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan emosional di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital. Data Programme for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan, persentase siswa Indonesia yang berdiskusi dengan orang tua mengenai masalah di sekolah setidaknya sekali dalam sepekan turun dari 48 persen pada 2022 menjadi 36 persen pada 2025.

Penurunan tersebut menjadi pengingat bagi keluarga untuk membangun lingkungan yang aman dan suportif agar remaja merasa nyaman menyampaikan pengalaman maupun permasalahan yang mereka hadapi. Komunikasi yang terbuka juga dibutuhkan untuk mendampingi aktivitas digital remaja, termasuk ketika mereka memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk belajar, berkreasi, dan mencari ide.

Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents, Pritta Tyas Mangestuti, menilai orang tua perlu memahami keseharian remaja, termasuk pengalaman mereka di ruang digital. Menurutnya, rasa ingin tahu terhadap teknologi yang digunakan anak dapat menjadi langkah awal untuk membangun kedekatan sekaligus mendampingi penggunaan AI secara bertanggung jawab.

"Menciptakan lingkungan yang aman dan suportif tanpa rasa takut dihakimi adalah fondasi utama dalam hubungan keluarga. Hal ini juga termasuk saat mendampingi kehidupan digital remaja, seperti bagaimana mereka memanfaatkan AI. Dengan terus menumbuhkan rasa ingin tahu dan menjaga komunikasi terbuka, orang tua dapat membangun kepercayaan sekaligus membantu remaja mengembangkan kebiasaan digital yang lebih sehat," ujar Pritta.

Dalam momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, Pritta membagikan tiga cara praktis bagi orang tua untuk mendampingi remaja menggunakan AI, termasuk ChatGPT, secara lebih aman dan bijak. Langkah-langkah tersebut mencakup penyusunan batasan penggunaan, edukasi privasi, hingga membangun diskusi keluarga tentang teknologi.

1. Bangun Batasan Penggunaan AI yang Sehat Bersama Remaja

Orang tua dapat memulai dengan mengajak remaja membicarakan cara mereka menggunakan teknologi dalam aktivitas sehari-hari. Melalui percakapan yang hangat, kedua pihak dapat menyepakati aturan penggunaan AI yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk saat belajar, beristirahat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

ChatGPT menyediakan fitur Pengawasan Orang Tua yang memungkinkan akun remaja ditautkan dengan akun orang tua untuk membantu mengelola pengalaman penggunaan. Setelah akun terhubung, orang tua dan remaja dapat menyepakati jadwal Jam Tenang untuk membatasi akses pada waktu tertentu, misalnya saat tidur atau berkumpul bersama keluarga.

Selain itu, fitur Jam Belajar dapat digunakan untuk mendukung aktivitas akademik remaja. Ketika fitur tersebut aktif, setiap percakapan baru secara otomatis dimulai dalam Mode Belajar, sedangkan fitur Pengingat Istirahat dapat mengajak pengguna berhenti sejenak setelah menggunakan ChatGPT selama periode tertentu.

Untuk mengaturnya, pengguna dapat membuka Setelan, memilih Pengawasan Orang Tua, kemudian mengetuk Tambah anggota keluarga untuk menautkan akun orang tua dan remaja. Setelah proses penautan selesai, orang tua dapat memilih akun remaja untuk menyesuaikan pengaturan Jam Tenang dan Jam Belajar.

2. Ajarkan Batasan Privasi dan Interaksi saat Menggunakan AI

Selain mengatur waktu penggunaan, orang tua perlu membantu remaja memahami pentingnya menjaga informasi pribadi ketika berinteraksi dengan teknologi AI. Edukasi ini mencakup pemahaman mengenai informasi yang aman untuk dibagikan, data yang sebaiknya dirahasiakan, serta cara menyusun pertanyaan secara bijak.

Orang tua juga dapat memanfaatkan pengaturan keamanan yang tersedia di ChatGPT untuk menyesuaikan pengalaman digital dengan kebutuhan remaja. Beberapa pengaturan memungkinkan orang tua menonaktifkan fitur tertentu, seperti Mode Suara dan pembuatan gambar, apabila dinilai belum sesuai untuk digunakan oleh anak.

Pengaturan penyaringan konten sensitif juga dapat disesuaikan untuk membantu mengurangi paparan materi yang tidak sesuai dengan usia remaja. Langkah ini sebaiknya disertai komunikasi terbuka agar remaja memahami alasan di balik aturan yang diterapkan, bukan sekadar merasa dibatasi dalam menggunakan teknologi.

Untuk melakukan penyesuaian, orang tua dapat membuka Setelan, masuk ke Pengawasan Orang Tua, lalu memilih akun remaja yang telah ditautkan. Dari bagian tersebut, orang tua dapat mengatur penggunaan Mode Suara, pembuatan gambar, serta penyaringan konten sensitif sesuai kebutuhan keluarga.

3. Ajak Remaja Berdiskusi tentang AI dengan Cara Sederhana

Percakapan mengenai AI tidak harus berlangsung secara formal atau menggunakan penjelasan teknis yang rumit. Orang tua dapat memulainya dengan pertanyaan sederhana tentang pengalaman remaja saat menggunakan AI, manfaat yang mereka rasakan, serta hal-hal yang membuat mereka bingung atau tidak nyaman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.