Pertanian Bukan Hanya di Lahan, Megasektor Agribisnis Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju 2045

Jumat, 16 Okt 2026, 19:34 WIB

BOGOR – Pertanian bukan sekadar urusan menanam dan memanen, melainkan megasektor agribisnis yang mampu menjadi motor transformasi ekonomi Indonesia menuju 2045. Kekuatan sektor ini terletak pada keterhubungan seluruh rantai usaha, mulai dari produksi pangan dan biomassa, industri pengolahan, teknologi, hingga perdagangan dan logistik. Karena itu, pembangunan pertanian tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral, tetapi harus terintegrasi untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Gagasan tersebut disampaikan Menteri Pertanian periode 2000-2004, Bungaran Saragih, dalam forum Bungaran Saragih Insight seri pertama di Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Diskusi bertema Indonesia 2045: Sistem Agroindustri Nasional untuk Negara Tropis Kepulauan—Dari Anugerah Alam Menuju Kemampuan dan Transformasi Bangsa itu membedah pemikiran dalam buku terbarunya.

Ket. Foto: Menteri Pertanian periode 2000-2004, Bungaran Saragih menyampaikan gagasan dalam forum Bungaran Saragih Insight seri pertama di Bogor, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). — Sumber: Istimewa

Bungaran menilai, paradigma yang mempersempit pertanian hanya pada aktivitas di lahan, kebun, kandang, atau kolam telah menghambat pemahaman terhadap peran strategis sektor tersebut. Kontribusi pertanian yang dihitung sebatas kegiatan budi daya memang sekitar seperdelapan perekonomian Indonesia. Namun, angka itu tidak menggambarkan keseluruhan kekuatan ekonomi yang bertumpu pada pangan dan biomassa.

“Cara melihat tersebut keliru. Pangan dan biomassa menggerakkan industri benih, pupuk, pakan, alat dan mesin, budi daya, pengolahan, perdagangan, transportasi, pembiayaan, riset, teknologi, jasa digital, hingga konsumsi,” ujar Bungaran.

Karena itu, pertanian harus ditempatkan sebagai megasektor agribisnis yang menghubungkan seluruh mata rantai produksi hingga konsumsi. Petani perlu terhubung dengan industri pengolahan, nelayan didukung sistem rantai dingin, perkebunan dikembangkan menuju bioindustri, sementara produksi harus terintegrasi dengan logistik, gizi, dan daya beli masyarakat.

Menurut dia, persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan modal atau sumber daya, melainkan belum optimalnya pengorganisasian potensi yang dimiliki. Kekayaan alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, pasar, pemerintah, dan masyarakat masih kerap bergerak sendiri-sendiri.

“Potensi tidak sama dengan kemampuan. Sumber daya dapat diekspor tanpa membuat Indonesia menguasai teknologi. Produksi bisa meningkat tanpa memperbaiki posisi petani, sementara investasi bertambah tanpa menyebarkan nilai tambah secara merata,” katanya.

Dalam bukunya, Bungaran menawarkan Sistem Agroindustri Nasional sebagai arsitektur transformasi ekonomi yang sesuai dengan karakter Indonesia sebagai negara tropis kepulauan. Sistem tersebut mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi, produksi biologis di darat dan laut, pengolahan menjadi produk bernilai tambah, serta pasar dan konsumsi.

Integrasi itu perlu ditopang logistik antarpulau, pembiayaan, penguatan organisasi pelaku usaha kecil, pemanfaatan data dan kecerdasan artifisial, serta tata kelola lingkungan. Pendekatan pembangunan pun perlu bergeser dari kebijakan komoditas semata menuju pengembangan ekosistem dan wilayah dengan mempertimbangkan karakteristik daerah.

Bungaran juga menekankan pentingnya mengubah keunggulan komparatif berupa kekayaan alam menjadi keunggulan transformasional. Keberhasilan pembangunan, menurut dia, tidak cukup diukur melalui peningkatan produksi, investasi, dan ekspor, tetapi juga dari penguasaan teknologi, peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan, pemerataan nilai tambah, kualitas pekerjaan, serta kelestarian lingkungan.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat. Pemerintah harus mampu menetapkan arah, menjamin persaingan sehat, menyediakan infrastruktur publik, serta memastikan sumber daya dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Bungaran Saragih Insight direncanakan berlangsung dalam tujuh seri dengan menghadirkan narasumber berbeda. Pada seri perdana, diskusi melibatkan Deputi Bidang Kebijakan BRIN Nunung Nuryartono, Dekan Sekolah Bisnis IPB University Noer Azam Achsani, Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar, dan Guru Besar IPB University Harianto. Forum dimoderatori Guru Besar IPB University Bayu Krisnamurthi.

Melalui rangkaian diskusi tersebut, Bungaran berharap pengalaman generasi sebelumnya dapat dipertemukan dengan ilmu dan kreativitas generasi muda untuk merumuskan strategi pembangunan yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi kemampuan nasional dan kemakmuran bersama menuju Indonesia 2045.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.