Malaysia Pertimbangkan Kembali Gelar Balapan Formula 1, Pemerintah Hitung Biaya dan Manfaat Ekonomi

Jumat, 16 Okt 2026, 00:10 WIB

KUALA LUMPUR — Malaysia mempertimbangkan untuk kembali menjadi tuan rumah balapan Formula 1 (F1) secara reguler, baik setiap tahun maupun dalam interval beberapa tahun sekali. Pemerintah negara itu kini mengkaji biaya penyelenggaraan, potensi keuntungan ekonomi, serta kesiapan infrastruktur sebelum mengambil keputusan.

Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, Mohammed Taufiq Johari, menyampaikan hal tersebut dalam sidang parlemen pada hari Kamis (15/10). Ia mengatakan, pembahasan untuk mengembalikan Malaysia ke kalender F1 masih berada pada tahap awal.

Ket. Foto: Ilustrasi balapan Formula 1. — Sumber: Formula 1

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menggelar balapan setiap beberapa tahun melalui kerja sama dengan negara lain. Laporan hasil kajian mengenai rencana tersebut diperkirakan akan diserahkan kepada kabinet pada November.

“Penyelenggaraan F1 tidak murah. Biayanya cukup besar dan ada sejumlah aspek penting yang perlu kami kaji,” kata Taufiq.

Malaysia sebelumnya menjadi tuan rumah balapan F1 di Sirkuit Sepang setiap tahun pada periode 1999–2017. Namun, ajang tersebut kemudian dihapus dari kalender setelah penjualan tiket menurun dan biaya penyelenggaraan terus meningkat.

Kembalinya F1 ke Malaysia bulan ini berlangsung dalam situasi khusus. Sepang menjadi tuan rumah pengganti untuk Grand Prix Bahrain yang dijadwalkan ulang setelah balapan di lokasi aslinya dibatalkan akibat ketegangan yang berlanjut di Timur Tengah.

Penyelenggaraan tersebut kembali membuka pembicaraan mengenai kemungkinan Malaysia menjadi bagian tetap dari kalender balap mobil paling bergengsi di dunia itu.

Pemerintah Malaysia memperkirakan penyelenggaraan balapan bulan ini menghasilkan dampak ekonomi sekitar 950 juta ringgit atau setara 233 juta dolar AS.

Meski demikian, pemerintah tidak ingin menjadikan angka tersebut sebagai satu-satunya dasar untuk memutuskan apakah F1 layak digelar setiap tahun.

Menurut Taufiq, perlu ada penilaian lebih lanjut mengenai kemampuan penyelenggaraan menghasilkan keuntungan ekonomi yang sebanding apabila dilakukan secara rutin. Kesiapan infrastruktur juga menjadi pertimbangan penting.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan apakah kami bisa memperoleh manfaat ekonomi yang sama setiap tahun dan apakah kami siap dari sisi berbagai kebutuhan infrastruktur,” ujarnya.

Evaluasi tersebut akan menentukan apakah Malaysia memilih kembali menggelar F1 setiap tahun, menjadi tuan rumah secara berkala, atau mempertimbangkan skema kerja sama dengan negara lain.

Sirkuit Internasional Sepang pernah menjadi salah satu lokasi penting dalam kalender Formula 1 sejak pertama kali menggelar balapan pada 1999. Sirkuit tersebut dikenal dengan karakter lintasan yang menantang serta kondisi cuaca tropis yang dapat memengaruhi jalannya perlombaan.

Namun, meningkatnya biaya penyelenggaraan dan berkurangnya minat penonton menjadi tantangan yang akhirnya membuat Malaysia menghentikan penyelenggaraan tahunan setelah musim 2017.

Kini, pemerintah kembali mengevaluasi peluang untuk menghadirkan ajang tersebut. Keputusan akhir akan bergantung pada hasil kajian biaya dan manfaat, kesiapan fasilitas, serta kemampuan Malaysia mempertahankan nilai ekonomi penyelenggaraan dalam jangka panjang.

Dengan laporan kajian yang ditargetkan masuk ke kabinet pada November, masa depan Formula 1 di Malaysia akan bergantung pada hasil evaluasi tersebut. Untuk saat ini, rencana kembali menjadi tuan rumah reguler masih berupa pertimbangan dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.