Emisi Diubah Jadi Cuan, Menperin Sarmuji Pacu Teknologi CCU
📅 Jumat, 16 Okt 2026, 23:58 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
GRESIK- Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan kalau teknologi rendah karbon jadi salah satu jalan penting untuk mengejar target dekarbonisasi industri sekaligus bikin industri nasional makin bersaing. Salah satu yang sedang dikembangkan adalah teknologi Carbon Capture and Utilization atau CCU, di mana emisi karbon dioksida dari proses industri ditangkap lalu diolah lagi jadi produk yang punya nilai ekonomi.
Hal itu disampaikan Sarmuji saat meninjau proyek percontohan pengurangan emisi lewat teknologi CCU di PT Petrokimia Gresik pada Jumat (16/10). Teknologi ini jadi bagian dari upaya mendukung target Net Zero Emission sektor industri pada 2050 dan NZE nasional pada 2060.
Menurut Sarmuji, salah satu kunci keberhasilan dekarbonisasi di sektor industri adalah kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik proses produksi industri nasional.
Lewat teknologi CCU, karbon dioksida yang dihasilkan dari proses industri bisa ditangkap dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai tambah. Cara ini membuka peluang untuk menggabungkan upaya pengurangan emisi dengan pengembangan produk baru dan pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien.
Sarmuji menyebut proyek percontohan CCU ini perlu diperluas karena terbukti memberi dua manfaat sekaligus. Pertama, emisi turun karena ada dekarbonisasi. Kedua, menghasilkan produk yang punya nilai ekonomi. Teknologi CCU ini bahkan sudah menghasilkan produk soda ash dengan jumlah yang lumayan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Proyek percontohan CCU ini memanfaatkan karbon yang ditangkap dan diolah kembali menjadi produk samping berupa soda ash dan natrium bikarbonat. Saat ini pemanfaatan teknologi tersebut sudah diarahkan pada pengujian kualitas dan kemurnian soda ash.
Berdasarkan hasil pengujian oleh empat pihak, yaitu BBSPJIKFK, BSPJI Surabaya, Petrokimia Gresik, dan Sucofindo, kandungan soda ash menunjukkan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia dengan kandungan natrium karbonat dalam produk tersebut tercatat pada kisaran 99 persen.
Sarmuji menilai hasil pengembangan tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan emisi karbon sebagai sumber bahan baku alternatif yang bisa memberi nilai tambah ekonomi. Apalagi saat ini Indonesia masih mengimpor untuk kebutuhan soda ash.
Melalui CCU, CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif penghasil produk industri, mengurangi ketergantungan impor soda ash, sekaligus memacu diversifikasi produk.
Dari sisi kebijakan, Kemenperin terus berkomitmen mempercepat dekarbonisasi melalui pengendalian emisi dari tiga sumber utama, yaitu penggunaan energi, Industrial Processes and Product Use, serta limbah.
Upaya tersebut mencakup penetapan sembilan subsektor industri prioritas pada strategi dekarbonisasi, yang terdiri atas semen, pupuk, logam, pulp dan kertas, tekstil, kimia, keramik dan kaca, makanan dan minuman, serta alat angkut. Empat subsektor pertama menjadi prioritas perdagangan emisi sektor industri tahap pertama pada 2028 sampai 2035. Sementara lima subsektor lainnya diprioritaskan pada tahap kedua periode 2036 sampai 2050.
Ke depan, teknologi CCU berpotensi dikaji untuk diterapkan pada subsektor industri lain yang menghasilkan emisi karbon dioksida maupun polutan udara. Sarmuji menjelaskan, sebagian pelaku industri masih memandang upaya dekarbonisasi sebagai tambahan biaya. Namun proyek percontohan ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi hijau dapat memberikan manfaat lebih luas, baik bagi proses produksi maupun lingkungan.
Teknologi ini akan dievaluasi secara berkelanjutan agar dapat diterapkan dalam skala industri, bukan sekadar proyek percontohan. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam proses produksi, tetapi juga oleh masyarakat secara umum.
Sarmuji berharap proyek percontohan di PT Petrokimia Gresik dapat menjadi model pengembangan teknologi pengendalian emisi yang berpotensi diterapkan di sektor industri lainnya. Hasil evaluasi penerapan teknologi tersebut juga akan menjadi pertimbangan dalam penyusunan peta jalan penerapan teknologi hijau, termasuk kemungkinan pemberlakuan kewajiban penerapannya apabila terbukti efektif dan tidak membebani industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!