El Nino Mengancam! Pemkab Lombok Timur Perkuat Mitigasi, Ini Langkah Antisipasinya
📅 Jumat, 16 Okt 2026, 13:52 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoLOMBOK TIMUR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar diskusi bersama Lombok Research Center (LRC) dalam rangka memperkuat mitigasi dampak El Nino atau perubahan iklim terutama pada sektor pertanian saat musim kemarau 2026.
Wakil Bupati (Wabup) Lombok Timur Muhammad Edwin Hadiwijaya di Lombok Timur, Jumat, mengatakan pemerintah telah mengambil langkah strategis menghadapi tekanan perubahan iklim yang semakin nyata terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
"Perubahan iklim dan fenomena El Nino telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian daerah, khususnya sektor pertanian," katanya saat acara diskusi di Kelurahan Pancor.
Ia menjelaskan El Nino memperpanjang musim kemarau, menurunkan ketersediaan air irigasi, dan berpotensi memundurkan musim tanam hingga sekitar dua bulan.
Terhadap Kondisi ini, menurutnya menempatkan Lombok Timur terutama kawasan selatan seperti Sakra, Keruak, dan Jerowaru yang banyak berupa lahan tadah hujan pada posisi yang rentan terhadap kekeringan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial," ujarnya.
Ia mengatakan penurunan hasil panen, kenaikan harga pangan, dan hilangnya penghasilan petani, berpotensi memperbesar risiko kemiskinan ekstrem, ketegangan rumah tangga, serta meningkatkan kerentanan perempuan terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Untuk itu arah kebijakan Pemkab Lombok Timur periode 2027-2029 akan berfokus pada adaptasi terhadap kebijakan dan program pemerintah pusat serta penyelarasan program antara pemerintah kabupaten, provinsi NTB, dan pusat.
"Pemerintah daerah juga akan memperkuat infrastruktur pertanian dan ketahanan air, meningkatkan kapasitas petani menuju pertanian modern, serta memperkuat kelembagaan petani, termasuk pembentukan kelembagaan buruh tani, tidak hanya terbatas pada Gapoktan," katanya .
Wabup mengakui anggaran sektor pertanian tidak melebihi lima persen dari total belanja daerah, maka pemerintah menggunakan strategi jemput bola untuk menarik dukungan anggaran dan program dari pemerintah pusat.
"Sebagai bentuk aksi konkret, pemerintah daerah telah melakukan sejumlah langkah antisipatif, terutama melalui pembangunan infrastruktur air dan irigasi," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!