Dua Pejabat Baru Dilantik, Tantangan Karhutla dan Ketahanan Air Menanti.
Jumat, 16 Okt 2026, 14:53 WIBKamis, 15 Oktober 2026, Istana Negara menjadi panggung dua pelantikan yang berdiri bersisian, tetapi sesungguhnya berbicara tentang satu perkara. Presiden Prabowo Subianto mengambil sumpah Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB menggantikan Letjen TNI Suharyanto. Dalam rangkaian yang sama, Satyawan Pudyatmoko dilantik sebagai Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN).
Pejabat yang satu memegang selang pemadam. Pejabat yang lain diharapkan menahan air agar tetap bermukim di dalam tanah. Keduanya dilantik ketika matahari di sebagian Sumatera dan Kalimantan kembali lindap di balik jerubu. Organisasi non-pemerintah Pantau Gambut mencatat 139.378 titik panas di lahan gambut sepanjang 1 hingga 14 September 2026, lebih dari separuhnya berada di kawasan berfungsi lindung. Di Sumatera Selatan, tujuh kabupaten yang membara pada 2015 kembali terbakar tahun ini.
Sehari sebelum pelantikan, KPK menetapkan lima tersangka dugaan korupsi pengadaan yang memakai dana siap pakai kebencanaan di BNPB, fakta yang membuat pembenahan lembaga itu kian penting. Mandat Presiden kepada Kristomei terang: percepat respons, rapatkan koordinasi antarlembaga.
Sejarah rupanya gemar berulang dengan presisi yang ganjil. Pada September 2015, di tengah darurat asap, Willem Rampangilei dilantik menggantikan Syamsul Maarif sebagai Kepala BNPB dan menjanjikan penanganan asap sebagai prioritas nasional. Empat bulan berselang, Badan Restorasi Gambut (BRG) lahir.
Sebelas tahun kemudian, polanya nyaris serupa. Nakhoda BNPB berganti saat asap pekat, lalu lembaga gambut didirikan. Pembedanya terletak pada satu hal: sejauh mana pelajaran satu dekade itu sungguh diserap.
Napas pendek BRG
BRG dibentuk sebagai lembaga nonstruktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kedudukannya tinggi, tetapi napasnya pendek. Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 membatasi masa tugasnya lima tahun, dengan target merestorasi sekitar dua juta hektare di tujuh provinsi.
Tugas pokoknya mengoordinasikan dan memfasilitasi, bukan memerintah. Kata kuncinya pun restorasi, yakni memulihkan kawasan dan fungsi hidrologis gambut yang telanjur rusak akibat kebakaran. BRG dirancang untuk merawat luka, belum untuk mencegah luka berikutnya. Ketika bersalin rupa menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2020, cakupan kerjanya bertambah, sedangkan kewenangannya tetap terbatas.
Greenpeace Indonesia mencatat BRGM mengklaim telah merestorasi 1,6 juta hektare selama delapan tahun bekerja, namun lanskap yang disebut pulih itu masih terbakar. Pantau Gambut meneliti lebih dalam. Dari gambut yang terbakar pada periode 2015 sampai 2019, hanya 1 hingga 3 persen yang kembali menjadi hutan. Jumlah sekat kanal, sumur bor, dan bibit yang ditanam, menurut lembaga itu, adalah keluaran program, bukan bukti pemulihan.
Musabab lain berpangkal pada pembagian wewenang. Tanggung jawab yang terbelah antarlembaga bisa menghalangi penanganan terpadu dalam satu kesatuan hidrologis gambut. Padahal air tidak mengenal batas izin. Kanal yang dikeruk di satu konsesi dapat mengeringkan gambut di desa sebelah.
Setelah BRGM dibubarkan pada akhir 2024, urusan gambut kembali sepenuhnya ke tangan kementerian. Jaringan organisasi non-pemerintah Jikalahari (Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau) memandang langkah itu memperlemah koordinasi pemulihan gambut secara nasional, dan asap tahun ini menjadi tandanya.
Hulu yang dijaga
BPGMN berangkat dari gagasan yang mengemuka dalam pertemuan Presiden dengan 22 pakar lingkungan dan gambut di Istana pada 24 September. Badan ini langsung berada di bawah Presiden dan dijanjikan anggaran tersendiri.
Fokusnya digeser ke pencegahan karhutla di enam provinsi bergambut, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Lembaga ini akan melibatkan ilmuwan dan profesional untuk riset, pemetaan, serta sistem deteksi dini titik panas.
Pergeseran dari restorasi ke pencegahan adalah pembeda lembaga ini dan yang sebelumnya. Gambut adalah tanah yang tersusun dari sisa tumbuhan yang tertimbun ribuan tahun dalam genangan. Selama basah, ia jinak dan menyimpan karbon. Begitu dikeringkan, ia menjelma bahan bakar yang mampu membara di bawah permukaan berpekan-pekan, sukar dijinakkan, bahkan oleh bom air dari udara.
Lazimnya, pemadaman terbaik terjadi jauh sebelum api muncul, yakni ketika muka air tanah dijaga tetap tinggi sepanjang kemarau. Tantangan terbesar BPGMN terletak pada jangkauan. Para pakar yang terlibat dalam penyusunan mandatnya, mendorong agar badan ini dapat menyentuh gambut di dalam konsesi.
Selain itu, pendekatan berbasis desa tidak akan bertaji selama pengeringan gambut berskala besar masih berlangsung. Dua syarat lain yang kiranya perlu terpenuhi, yaitu lembaga ini jangan bersifat ad hoc dan pemimpinnya mesti memahami seluk-beluk gambut.
Simpul di tengah
Pencegahan adalah kerja menahun, sementara api menyala hari ini. Karena itu, BNPB di bawah Kristomei tetap memikul tugas paling mendesak, yakni memadamkan, mengevakuasi, dan melindungi warga dari asap. Status siaga darurat karhutla di Kalimantan Tengah masih berlaku hingga akhir Oktober. Operasi darat dan udara perlu dipertahankan sampai musim hujan benar-benar tiba.
Kedua lembaga kini berdiri di dua ujung sungai yang sama. BNPB bekerja di hilir, ketika bencana telah terjadi. BPGMN bekerja di hulu, menjaga agar bencana tidak lahir.
Keberhasilan keduanya bergantung pada simpul di tengah: data titik panas yang dibagi seketika, peta kesatuan hidrologis yang dipakai bersama, serta pemerintah daerah yang mafhum kepada siapa harus melapor. Tanpa simpul itu, hulu dan hilir akan kembali berjalan sendiri-sendiri, sebagaimana acap terjadi sepanjang dekade silam.
Pembenahan internal BNPB juga bagian dari simpul tersebut. Dana siap pakai dirancang agar bantuan bergerak cepat tanpa terbelit prosedur. Ketika pengelolaannya tersandung perkara hukum, yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap sigapnya negara hadir. Memulihkan kepercayaan itu sama mendesaknya dengan memadamkan bara.
Sepuluh tahun silam, capaian keberhasilan dihitung dari jumlah sekat kanal dan luas hektare yang diintervensi. Satu dekade ke depan, ukurannya mestinya lebih bersahaja, sekaligus lebih sukar dipenuhi: muka air gambut yang tetap tinggi saat kemarau, dan langit Pekanbaru, Jambi, Palangka Raya, serta Palembang yang tetap biru dari Agustus hingga Oktober.
- kebakaran hutan dan lahan
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.