Bahaya!!! Karhutla di Sulsel Ancam Lukisan Manusia Purba Berusia 45.000 Tahun, Arkeolog Peringatkan Risiko Kerusakan Permanen
📅 Jumat, 16 Okt 2026, 16:35 WIB | Oleh: OpikMAKASSAR - Sejumlah lukisan tertua manusia purba di situs prasejarah dalam goa terancam rusak serta hilang dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di wilayah karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel).
"Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang menyimpan gambar cadas terancam rusak bila kebakaran tidak dipadamkan," kata Arkeolog dari Griffith University, Australia Basran Burhan merespons karhutla di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Jumat.
Sebagai arkeolog yang bertahun-tahun meneliti kawasan situs prasejarah di lokasi setempat, ia memperingatkan dampak destruktif dapat terjadi pada gambar cadas tersebut, dan menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.
Menurut dia, ada dua efek yang dapat merusak gambar hewan yang dilukis manusia purba berusia puluhan ribu tahun tersebut, seperti panas yang sangat ekstrim meski tidak memerlukan kontak langsung antara api dengan lukisan.
"Tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya," tutur Basran..
Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan mengakibatkan retakan mikro. Retakan itu dapat merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, menyebabkan pengelupasan yang masif.
Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. Asap dari api itu, ungkap dia, akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan dalam gua. Seperti selimut hitam menutupi detail lukisan.
"Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya," paparnya menjelaskan.
Hal mengkhawatirkan adalah fakta upaya konservasi selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel, bahkan telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua.
Aturan itu dibuat bukan tanpa alasan, selain untuk mencegah kerusakan fisik, tujuannya mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua pada situs tersebut. Bahkan suhu tubuh manusia pun dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan dalam jangka panjang.
"Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran. Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua," kata Basran menegaskan.
Sebab, Kawasan Maros-Pangkep bukan sekadar hutan biasa, tetapi galeri seni terbuka tertua di dunia. Pada dinding-dinding gua kapur itu, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan berusia lebih dari 45.000 tahun, mendahului lukisan terkenal di Eropa seperti di Lascaux, Prancis.
Dampak kebakaran di kawasan Taman Nasional itu tidak hanya merusak vegetasi pada erea karst hingga puncaknya, tapi tutur berdampak pada habitat satwa endemik dilindungi maupun keanekaragaman hayati di wilayah setempat.
Kepala Balai Taman Nasional Buntimurung-Bulusaraung Abdul Rajab menyebutkan, luas lahan yag hangus terbakar pada Senin (12/10) mencapai 34,74 haktare hingga meningkat pada Kamis (15/10) seluas 93,43 hektare. Informasi awal kebakaran di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Pangkep, Minggu (11/10) pukul 21.00 WITA. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!