Regulator Sepak Bola Inggris Ancam Mundur jika Ada Intervensi Politik dalam Kasus Manchester City
Kamis, 15 Okt 2026, 00:10 WIBMANCHESTER â Ketua Independent Football Regulator (IFR), David Kogan, menegaskan akan mengundurkan diri jika pemerintah atau pihak politik mencampuri penyelidikan terhadap Manchester City. Ia menekankan bahwa independensi lembaga pengawas sepak bola Inggris harus tetap terjaga, terutama dalam menangani perkara yang melibatkan klub besar.
Manchester City menghadapi ancaman sanksi berat setelah dinyatakan bersalah atas lebih dari 100 dugaan pelanggaran aturan keuangan Liga Inggris oleh komisi independen. Namun, klub berjuluk The Citizens itu mengajukan banding dan membantah melakukan pelanggaran.
Kasus tersebut juga memunculkan perhatian politik setelah Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyatakan dirinya akan sangat prihatin apabila pemilik Manchester City dari Abu Dhabi meninggalkan klub menyusul putusan tersebut.
Pernyataan itu menuai kritik hingga kantor perdana menteri di Downing Street harus memperjelas sikap pemerintah. Mereka menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di atas aturan.
Burnham, yang menjabat sebagai wali kota Greater Manchester pada 2017 hingga Juni 2026, kemudian memublikasikan seluruh komunikasi dan urusannya dengan jajaran pimpinan Manchester City.
Perkara ini menempatkan pemerintah Inggris dalam posisi sensitif. Di satu sisi, Inggris memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang telah lama terjalin dengan Uni Emirat Arab (UEA). Di sisi lain, pemerintah harus menjaga agar proses disipliner terhadap Manchester City tidak kehilangan independensinya.
Pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, merupakan wakil presiden sekaligus wakil perdana menteri UEA.
IFR memiliki kewenangan untuk mendiskualifikasi dan mencopot pemilik klub maupun eksekutif senior, serta memaksa penjualan klub dalam kondisi yang memenuhi ketentuan regulasi.
Kogan menegaskan bahwa dirinya tidak akan menerima campur tangan politik dalam menjalankan tugas.
âIndependensi kami bersifat mutlak, dan independensi saya secara pribadi juga mutlak,â kata Kogan, Rabu (14/10).
âTahun lalu, dalam sebuah wawancara, saya sudah menjelaskan bahwa jika terjadi bentuk intervensi politik apa pun terhadap cara kami bekerja, hal itu akan membuat saya mengundurkan diri dari jabatan ini. Saya sepenuhnya berpegang pada pernyataan tersebut,â ujarnya.
Pernyataan Kogan muncul ketika sepak bola Inggris menghadapi persoalan keuangan yang semakin mengkhawatirkan. Meski pendapatan kompetisi terus meningkat, banyak klub masih mengalami kerugian dan bergantung pada suntikan dana pemilik.
Laporan perdana IFR bertajuk State of the Game mengungkapkan bahwa sepak bola Inggris menghasilkan pendapatan sekitar 9 miliar poundsterling atau setara 212,5 triliun rupiah pada musim lalu.
Namun, sekitar 94 persen klub di lima divisi teratas sepak bola Inggris justru mengalami kerugian.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa 32 klub tidak akan mampu bertahan lebih dari 30 hari tanpa dukungan finansial dari pemiliknya. Sementara itu, 17 klub diperkirakan tetap merugi sekalipun para pemain mereka bermain tanpa menerima gaji.
Kogan menggambarkan situasi tersebut sebagai kontradiksi besar dalam industri sepak bola Inggris.
âSepak bola klub Inggris merupakan yang terkaya, terbaik, dan paling kompetitif di dunia, tetapi pada saat yang sama berada di ambang bencana keuangan,â katanya.
IFR memperkirakan total utang dalam sepak bola Inggris akan melampaui 5 miliar poundsterling pada akhir musim ini, atau sekitar 118 triliun rupiah. Sementara itu, utang bersih terkait transfer pemain diperkirakan mencapai 3,4 miliar poundsterling, setara sekitar 80,3 triliun rupiah.
âSemua pihak harus mempertimbangkan kenyataan bahwa tidak ada sesuatu pun yang akan bertahan selamanya,â ujar Kogan.
Asosiasi Suporter Sepak Bola Inggris menyebut laporan tersebut sebagai peringatan keras bagi sepak bola profesional putra di negara itu. Mereka mendesak agar temuan tersebut segera diikuti perubahan nyata dan berkelanjutan.
Menteri Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, juga menyoroti keresahan para pendukung yang selama bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian mengenai masa depan klub kesayangan mereka.
âSelama bertahun-tahun, para penggemar sepak bola hidup dengan kecemasan bahwa klub mereka bisa berada di ambang kehancuran akibat satu pemilik yang buruk atau satu bulan yang sulit,â kata Nandy.
âLaporan ini bukan sekadar membenarkan kecemasan tersebut. Laporan ini telah membuka persoalan secara terang-terangan dengan mengungkap kondisi keuangan klub sepak bola di Inggris secara sangat gamblang,â ujarnya.
Kogan dijadwalkan memberikan keterangan kepada Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga House of Commons pada bulan depan.
Ketua komite tersebut, Caroline Dinenage, anggota parlemen dari Partai Konservatif yang merupakan oposisi utama, menilai risiko keuangan dalam sepak bola Inggris tidak bisa lagi diabaikan.
âIFR benar bahwa risiko keuangan yang melekat dalam sepak bola klub Inggris tidak bisa terus diabaikan. Mereka telah memaparkan persoalannya. Sekarang, mereka harus menunjukkan langkah konkret yang akan dilakukan,â kata Dinenage.
Di tengah proses banding Manchester City dan perdebatan mengenai independensi regulator, laporan IFR memperlihatkan bahwa tantangan sepak bola Inggris tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga keberlanjutan finansial klub-klubnya. Bagi Kogan, menjaga independensi pengawasan dan membenahi risiko keuangan merupakan dua persoalan penting yang tidak boleh diabaikan.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
UEFA Nations League: Klopp Gagal Menang di Laga Debut Bersama Jerman, Portugal Tundukkan Wales
-
Kebakaran Hanguskan Gudang di Setiabudi, Kerugian Capai Rp1 Miliar
-
Amri/Nita Langsung Membalas Tuntas lewat Revans atas Ganda Campuran Utama Tiongkok
-
Bukan Cuma Label! Kemenperin Bongkar Jurus Jenama Lokal Tembus Pasar Global
-
BIH Gandeng Mitra Medis Jepang Perkuat Ekosistem Layanan Kardiovaskular
-
Dirjenpas Klarifikasi Soal Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
-
Paus Leo XIV Peringatkan AI Bisa Mengancam Martabat Umat Manusia dan Menjadi 'Instrumen Dominasi'
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.