Mentan Soroti Ketimpangan Harga Ayam dan Telur di Gunungkidul

Kamis, 15 Okt 2026, 19:00 WIB

GUNUNGKIDUL—Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyoroti ketimpangan harga ayam dan telur antara tingkat produsen dan konsumen. Pengawasan rantai distribusi akan diperkuat untuk mencegah praktik tata niaga yang membuat harga di tingkat peternak rendah, tetapi justru tinggi ketika sampai ke konsumen.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan kerja Amran ke Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10). Kunjungan yang berlangsung di PT Widodo Makmur Unggas itu turut membahas penguatan ketahanan pangan serta kondisi sektor pertanian dan peternakan.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Menurut Amran, keseimbangan harga perlu dijaga agar petani dan peternak mendapatkan nilai jual yang layak, sementara masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga terjangkau. Pemerintah menyoroti kondisi ketika harga di tingkat produsen rendah, tetapi harga di pasar konsumen justru meningkat hingga melampaui harga eceran tertinggi (HET).

Pengawasan terhadap rantai pasok karena itu akan diperkuat. Pemerintah juga akan menindaklanjuti dugaan permainan harga yang berpotensi merugikan produsen maupun konsumen, termasuk melalui pengerahan satuan tugas khusus untuk menyelidiki dugaan pelanggaran dalam tata niaga komoditas pangan.

Selain memperketat pengawasan distribusi, pemerintah akan mengoptimalkan program makan bergizi serta memperhatikan komponen biaya produksi peternakan, termasuk pakan. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Amran juga membahas penguatan produksi pertanian Gunungkidul. Pemerintah pusat mengalokasikan bantuan bibit jagung untuk ribuan hektare lahan serta bantuan alat pertanian dan sejumlah komoditas perkebunan.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Gunungkidul menerima alokasi bantuan bibit jagung untuk lahan seluas 8.500 hektar pada tahap pertama, ditambah 1.000 hektar. Selain itu, ada bantuan alat pertanian berupa traktor serta bibit sejumlah komoditas perkebunan,” kata Endah.

Selain jagung untuk total lahan 9.500 hektare, bantuan bibit mencakup kelapa pandan manis untuk lahan seluas 221 hektare, kakao 50 hektare, dan durian 10 hektare. Adapun bantuan alat pertanian diberikan kepada kelompok tani yang telah melalui proses verifikasi.

Penguatan produksi jagung juga berkaitan dengan rencana pengembangan Gunungkidul sebagai calon lokasi pembangunan pabrik bioetanol. Apabila rencana tersebut terealisasi, kebutuhan bahan baku diharapkan dapat dipasok dari produksi jagung petani setempat.

Menurut Endah, pengembangan tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas produksi pertanian sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Semoga kolaborasi dan bantuan ini membawa keberkahan serta meningkatkan kesejahteraan para petani di Kabupaten Gunungkidul,” ujarnya.

Persoalan lingkungan turut menjadi pembahasan, antara lain penanganan populasi monyet ekor panjang melalui reklamasi lahan dan penanaman pohon buah. Program tersebut diarahkan untuk membantu pemulihan lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem di Gunungkidul.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.