Kelola Lebih dari 300 Proyek PLTS, Xurya Perkuat Layanan Operasional dan Pemeliharaan.
Kamis, 15 Okt 2026, 17:44 WIBPemerintah menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GWp dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional. Selama ini, diskusi publik masih banyak berfokus pada tantangan pembangunan PLTS dalam skala besar yang harus diselesaikan dalam kurun waktu yang tergolong sangat singkat. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas yang berhasil dibangun. PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia juga perlu dioperasikan dan dipelihara secara optimal agar keandalannya tetap terjaga dalam jangka panjang.
âKetika kita berbicara tentang 100 GWp PLTS, kita juga perlu memikirkan bagaimana seluruh kapasitas ini bisa terus beroperasi setiap hari. Sebab, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya. Dengan masa produktif lebih dari 20 tahun, kita perlu memastikan setiap PLTS terus terpantau kondisinya, gangguan dapat direspons dengan cepat, dan aset dapat dikelola dari jarak jauh (remote) meskipun tersebar di berbagai wilayah Indonesia,â ujar Edwin Widjonarko, Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya.

Sistem Penyimpanan Energi Baterai (BESS) Xurya
Xurya adalah perusahaan energi terbarukan terkemuka di Indonesia yang memelopori metode sewa PLTS. Hingga saat ini, Xurya telah berpengalaman mengoperasikan lebih dari 300 proyek PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengalaman mengelola ratusan PLTS di beragam lokasi ini â di atas atap bangunan, di lahan terbuka, di perkotaan, maupun di daerah terpencil â menjadi bekal penting dalam menghadapi kebutuhan operasional pada skala yang lebih besar.
Edwin mengatakan, âMasih ada anggapan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan (O&M) PLTS hanya sebatas membersihkan modul surya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kinerja PLTS tetap optimal. Tim operator perlu memantau produksi listrik harian hingga ke tingkat larik panel, memastikan sensor berfungsi dan terkalibrasi dengan baik, memeriksa kondisi lahan dan jalur air, serta melakukan pemeliharaan dan menangani gangguan yang muncul. Tim juga harus menganalisa data untuk memahami apakah penurunan produksi disebabkan oleh cuaca, performa sistem, atau kesalahan pengukuran.â
Untuk mengelola ratusan sistem secara efisien sesuai standar global IEC (International Electrotechnical Commission), Xurya mengadopsi berbagai teknologi Industri 4.0. Pemantauan dilakukan secara menyeluruh dan real-time, mencakup aspek keselamatan, konektivitas jaringan, performa sistem, telemetri, hingga kondisi cuaca yang dapat memengaruhi produksi listrik dari PLTS.
Salah satu sistem PLTS di daerah terpencil yang dioperasikan Xurya adalah PLTS hybrid off-grid di area pertambangan PT Central Omega Resources Tbk, Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Sistem berkapasitas 256 kWp ini dilengkapi Battery Energy Storage System (BESS) sebesar 251 kWh dan mulai beroperasi pada September 2026. Berbeda dengan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik, sistem hybrid off-grid memerlukan pemantauan dan pengelolaan yang memperhitungkan integrasi panel surya, baterai, dan sumber listrik lainnya, seperti generator diesel (diesel genset), untuk menjaga keandalan pasokan energi di lokasi operasional.
Pemanfaatan teknologi Industri 4.0 memungkinkan tim ahli Xurya memantau kinerja dan mengoperasikan pembangkit hybrid off-grid tersebut dari jarak jauh (remote), kapan pun dan dari mana pun. Kemampuan ini mendukung keberlanjutan dan sinergi operasional PLTS secara optimal. Selain itu, otomatisasi pemrosesan data membantu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90%, sehingga penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat secara signifikan.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mendukung pengoperasian satu sistem PLTS secara efisien. Namun, ketika diterapkan pada skala 100 GWp, tantangannya jauh lebih besar. Ribuan PLTS akan tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan karakteristik lokasi, sistem, dan kondisi operasional yang beragam. Terlebih, satu sistem PLTS terdiri dari ratusan hingga ribuan modul surya yang terintegrasi dengan berbagai perangkat elektronika daya, seperti inverter, trafo, dan baterai. Kompleksitas ini menjadikan penerapan teknologi Industri 4.0 sebagai kebutuhan krusial untuk menjaga produktivitas dan performa pembangkit sepanjang masa operasionalnya.Â
Di sisi lain, pengelolaan PLTS pada skala tersebut juga membutuhkan kombinasi keahlian yang beragam, mulai dari power engineering, data science, analisis jaringan komunikasi, pemrograman, dan pemecahan masalah hingga pengelolaan aset dan inventaris.
âKompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat, bukan semata-mata hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan,â lanjut Edwin. âArtinya, perkembangan sektor PLTS juga akan mendorong peningkatan keterampilan (skill upgrade) dan pengembangan SDM yang berkualitas di sektor kelistrikan. Bayangkan, dengan 100 GWp PLTS, berapa banyak lapangan kerja profesional dengan tingkat penghasilan tinggi yang tidak hanya tercipta, tetapi juga dapat bertahan selama puluhan tahun ke depan. Instalasi PLTS hanya membutuhkan waktu beberapa bulan, sedangkan pengoperasiannya dapat berlangsung lebih dari 20 tahun.â
Oleh karena itu, pengembangan SDM menjadi bagian penting dari Program 100 GWp untuk memastikan PLTS dapat dikelola secara andal dan manfaat investasi energi surya dapat terus dirasakan dalam jangka panjang. Sejalan dengan upaya tersebut, Xurya menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI), yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kapasitas SDM di industri energi surya. Melalui program ini, Xurya berbagi pengetahuan dan praktik industri untuk memperluas pemahaman tentang energi surya sekaligus mendorong lebih banyak tenaga kerja lokal mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri, baik saat ini maupun di masa mendatang.
âSaya yakin, jika dikelola dengan baik, program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia. Transisi energi bukan hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,â tutup Edwin.
- Xurya PLTS
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.