Paku Alam X Dorong Simfoni 1.001 Pembatik Libatkan UMKM dan Komunitas

Rabu, 30 Sep 2026, 16:45 WIB

YOGYAKARTA – Kegiatan Simfoni 1.001 Pembatik di kawasan Malioboro tidak hanya diharapkan menjadi ajang pelestarian batik, tetapi juga memberi dampak langsung bagi masyarakat. Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, mendorong keterlibatan UMKM, komunitas, perempuan, hingga penyandang disabilitas dalam kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY tersebut.

Pesan itu disampaikan Paku Alam X saat menerima jajaran panitia Simfoni 1.001 Pembatik di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (30/9). Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 3 Oktober 2026 dengan lokasi utama di kawasan Malioboro.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. @diskopukm.diy

Menurut Paku Alam X, pemilihan batik sebagai tema kegiatan memiliki kaitan kuat dengan posisi Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Predikat tersebut ditetapkan World Crafts Council (WCC) pada 2014 sehingga perlu dijaga melalui kegiatan yang membuat batik terus berkembang dan dekat dengan masyarakat.

Ia berharap penyelenggaraan Simfoni 1.001 Pembatik tidak sekadar menghadirkan kemeriahan di ruang publik. Kegiatan tersebut juga dinilai dapat menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas yang berlangsung.

Selain pelaku usaha, keterlibatan masyarakat dapat diperluas melalui berbagai komunitas yang berkembang di Yogyakarta. Komunitas pecinta batik maupun kelompok masyarakat lainnya, menurut Paku Alam X, dapat ikut menjadi bagian dari kegiatan sehingga penyelenggaraan tidak hanya bertumpu pada panitia.

Aspek komunikasi dengan masyarakat juga menjadi perhatian. Paku Alam X mengingatkan bahwa kegiatan di kawasan publik perlu disertai penyampaian informasi yang jelas, terutama apabila terdapat perubahan akses maupun penutupan jalan.

“Sekarang eranya digital. Jadi monggo bagaimana informasi kegiatan ini bisa disebarkan kepada warga termasuk kalau memang ada jalan yang ditutup dan jalur alternatifnya lewat mana. Kita harus mengakomodir,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membuka akses yang lebih luas bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan ruang inklusi. Pemberdayaan perempuan dinilai dapat menjadi kekuatan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Pada saat yang sama, penyandang disabilitas juga perlu mendapatkan kesempatan yang setara untuk terlibat.

Menurut Paku Alam X, ruang bersama seperti kegiatan tersebut dapat membantu membangun penerimaan masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Hal itu dinilai penting karena masih ada keluarga yang merasa enggan terbuka mengenai kondisi anggota keluarganya yang menyandang disabilitas.

Karena itu, ia berharap Simfoni 1.001 Pembatik tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Agenda tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan masuk dalam kalender kegiatan Yogyakarta.

KADIN DIY Siapkan 1.001 Pembatik

Wakil Ketua Umum Koordinator 2 KADIN DIY sekaligus Ketua Dewan Pengarah Panitia Simfoni 1.001 Pembatik, Gunarta Adibrata, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu program utama KADIN DIY di bidang pemberdayaan perempuan.

Simfoni 1.001 Pembatik akan digelar secara bersama-sama di sepanjang Jalan Malioboro, mulai kawasan Titik Terang Bulan hingga Titik Nol Yogyakarta. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 3 Oktober 2026.

Gunarta menyebut jumlah peserta yang telah mendaftar bahkan melampaui target awal. Dari kuota 1.001 pembatik, peserta yang terdaftar telah mencapai lebih dari 1.060 orang.

Peserta berasal dari beragam unsur, antara lain komunitas, sekolah, aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan pemerintah provinsi dan kota, masyarakat umum, serta pihak swasta. Peserta tidak diwajibkan memiliki kemampuan membatik dan hanya disyaratkan berusia lebih dari 12 tahun.

Hasil karya membatik dalam kegiatan tersebut nantinya dapat dibawa pulang oleh masing-masing peserta.

“Kegiatan akan dimulai sejak pukul 06.30 WIB dan berlangsung hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari memperingati Hari Batik Nasional dan memperingati HUT ke-270 Kota Yogyakarta,” paparnya.

Pelaksanaan Simfoni 1.001 Pembatik melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Daerah DIY, Pemerintah Kota Yogyakarta, Dekranasda DIY, serta Balai Besar Kerajinan dan Batik.

Sejumlah perangkat daerah Pemkot Yogyakarta turut mendukung kegiatan tersebut, di antaranya Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Pariwisata, dan Dinas Kebudayaan.

“Banyak sekali kerja sama dengan pemerintah kota. Mereka memberikan kontribusi, baik informasi, branding, maupun dukungan lainnya. Salah satunya Dinas Kominfo Kota memberikan fasilitas billboard gratis di Jalan Kleringan,” ungkapnya.

Gunarta menambahkan, Simfoni 1.001 Pembatik dirancang tidak hanya sebagai kegiatan budaya. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata, memperkuat branding Kota Yogyakarta, serta menjaga predikat Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.