- Home
-
- Luar Negeri
-
- Aksi Jual Pasar Teknologi ...
Aksi Jual Pasar Teknologi Makin Gencar Di Tengah Kekhawatiran Inflasi AS dan Utang AI
Kamis, 15 Okt 2026, 17:07 WIBSEOUL â Gelombang aksi jual saham teknologi kembali mengguncang pasar keuangan global. Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS), potensi kenaikan suku bunga, serta membengkaknya utang untuk membiayai pengembangan kecerdasan buatan (AI) memicu kepanikan investor dan menekan saham-saham teknologi di berbagai negara.
Pasar saham Korea Selatan menjadi salah satu yang paling terpukul. Indeks Kospi ditutup anjlok 8,1 persen ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Tekanan jual yang begitu kuat bahkan memicu mekanisme penghentian perdagangan sementara atau circuit breaker.
Sejumlah produsen chip semikonduktor raksasa ikut mengalami penurunan tajam. Saham SK Hynix merosot hampir 11 persen, sedangkan Samsung Electronics terkoreksi sekitar 9,5 persen. Kedua perusahaan tersebut menjadi sorotan karena besarnya eksposur terhadap industri chip memori yang menopang pengembangan teknologi AI.
Dari The Guardian, tekanan serupa melanda Jepang. Indeks Nikkei 225 turun 4,9 persen setelah saham produsen chip memori Kioxia merosot 11 persen. SoftBank, salah satu investor besar di OpenAI, juga kehilangan sekitar 10 persen nilai sahamnya.
Pelemahan pasar Asia tersebut mengikuti kemerosotan di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Nasdaq Composite turun 1,9 persen, sementara S&P 500 melemah 1,1 persen. Keduanya mencatat kinerja harian terburuk sejak Juli.
Pemicu utama gejolak kali ini adalah data inflasi AS yang lebih tinggi daripada perkiraan. Indeks harga konsumen (CPI) pada September tercatat meningkat 3,7 persen secara tahunan, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga di negara dengan perekonomian terbesar dunia itu belum mereda.
Kondisi tersebut membuat investor mulai mengantisipasi kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga. Sebagian pelaku pasar bahkan memperkirakan langkah tersebut dapat terjadi secepatnya pada akhir Oktober.
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi tekanan tambahan bagi perusahaan teknologi yang membutuhkan pembiayaan besar untuk membangun pusat data, membeli chip canggih, dan mengembangkan infrastruktur AI. Biaya pinjaman yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan beban perusahaan sekaligus mengurangi daya tarik saham yang valuasinya sudah mahal.
Analis Deutsche Bank yang dipimpin Jim Reid menilai pasar sedang menghadapi periode gejolak setelah rilis data inflasi AS disusul meningkatnya kekhawatiran terhadap perdagangan dan investasi AI.
Tekanan inflasi juga dinilai tidak semata-mata berasal dari kenaikan harga energi. Pergerakan harga yang meluas di berbagai kelompok barang dan jasa menunjukkan bahwa tekanan biaya masih menyebar di perekonomian AS.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap potensi koreksi saham AI semakin besar setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa penurunan harga saham di sektor tersebut dapat menyebar ke pasar keuangan global dan mengancam stabilitas sistem keuangan.
Pasar Asia dinilai memiliki paparan besar terhadap risiko tersebut karena tingginya konsentrasi perusahaan teknologi dan produsen semikonduktor. Sementara itu, Inggris dan kawasan zona euro berpotensi relatif lebih terlindungi, meskipun investor yang memiliki aset saham AS tetap menghadapi risiko kerugian.
Tekanan jual juga menjalar ke Tiongkok. Indeks CSI 300 merosot hingga 2,4 persen, mencapai level terendah sejak Agustus 2025. Di Taiwan, saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) turun 2 persen meskipun perusahaan tersebut melaporkan pertumbuhan keuntungan selama enam kuartal berturut-turut.
Pasar Eropa turut bergerak melemah pada awal perdagangan. Indeks Stoxx 600 turun 0,4 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,06 persen, CAC 40 Prancis terkoreksi 0,19 persen, dan Ibex Spanyol turun 0,17 persen. DAX Jerman mencatat penurunan lebih dalam, yakni 0,53 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 mengindikasikan tekanan lanjutan terhadap saham-saham teknologi AS, dengan penurunan sekitar 1 persen.
Rangkaian pelemahan tersebut memperlihatkan bahwa optimisme terhadap AI kini berhadapan dengan kekhawatiran mengenai mahalnya valuasi saham, besarnya kebutuhan pendanaan, dan arah kebijakan moneter AS. Jika inflasi terus bertahan tinggi dan biaya pinjaman meningkat, perusahaan teknologi yang agresif membiayai ekspansi AI berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.
Bagi investor global, persoalannya bukan lagi sekadar seberapa cepat AI berkembang, melainkan apakah potensi keuntungan dari teknologi tersebut mampu membenarkan besarnya investasi dan risiko keuangan yang menyertainya.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pemerintah Desak Perbankan Ikut Biayai Proyek Hilirisasi
-
Grab Dikabarkan Tengah Negosiasi Akuisisi GoTo, Nilai Kesepakatan Capai $7 Miliar
-
JICAF 2026 Perluas Dunia Ilustrasi lewat Kuliner, Komik, dan Creative Practice
-
Berita Transfer Chelsea: Agen Xavi Simons Ungkap Gagalnya Kepindahan, Maresca Jelaskan Keputusan soal Garnacho
-
Telkom Kebut Pemulihan Layanan Pascagempa NTT, Ini Langkahnya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.