- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Tak Percaya Tiongkok...
Trump Tak Percaya Tiongkok dan Russia Pasok Senjata ke Iran
Rabu, 14 Okt 2026, 01:00 WIBWashington â Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak percaya Tiongkok dan Russia membantu Iran dalam konflik dengan AS dan Israel. Menurut dia, kedua negara itu akan menghadapi risiko kerugian besar jika terbukti terlibat.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin (12/10), Trump mengatakan, jika bantuan tersebut memang ada, skalanya kemungkinan sangat terbatas.
âTetapi, saya sama sekali tidak percaya mereka melakukannya. Terlalu banyak hal yang akan mereka pertaruhkan dan kami pasti akan mengetahuinya, dan mengetahuinya dengan sangat cepat!â tulis Trump.
Seperti dikutip dari Antara, pernyataan itu sejalan dengan unggahannya pada Juli lalu. Trump mengatakan Presiden Tiongkok Xi Jinping telah menyampaikan dalam pertemuan di Tiongkok pada Mei bahwa Beijing tidak akan menjual senjata kepada Iran dalam keadaan apa pun, termasuk melalui perusahaan-perusahaan Tiongkok.
Trump juga menyebut Presiden Russia Vladimir Putin menyampaikan bahwa Moskow tidak akan menjual senjata kepada Teheran. Ia memperingatkan bahwa keterlibatan kedua negara dalam bantuan militer untuk Iran akan membawa konsekuensi serius.
Pada Mei, pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan Tiongkok yang dituding mendukung jaringan pengadaan militer Iran dan menyediakan citra satelit yang diduga dapat membantu Iran menyerang pasukan AS. Beijing membantah tuduhan bahwa entitasnya membantu militer Iran.
Sementara itu, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz belum mencapai kemajuan berarti.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Senin (12/10) mengatakan Teheran sedang meninjau tanggapan terbaru AS terhadap posisi Iran terkait rencana penghentian permusuhan. Iran akan menyampaikan pandangannya kepada para mediator setelah proses peninjauan selesai.
Rencana yang dikenal sebagai ârencana tujuh hariâ itu disampaikan Iran pada 22 September melalui para mediator di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Proposal tersebut mencakup tuntutan pemulihan hak-hak Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Baghaei menyebut sejumlah syarat yang diajukan Teheran, antara lain pencabutan blokade laut oleh AS, penghentian perang di seluruh front, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan. Ia menegaskan Iran tidak mengubah tuntutannya dan tidak akan bersikap fleksibel terkait hak-haknya.
Pada Minggu (11/10), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan AS telah menerima beberapa dari tujuh syarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, sikap Washington terhadap persyaratan lainnya masih belum jelas.
Konflik meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan. Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur strategis bagi pasokan energi dunia.
Keterlibatan Inggris
Di tengah ketegangan itu, Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam pernyataan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang menyebut dugaan rencana serangan terhadap pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) kemungkinan besar dikoordinasikan dari Iran.
Teheran menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya mendorong kampanye anti-Iran dan menghindari pertanggungjawaban atas keterlibatan Inggris dalam operasi militer AS dan Israel. Iran juga menilai penggunaan istilah seperti âsangat mungkinâ dan âhampir pastiâ tidak membuktikan kebenaran tuduhan tersebut.
Pada 27 September, polisi Inggris menahan lima orang beRussia 20-an tahun terkait dugaan pelanggaran bahan peledak dan terorisme di dekat Pangkalan RAF Fairford, Gloucestershire. Penyelidikan dilakukan setelah polisi menerima informasi mengenai tiga van yang terlihat menuju pangkalan tersebut, yang pernah digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Kelima orang itu dibebaskan dengan jaminan polisi sehari kemudian setelah pemeriksaan terhadap barang-barang di dalam van dan sejumlah alamat yang terkait dengan mereka di London.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.