- Home
-
- Luar Negeri
-
- Terdampak AI, Hampir 200 R...
Terdampak AI, Hampir 200 Ribu Warga AS Kehilangan Pekerjaan Sejak 2023
Rabu, 14 Okt 2026, 03:05 WIBWASHINGTON - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menyebabkan hampir 200 ribu warga Amerika Serikat (AS) yang kehilangan pekerjaan sejak 2023. Lebih dari 60 persen diantaranya menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tahun ini.Â
Perhitungan RIA Novosti yang mengacu pada data perusahaan konsultan ketenagakerjaan dan manajemen sumber daya manusia AS, Challenger, Gray & Christmas menyebutkan sejak 2023, AI menjadi alasan PHK terhadap hampir 192.000 pekerja di AS.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 120.100 orang kehilangan pekerjaan pada Januari-September tahun ini, atau setara dengan 21 persen dari seluruh PHK di negara adidaya itu sepanjang tahun ini.
Pada 2025, sebanyak 54.800 orang di AS kehilangan pekerjaan akibat AI. Sementara itu, pada 2024, jumlahnya mencapai 12.700 orang. Pada 2023, jumlah kehilangan pekerjaan terkait AI tercatat sebanyak 4.200 orang.
Dalam dua tahun terakhir, jumlah PHK terkait AI tertinggi terjadi pada Mei 2026, ketika 38.600 orang kehilangan pekerjaan. Angka tersebut disusul Oktober 2025 dengan 31.000 orang dan April 2026 dengan 21.500 orang.
Dalam laporan sebelumnya, Financial Times mengutip salah seorang karyawan Oracle bernama Lindsay, salah satu karyawan di Oracle yang menjadi korban PHK akibat AI. Linda mengetahui melalui email kalau posisinya termasuk diantara 21.000 posisi yang dipangkas oleh perusahaan teknologi multinasional yang berkantor pusat di Austin, Texas itu karena peningkatan investasi di bidang AI.
âKami didorong, bahkan ditekan untuk memanfaatkan AI, Mereka menggunakan kami untuk melatih sesuatu yang pada akhirnya akan menggantikan kami,â kata Lindsay, yang meminta agar nama aslinya tidak disebutkan karena perselisihan hukum yang sedang berproses dengan perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya.
Oracle, yang tidak menanggapi permintaan komentar, merupakan salah satu dari puluhan perusahaan besar yang telah menghubungkan PHK massal dengan AI dalam tiga tahun terakhir.
Pada bulan Juli, AI menjadi alasan paling umum yang disebutkan oleh perusahaan untuk pemutusan hubungan kerja selama lima bulan berturut-turut, menurut data yang juga menunjukkan.
Salesforce, Lufthansa, Accenture, dan Standard Chartered termasuk di antara perusahaan-perusahaan besar yang menyebut AI, setidaknya sebagian sebagai alasan keputusan mereka untuk memangkas pekerjaan dalam 12 bulan terakhir.
Pengumuman-pengumuman tersebut telah menambah kekhawatiran tentang dampak teknologi terhadap lapangan kerja, khususnya di sektor-sektor yang sangat rentan seperti rekayasa perangkat lunak, pemasaran, dan peran-peran tingkat pemula.
Laporan itu menyebutkan, beberapa perusahaan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham yang signifikan setelah pengumuman mereka tentang strategi dan pengurangan jumlah karyawan, seperti Block dan Cisco.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kendalikan Erosi, Kementerian LH Dukung Penghijauan Bantaran Sungai CIliwung
-
Dapur Umum Dibuka, Dinsos Solok Pastikan Makanan Warga Terdampak Banjir.
-
UEFA Nations League: Oyarzabal Kembali Jadi Mimpi Buruk Inggris, Modric Bersinar di Usia 41 Tahun
-
Mahakam Mask Carnival Jadi Mesin Ekonomi Kreatif Kaltim, Kreator Lokal Unjuk Gigi
-
Pencegahan Rabies Membutuh Kolaborasi Para Pihak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.