Tak Lagi Impor Alumina, Hilirisasi Bauksit Hemat Devisa hingga Rp9 Triliun

Rabu, 14 Okt 2026, 20:39 WIB

Jakarta  - Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Arif Haendra mengatakan Indonesia berpotensi menghemat devisa sekitar Rp7 triliun–Rp9 triliun per tahun melalui hilirisasi bauksit.

“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” kata Arif dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu (14/10).

Ket. Foto: Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui penguatan hilirisasi bauksit secara terintegrasi di dalam negeri. — Sumber: Antara

Inalum, anggota holding pertambangan MIND ID, kini dapat memenuhi kebutuhan alumina dari produksi dalam negeri akibat hilirisasi bauksit. Sebelumnya, kebutuhan bahan baku untuk mendukung produksi aluminium perusahaan masih bergantung pada pasokan impor.

Ketersediaan alumina domestik tersebut merupakan hasil pengembangan rantai industri yang menghubungkan penambangan bauksit, pemurnian menjadi alumina, hingga pengolahan lebih lanjut menjadi aluminium.

Integrasi ini memungkinkan sumber daya mineral Indonesia dimanfaatkan sebagai bahan baku industri di dalam negeri, sekaligus mengurangi kebutuhan pembelian dari pasar global.

Untuk memperkuat rantai pasok tersebut, Inalum bersama Antam terus mengembangkan ekosistem hilirisasi bauksit–alumina–aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan ini mencakup enam proyek, terdiri atas lima proyek di Grup MIND ID dan satu proyek milik Pelindo.

Pada sisi hulu, pasokan bauksit didukung oleh satu izin usaha pertambangan (IUP) milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan enam IUP milik anak perusahaan Antam. Bijih bauksit tersebut menjadi bahan baku bagi fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), yang mengolahnya menjadi alumina untuk mendukung kebutuhan industri aluminium.

SGAR fase I saat ini telah berproduksi dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton alumina per tahun. Dari kapasitas tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Inalum berdasarkan perjanjian jangka panjang, sedangkan sekitar 450 ribu ton lainnya ditujukan untuk ekspor.

Kehadiran fasilitas ini menjadi tahapan penting dalam membangun kemandirian pasokan bahan baku aluminium nasional. Selain mendukung kebutuhan industri domestik, kapasitas produksi yang tersedia juga membuka peluang penjualan alumina ke pasar internasional.

Pengembangan ekosistem tersebut akan dilanjutkan melalui pembangunan SGAR fase II. Menurut Arif, studi kelayakan yang memenuhi persyaratan perbankan (bankable feasibility study/BFS) untuk proyek tersebut telah selesai dan akan memasuki tahap keputusan investasi akhir (final investment decision/FID) dalam waktu dekat.

Ke depan, penguatan rantai industri bauksit–alumina–aluminium diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga memperkuat basis industri aluminium nasional.

Ketersediaan bahan baku di dalam negeri menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing industri pengolahan serta memperluas pemanfaatan aluminium bagi berbagai sektor mulai dari manufaktur kendaraan EV, konstruksi, transportasi dan kelistrikan.

  • Hilirisasi Bauksit

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.