Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Produksi Capai 7.000 Ton, Kemarau Panjang Tak Ganggu Pasokan Lele Bantul

📅 Rabu, 14 Okt 2026, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Produksi Capai 7.000 Ton, Kemarau Panjang Tak Ganggu Pasokan Lele Bantul Doc: Dok. Antara
Ket. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul, Istriyani

BANTUL—Kemarau panjang yang berpotensi mengganggu proses budi daya belum berdampak signifikan terhadap ketersediaan lele di pasaran. Pasokan ikan air tawar tersebut di Bantul dan pasar Yogyakarta dinilai masih mencukupi karena distribusi antardaerah mampu menutup kekurangan produksi lokal.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul Istriyani mengatakan pergerakan pasokan lele relatif dinamis. Ketika produksi dari Bantul berkurang, kebutuhan konsumen dapat dipenuhi oleh pasokan dari daerah lain.

"Ketika produk (lele) kita berkurang, pasti dari luar sudah masuk. Sangat, sangat dinamis," katanya di Bantul, Rabu.

Bantul sendiri memiliki produksi lele sekitar 7.000 ton per tahun yang berasal dari lebih dari 300 kelompok budi daya. Besarnya produksi tersebut menjadikan lele sebagai salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak dibudidayakan di wilayah itu.

"Produksi kitaper tahun itu kan di angka lebih kurang 7.000 ton per tahun dengan 300-an kelompok budi daya," ujarnya.

Meski pasokan masih aman, musim kemarau panjang tetap menjadi tantangan bagi pembudi daya. Fluktuasi suhu yang ekstrem dapat menyebabkan ikan mengalami stres sehingga lebih rentan terserang penyakit.

DKP Bantul telah melakukan pengawasan terhadap sejumlah laporan terkait kondisi ikan selama kemarau dengan menerjunkan tenaga kesehatan ikan ke lapangan.

"Ada beberapa laporan, tapi kemudian kita sudah melakukan pengawasan karena kita punya tenaga dokter hewan, petugas pemantau kesehatan ikan, sudah terjun, langsung terjun," katanya.

Menurut Istriyani, penerapan teknologi budi daya, terutama pengaturan sirkulasi air, dapat membantu menekan dampak kemarau. Sejumlah pembudi daya lele di Bantul telah menerapkan sistem tersebut.

"Dengan teknologi air mengalir, itu artinya tidak terjadi masalah," ujarnya.

Pengaturan kepadatan benih juga perlu disesuaikan dengan luas kolam dan sirkulasi air. Untuk kolam seluas tiga meter persegi tanpa aliran air, misalnya, jumlah benih yang dapat ditebar sekitar 1.000 ekor.

"Kalau mengalirnya mungkin sedang, bisa di angka 3.000 ekor. Kalau mengalirnya deras, bisa di angka 5.000 ekor," katanya.

DKP juga meminta pembudi daya meningkatkan pengawasan terhadap kondisi ikan dan benih selama kemarau. Pemantauan secara berkala diperlukan karena perubahan kondisi ikan dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...

Mawar de Jongh Rilis Single Terbaru “Oh Semoga”

18 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Mawar de Jongh Rilis Single...
Nasional
Menko PM Dorong Pemberdayaa...
Megapolitan
Polres Tangerang Edukasi 23...
Luar Negeri
KBRI: Dua WNI Terluka dalam...
Advertisement
KBRI: Dua WNI Terluka dalam Serangan Houthi di Arab Saudi

KBRI: Dua WNI Terluka dalam Serangan Houthi di Arab Saudi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.