Minim Sponsor, Pelti Siapkan Beasiswa ITF agar Petenis Indonesia Tembus 100 Besar Dunia

Rabu, 14 Okt 2026, 16:22 WIB

Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) menyiapkan beasiswa dari Federasi Tenis Internasional (ITF) bagi petenis terbaik dalam rangkaian Liga Tenis Indonesia yang berlangsung dalam lima seri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan peringkat dunia atlet sekaligus memperkuat regenerasi tenis nasional.

Sekretaris Jenderal PP Pelti Andi Fajar Asti mengatakan beasiswa itu ditujukan untuk membantu atlet yang terkendala biaya mengikuti turnamen di luar negeri, sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengumpulkan poin dan meningkatkan peringkat dunia secara berkelanjutan.

Ket. Foto: Para pemain melakukan pemanasan sebelum bertanding dalam Liga Tenis Indonesia Seri 2 di Lapangan Tenis Jatayu Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (14/10). — Sumber: Antara

"Pemain-pemain senior selama ini sepi sponsor, sehingga untuk mengikuti turnamen di luar negeri dengan biaya sangat mahal mereka terkendala," kata Andi seusai membuka Liga Tenis Indonesia Seri 2 di Lapangan Tenis Jatayu Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (14/10).

Ia menjelaskan beasiswa tersebut berupa pembiayaan bagi petenis terpilih untuk mengikuti turnamen ITF. Pelti akan memilih turnamen yang memungkinkan atlet bertanding tanpa harus menunggu antrean terlalu panjang.

Selain itu, Pelti menjajaki peluang menjadi tuan rumah turnamen internasional agar petenis Indonesia berkesempatan memperoleh wildcard atau undangan khusus untuk tampil dalam kompetisi serta mengumpulkan poin peringkat dunia. Peringkat tersebut menjadi modal penting bagi atlet untuk menghadapi berbagai ajang multievent.

Andi menambahkan, Pelti juga menyiapkan hadiah bagi para juara Liga Tenis Indonesia. Penerima beasiswa akan terdiri atas satu petenis putra dan satu petenis putri yang dipilih berdasarkan hasil keseluruhan rangkaian seri hingga Liga Masters.

Menurut dia, federasi membutuhkan sedikitnya 10 petenis putra dan 10 petenis putri untuk membangun lapisan utama dan pelapis yang kompetitif. Kedalaman skuad diperlukan ketika jadwal turnamen internasional berbenturan dengan agenda multievent.

Ia mencontohkan jadwal Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang yang berbenturan dengan turnamen WTA bagi sejumlah petenis utama Indonesia. Kondisi tersebut membuat Pelti harus mengandalkan pemain lapis berikutnya yang kualitasnya dinilai masih terpaut jauh.

Andi menilai ekosistem tenis Indonesia kini mendapat perhatian positif dari ITF, antara lain melalui kemunculan sejumlah atlet andalan, seperti Aldila Sutjiadi, Janice Tjen, Priska Madelyn Nugroho, dan Muhammad Rifqi Fitriadi.

Di kelompok junior, Rafa Valentino Alida Costa juga menjadi salah satu prospek jangka panjang setelah menembus peringkat 180 besar dunia. Andi berharap penguatan pembinaan dan dukungan kompetisi dapat mendorong lebih banyak petenis Indonesia menembus peringkat 100 besar dunia.

Pembinaan Jangka Panjang

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP Pelti Ardi Rivali mengatakan federasi menyiapkan program pembinaan jangka panjang dengan mengirimkan petenis muda potensial untuk mengikuti turnamen internasional sebagai bagian dari regenerasi atlet nasional.

Ardi menjelaskan Pelti akan memprioritaskan pemain junior terbaik untuk memperoleh kesempatan bertanding di berbagai turnamen internasional, termasuk kompetisi yang diselenggarakan ITF.

"Di antaranya yang dikirim adalah pemain keturunan Indonesia-Jerman namanya Ethan David Zapp dan beberapa lainnya yang dipersiapkan," kata Ardi setelah mengikuti pembukaan Liga Tenis Indonesia Seri 2 di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan program tersebut diarahkan untuk mempersiapkan pemain lapis kedua agar memiliki pengalaman dan kemampuan bersaing di tingkat internasional. Langkah yang direncanakan antara lain mengikutsertakan petenis muda Indonesia dalam turnamen seri W15 untuk sektor putri dan M15 untuk sektor putra.

Kedua kategori tersebut merupakan bagian dari ITF World Tennis Tour yang dapat menjadi jalur bagi pemain untuk mengumpulkan poin peringkat dunia dan meningkatkan pengalaman bertanding.

Menurut Ardi, pengiriman atlet ke turnamen internasional merupakan bagian penting dari persiapan membangun pemain yang kompetitif, sehingga siap bersaing ketika dibutuhkan dalam kompetisi nasional maupun internasional.

Langkah tersebut juga sejalan dengan arah pembinaan olahraga jangka panjang atau multi-years yang mulai didorong Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pelti berupaya menerjemahkan kebijakan itu melalui pemilihan atlet junior potensial dan pemberian kesempatan bertanding secara berkelanjutan.

Dengan program beasiswa, pengiriman atlet ke luar negeri, dan penguatan kompetisi, Pelti berharap pembinaan tenis nasional tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi dalam waktu dekat, tetapi juga mampu menghasilkan regenerasi atlet yang kuat dan meningkatkan daya saing Indonesia di panggung dunia.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.