Jeritan Warga Kampung Pelangi: Kami Butuh Penataan dan Hunian Terjangkau, Bukan Penggusuran
📅 Rabu, 14 Okt 2026, 19:10 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Warga Kampung Pelangi, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan berharap penataan permukiman tak membuat mereka kehilangan akses terhadap tempat tinggal yang terjangkau.
"Kalau misalnya buat kayak semacam rumah susun kayaknya kasihan juga. Kan kalau rumah susun kan biasanya kan banyak, harga juga mahal," kata anggota Dasawisma RT 07/RW 09 Kampung Pelangi, Heni saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/10).
Heni mengatakan warga pada dasarnya menginginkan lingkungan yang lebih rapi. Namun, ia berharap penataan tidak berujung pada pemindahan ke hunian yang biaya sewanya lebih tinggi dari kemampuan ekonomi mereka.
Kawasan kampung Pelangi dihuni sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar warga bekerja sebagai pemulung, sementara lainnya bekerja sebagai buruh dan asisten rumah tangga.
Menurut dia, bagi warga yang bekerja di sektor informal, biaya tempat tinggal menjadi salah satu pertimbangan penting untuk bertahan di kawasan tersebut.
Hal serupa disampaikan seorang warga asal Cirebon, Esri yang telah tinggal di Jakarta selama puluhan tahun. Dirinya memilih tinggal di kawasan itu setelah sebelumnya harus berpindah tempat tinggal akibat penggusuran.
Ia mengatakan biaya tempat tinggal yang murah menjadi pertimbangan utama karena harus membesarkan anak-anak dengan penghasilan terbatas.
Saat ini, ia membayar sewa sekitar Rp600 ribu per bulan. Ia juga tinggal bersama anggota keluarga, termasuk cucu dan seorang keponakan yang diasuhnya.
Meski demikian, dia bersedia pindah ke rumah susun apabila tersedia hunian dengan biaya yang sesuai kemampuan ekonominya dan lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal sekarang. "Iya mau," kata dia.
Selain persoalan hunian, warga berharap mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kerja. "Ya mau, kalau emang ada mah. Ya mau, masih kuat ini kerja," ucapnya.
Esri berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan tempat tinggal dan penghidupan mereka apabila suatu saat dilakukan penataan kawasan. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!