Atasi Kabut Asap, BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Papua Barat
Rabu, 14 Okt 2026, 13:21 WIBMANOKWARI â Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan operasi modifikasi cuaca di Provinsi Papua Barat untuk mengatasi kabut asap sekaligus membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, di Manokwari, Rabu (14/10), mengatakan operasi modifikasi cuaca dapat dilaksanakan setelah pesawat yang membawa logistik berupa garam sebanyak delapan ton berhasil mendarat.
âPesawat yang membawa logistik berupa garam tadi pagi sudah tiba di Bandara Rendani Manokwari, jadi hari ini juga operasi modifikasi cuaca mulai dilakukan,â ujarnya.
Dia menyebut ada tiga kabupaten yang menjadi prioritas operasi modifikasi cuaca, yaitu Fakfak, Teluk Bintuni, serta Kaimana, tetapi tidak menutup kemungkinan operasi tersebut juga menyasar wilayah Manokwari dan sekitarnya.
Operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat mengurangi potensi terjadinya karhutla maupun kabut asap di wilayah Papua Barat yang menghambat aktivitas penerbangan dan mobilitas masyarakat.
âSemoga dengan adanya modifikasi cuaca, kabut asap ini bisa hilang dan semua kegiatan masyarakat berjalan lancar, termasuk rute penerbangan kembali normal,â ucap Dominggus.
Pemerintah daerah, kata dia, mengapresiasi kontribusi dari dua perusahaan minyak dan gas bumi (migas), yaitu BP LNG Tangguh serta Genting Oil Kasuri yang memberikan dukungan pembiayaan terhadap pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Operasi modifikasi cuaca menjadi solusi efektif setelah penanganan menggunakan peralatan jalur darat menghadapi berbagai hambatan, antara lain keterbatasan personel di lapangan dan tingkat kesulitan akses transportasi menuju lokasi kebakaran.
âSaat ini sudah ada empat ton logistik berupa garam, sekali operasi bisa membawa satu ton garam jadi bisa empat kali terbang. Semoga upaya ini membuahkan hasil maksimal,â ucap Dominggus.Â
Koordinator lapangan operasi modifikasi cuaca Fais Ramadhan menjelaskan, kebutuhan logistik berupa garam yang disiapkan sebanyak delapan ton, namun penggunaannya untuk sekali operasi disesuaikan dengan keberadaan awan kumulus.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar pelaksanaan operasi yang menggunakan maskapai Smart Aviation jenis Cessna Caravan membuahkan hasil positif sesuai ekspektasi.
âOperasi ditargetkan sampai 15 Oktober 2026, tapi apakah ada perpanjangan, tentu kami menunggu arahan BNPB. Kegiatan penyemaian ini mengacu pada rekomendasi BMKG,â ucap Faisal.
BMKG mencatat sebaran titik panas (hotspot) di Papua Barat berdasarkan hasil pemantauan per 13 Oktober 2026 terdapat 73 titik panas terdiri atas 68 titik berstatus sedang, empat titik berstatus tinggi, dan satu titik kategori rendah.
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
- Kabut Asap
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kabut Asap Kiriman Ganggu Kesehatan, Johor Malaysia Tutup Seluruh Sekolah
-
Modernisasi Alutsista Korps Marinir melalui Penyerahan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35
-
Kompetensi Dokter Bedah Harus Mampu Mengikuti Perkembangan Teknologi Kedokteran
-
Arab Saudi Bakal Dikepung Badai Petir hingga Jumat Depan
-
Optimalisasi Pemanfaatan Sumur Resapan untuk Kebutuhan Air Warga
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.