146 Warga Perumahan Serpong Lagoon Diare Massal, Ternyata Air Konsumsi di Setu Tangsel Positif Tercemar Bakteri E. coli
📅 Rabu, 14 Okt 2026, 20:43 WIB | Oleh: Opik
TANGERANG SELATAN, BANTEN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan, Banten menyebut air konsumsi di kawasan Perumahan Serpong Lagoon di Kecamatan Setu terkontaminasi bakteri E. coli berdasarkan hasil pengujian baku mutu.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tangsel Fitria Oriza di Tangerang, Rabu (14/10), mengatakan hampir semua sampel air yang diuji dari penampungan WTP (water treatment plant) menunjukkan hasil positif bakteri E. coli.
"Total terdapat tiga sampel yang diambil dan semuanya positif E. coli. Air tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi," katanya.
Ia menuturkan, setelah adanya temuan penelitian tersebut pihaknya memberikan rekomendasi kepada pihak Satpol PP yang berwenang nantinya melakukan penyegelan terhadap WTP agar tidak dilakukan distribusi kembali kepada masyarakat.
"Dinkes menyarankan agar masyarakat untuk sementara waktu mengonsumsi air yang layak pakai. Disarankan air kemasan guna menghindari penggunaan air dari WTP tersebut," paparnya.
Dalam hal ini, Dinkes Tangsel belum bisa menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena kewenangannya ada di Wali Kota, meskipun saat ini sudah terdapat ratusan korban yang terdampak dari paparan bakteri E. coli tersebut.
"Peningkatan kasus terjadi karena sumber air yang digunakan berasal dari sumber yang sama, yaitu WTP. Namun, sejauh ini semua korban telah tertangani dan sebagian besar korban sudah sembuh, namun ada juga yang masih sakit," ungkap dia.
Petugas dari Dinkes Tangerang Selatan, Banten saat menyampaikan penjelasan terkait temuan kasus pencemaran bakteri E. coli terhadap air konsumsi warga di Perumahan Serpong Lagon, Setu, Tangsel. Antara/Azmi Samsul M
Sebelumnya, sebanyak 146 orang warga Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu mengalami gangguan kesehatan berupa diare, muntah, dan gatal-gatal.
Kepala Dinkes Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menyebutkan, dari ratusan warga yang terdampak terdapat 11 orang yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit (RS).
"Kasus diare tersebut terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa. Berdasarkan hasil pendataan sementara, kelompok balita merupakan kelompok yang paling banyak terdampak," ujarnya.
Dia juga bilang, berdasarkan pendataan hingga 13 Oktober 2026, warga yang menjadi korban paparan bakteri tersebut mengalami keluhan yang sama yakni muntah, diare hingga gatal pada bagian tubuhnya.
"Dinkes Tangsel mulai menerima laporan peningkatan kasus diare akut pada 7 Oktober 2026, setelah sejumlah warga mengalami keluhan kesehatan dalam waktu yang hampir bersamaan," ucapnya. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!