Putra Mahkota MBS Dikabarkan Harus Berpindah-pindah ke Istana Berbunker untuk Hindari Serangan Houthi - Arab Saudi Hadapi Dilema

Selasa, 13 Okt 2026, 07:43 WIB

RIYADH - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dikabarkan berpindah-pindah di antara sejumlah istana berpengamanan ketat yang dilengkapi bunker, menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran. Situasi ini menyoroti tekanan keamanan yang dihadapi pemimpin de facto kerajaan tersebut ketika serangan rudal dan drone mengancam Riyadh serta infrastruktur strategis Arab Saudi.

Laporan The Wall Street Journal (WSJ), yang dikutip media internasional pada Oktober 2026, menyebut MBS menggunakan sejumlah istana dengan fasilitas perlindungan dan pengamanan khusus. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap serangan balasan kelompok Houthi. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci istana mana saja yang digunakan ataupun memastikan bahwa setiap perpindahan dilakukan untuk menghindari serangan tertentu.

Ket. Foto: Gangguan ini menjadi pukulan bagi konektivitas internasional Arab Saudi, yang selama ini berupaya meningkatkan pariwisata dan menarik lebih banyak kegiatan bisnis global. — Sumber: Istimewa

Menurut laporan The Independent, MBS juga tidak terlihat di hadapan publik selama beberapa hari setelah menghadiri kegiatan donor darah nasional. Ketidakhadiran tersebut menambah perhatian terhadap situasi keamanan di sekitar keluarga kerajaan, meskipun tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sang putra mahkota sedang menghadapi ancaman langsung.

Kekhawatiran keamanan itu muncul setelah serangkaian serangan terhadap Arab Saudi. Salah satu insiden paling serius dilaporkan terjadi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Serangan susulan pada hari berikutnya kembali menimbulkan korban jiwa dan membuat operasional bandara terganggu.

Gangguan ini menjadi pukulan bagi konektivitas internasional Arab Saudi, yang selama ini berupaya meningkatkan pariwisata dan menarik lebih banyak kegiatan bisnis global. 

AP juga melaporkan bahwa pemerintah Saudi tengah menyelidiki bagaimana sistem pertahanan udaranya gagal mencegat serangan tersebut. Berdasarkan keterangan dua pejabat regional yang dikutip AP, penyelidikan awal menunjukkan Houthi terlebih dahulu mengerahkan sejumlah drone, kemudian meluncurkan kombinasi rudal jelajah dan rudal balistik.

Proyektil-proyektil itu dilaporkan menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer untuk mencapai Riyadh. 

Serangan terhadap bandara bukan satu-satunya ancaman. Infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak Saudi juga menghadapi risiko, termasuk jaringan pipa timur-barat yang menghubungkan wilayah produksi minyak dengan Laut Merah. Jalur ini menjadi semakin penting setelah gangguan di Selat Hormuz membatasi pilihan ekspor energi kawasan Teluk.

Serangan terhadap infrastruktur tersebut memperbesar kekhawatiran mengenai kemampuan Saudi mempertahankan jalur alternatif ekspor minyaknya. 

Visi 2030 Terancam Tekanan Keamanan

Situasi keamanan yang memburuk berpotensi menghambat agenda Vision 2030, program transformasi ekonomi yang menjadi proyek utama Mohammed bin Salman. Program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak dengan mengembangkan sektor pariwisata, teknologi, industri, dan investasi asing.

Arab Saudi juga menggelontorkan dana besar untuk berbagai proyek ambisius, termasuk kota futuristis NEOM, pengembangan infrastruktur pariwisata, dan penyelenggaraan acara internasional. Namun, meningkatnya kebutuhan belanja pertahanan serta risiko kerusakan infrastruktur dapat mengalihkan anggaran dari proyek-proyek tersebut. 

WSJ menyoroti bahwa sejumlah proyek besar Saudi telah menghadapi penundaan atau peninjauan ulang di tengah tekanan keuangan yang meningkat. 

Tekanan terhadap investasi asing juga menjadi persoalan. Reuters Breakingviews mencatat bahwa investasi asing langsung bersih yang masuk ke Saudi pada 2025 mencapai sekitar 33 miliar dolar AS, masih jauh di bawah target 100 miliar dolar AS per tahun yang ingin dicapai pada akhir dekade ini. Ancaman keamanan berkepanjangan dapat membuat perusahaan internasional lebih berhati-hati dalam menanamkan modal di Riyadh. 

Salah satu agenda yang ikut terdampak adalah Future Investment Initiative (FII), konferensi investasi internasional yang kerap menjadi panggung Saudi untuk menarik investor global. Reuters menilai serangan berulang terhadap ibu kota dapat mengurangi minat pelaku bisnis untuk menghadiri acara tersebut, terutama ketika keamanan infrastruktur dan mobilitas internasional masih terganggu. 

Dilema Riyadh: Membalas atau Membuka Jalur Diplomasi

Di bidang militer, Mohammed bin Salman menghadapi pilihan yang tidak mudah. Respons militer yang lebih keras berisiko memperluas konflik, sementara sikap menahan diri dapat memberikan ruang bagi Houthi untuk melanjutkan serangan.

Pakar Teluk Kristian Coates Ulrichsen dari Baker Institute, Rice University, yang dikutip WSJ, menilai respons militer Saudi berisiko menyeret kerajaan lebih dalam ke konflik asimetris. Houthi telah menunjukkan kemampuan menyerang sasaran strategis meskipun Saudi memiliki sistem pertahanan udara dan anggaran militer yang besar.

Arab Saudi dilaporkan meminta dukungan pertahanan dari sekutu, termasuk Pakistan, serta mencari tambahan sistem pertahanan udara.

Riyadh juga mempertimbangkan dukungan bagi sekutunya di Yaman untuk menghadapi kemajuan kelompok Houthi. Sementara itu, Amerika Serikat telah memberikan bantuan intelijen dan perencanaan, tetapi belum secara langsung melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut menurut laporan AP. 

Di tengah eskalasi tersebut, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pada Senin, 12 Oktober, bahwa Teheran siap membantu memfasilitasi dialog antara Saudi dan Houthi. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan juga telah berbicara melalui telepon sehari sebelumnya, meskipun rincian pembicaraan tidak diungkapkan. 

Perkembangan ini menempatkan Mohammed bin Salman di persimpangan antara menjaga keamanan nasional dan mempertahankan agenda transformasi ekonomi. 

Jika serangan terus berlanjut, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh militer dan masyarakat Saudi, tetapi juga oleh investor, sektor penerbangan, industri pariwisata, dan pasar energi global.

Bagi Riyadh, tantangan utamanya kini bukan sekadar mencegat rudal dan drone, melainkan memastikan bahwa konflik regional tidak menggagalkan upaya menjadikan Arab Saudi sebagai pusat bisnis dan investasi internasional. Besarnya sumber daya keuangan kerajaan dapat menjadi penyangga, tetapi menjaga kepercayaan investor akan semakin sulit apabila ancaman terhadap infrastruktur dan aktivitas ekonomi terus meningkat. 

  • Konflik Houthi - Arab Saudi

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.