- Home
-
- Megapolitan
-
- Hello Kitty Putus Kerja Sa...
Hello Kitty Putus Kerja Sama dengan Serial Mata-Mata Jepang, Beijing Murka soal Adegan Penyiksaan
Jumat, 30 Okt 2026, 00:07 WIBTOKYO â Popularitas Hello Kitty di pasar Tiongkok tak membuat perusahaan pemilik karakter ikonik tersebut luput dari kontroversi. Sanrio memutuskan mengakhiri kerja sama komersial dengan serial thriller mata-mata Jepang, Vivant, setelah tayangan itu menuai kecaman dari media pemerintah dan warganet Tiongkok akibat penggambaran agen-agen Beijing yang melakukan penyiksaan brutal.
Dari The Guardian, tak hanya menghentikan kolaborasi, Sanrio juga menyampaikan permintaan maaf dan berjanji memperketat proses evaluasi terhadap proyek kerja sama di masa mendatang.
Keputusan tersebut diumumkan melalui akun Sanrio di platform media sosial Tiongkok, Weibo. Perusahaan asal Jepang itu menyatakan telah menilai serial tersebut mengandung unsur yang tidak sejalan dengan nilai-nilai inti perusahaan.
âSejak awal berdirinya, Sanrio secara konsisten menggunakan karakter-karakternya untuk menyampaikan nilai-nilai seperti kepedulian dan keterhubungan, dan tetap berkomitmen pada filosofi perusahaan untuk memupuk keharmonisan di antara semua orang,â demikian pernyataan Sanrio.
âKami menanggapi masukan yang kami terima terkait insiden ini dengan sangat serius. Ke depannya, kami akan memperkuat proses peninjauan untuk semua proyek kolaborasi di masa mendatang.â
Adegan penyiksaan picu kemarahan Beijing
Kontroversi bermula dari musim kedua Vivant, serial populer produksi jaringan televisi Jepang, TBS. Dalam drama tersebut, aktor Masato Sakai memerankan seorang karyawan yang terseret ke dalam pusaran kejahatan dan jaringan spionase internasional.
Kecaman mencuat setelah media pemerintah Tiongkok menyoroti penggambaran agen-agen China yang menggunakan kekerasan untuk menyiksa anggota unit rahasia pasukan bela diri Jepang.
Salah satu adegan yang dipersoalkan muncul dalam episode yang ditayangkan pada 4 Oktober. Dalam adegan tersebut, seorang agen China digambarkan memotong jari seorang petugas intelijen Jepang dan menusuk bagian perutnya.
Media Tiongkok menilai penggambaran tersebut bukan sekadar dramatisasi fiksi, tetapi juga dianggap menyinggung sejarah hubungan kedua negara.
Tabloid pemerintah, Global Times, menyebut adegan penyiksaan itu memiliki kemiripan mencolok dengan tindakan pasukan Jepang terhadap warga sipil Tiongkok selama Perang Dunia II.
Media tersebut menuding serial itu memutarbalikkan sejarah dengan menggambarkan kekejaman serupa dilakukan oleh tokoh-tokoh Tiongkok modern.
Media pemerintah Tiongkok bahkan menyebut penggambaran tersebut sebagai bentuk âfitnah yang disengajaâ terhadap Beijing.
Karakter Hello Kitty ikut terseret
Pemutusan kerja sama ini menjadi pukulan bagi kolaborasi komersial Sanrio dengan Vivant. Sejumlah karakter populer perusahaan itu, termasuk My Melody dan Cinnamoroll, sebelumnya ditampilkan dalam merchandise bertema serial tersebut.
Bagi Sanrio, kontroversi ini memiliki dimensi bisnis yang penting karena Tiongkok merupakan salah satu pasar luar negeri yang signifikan bagi perusahaan tersebut.
Menurut laporan media Tiongkok, Sanrio membukukan pendapatan sebesar 781 juta yuan atau sekitar 117 juta dolar AS dari pasar Tiongkok pada semester pertama 2026. Angka itu meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya kontribusi pasar tersebut membuat keputusan Sanrio mengakhiri kerja sama dengan Vivant menjadi perhatian, terutama di tengah meningkatnya sensitivitas publik Tiongkok terhadap representasi sejarah dan identitas nasional dalam produk hiburan asing.
Hubungan Jepang-Tiongkok sedang memanas
Kontroversi Vivant muncul ketika hubungan diplomatik Beijing dan Tokyo tengah mengalami ketegangan.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya memicu perselisihan diplomatik pada November 2025 setelah menyatakan bahwa serangan Tiongkok terhadap Taiwan dapat mendorong Jepang mengerahkan pasukan pertahanan diri apabila konflik tersebut menimbulkan ancaman eksistensial bagi negaranya.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Beijing dan menambah ketegangan dalam hubungan kedua negara.
Di tengah situasi tersebut, Vivant musim terbaru hadir dengan tema spionase internasional dan penggambaran agen-agen China yang menjadi sasaran kritik.
Berbeda dengan musim pertamanya yang berlatar di sebuah negara fiktif di Asia Tengah, musim kedua serial ini justru terseret ke dalam perdebatan yang bersinggungan dengan sejarah dan hubungan politik Jepang-Tiongkok.
Menariknya, Sanae Takaichi sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya telah merekam beberapa episode Vivant dan berharap bisa menontonnya selama liburan akhir tahun dan Tahun Baru.
Bukan kali pertama merek asing terseret kontroversi
Kasus Sanrio terjadi hanya beberapa hari setelah sejumlah merek Tiongkok dilaporkan memutus kontrak dengan bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappé.
Penyerang Real Madrid tersebut menuai kecaman setelah bercanda menyebut Mao Zedong sebagai âdiktatorâ. Julukan itu muncul dalam konteks pembicaraan mengenai pengaruh besar Mbappé di dunia sepak bola.
Mbappé kemudian meminta maaf atas ucapannya yang disebutnya kurang bijaksana.
Dua kasus tersebut memperlihatkan bagaimana pernyataan maupun representasi tokoh dalam hiburan dan olahraga dapat berkembang menjadi persoalan komersial ketika bersinggungan dengan isu sensitif di Tiongkok.
Bagi Sanrio, persoalannya kini bukan hanya mengakhiri satu kerja sama dengan serial televisi Jepang. Perusahaan pemilik Hello Kitty itu juga harus menjaga reputasi mereknya di pasar yang memberikan kontribusi pendapatan besar, di tengah meningkatnya sorotan terhadap konten hiburan yang dianggap menyinggung sejarah dan identitas nasional Tiongkok.
- Hello Kity
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.