Peternak Ayam Waspadai Kemarau Panjang yang Bisa Picu Kenaikan Harga Pakan

Selasa, 13 Okt 2026, 15:13 WIB

JAKARTA - Kemarau panjang berpotensi menekan produksi jagung, bahan utama yang menyumbang separuh komposisi pakan ayam. Namun, harga ayam Indonesia belum menunjukkan kenaikan, meski peternak menghadapi peningkatan biaya produksi karena mahalnya pakan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, menjelaskan perubahan iklim dapat mengganggu rantai pasok peternakan ayam. Ketika produksi jagung menurun akibat kekeringan atau El Nino, ketersediaan bahan baku pakan ikut terdampak dan biaya peternak meningkat.

Ket. Foto: — Sumber: Freepik

"Produk ayam berkaitan erat dengan sektor hulu, terutama jagung, karena sekitar 50 persen bahan pakan ayam berasal dari komoditas tersebut. Jika perubahan iklim mengurangi produksi jagung, pasokan pakan ayam terganggu dan peternak harus menghadapi biaya lebih tinggi," kata dia, Selasa (13/10).

Ia mengatakan, dampak kekeringan terhadap peternak terlihat dari kenaikan harga pakan, sementara harga jual ayam belum meningkat. Kondisi tersebut membuat keuntungan peternak semakin terbatas karena biaya pokok produksi naik, tetapi harga ayam masih relatif tertahan.

Selain mengurangi pasokan jagung, cuaca panas dapat memengaruhi kenyamanan ayam dan berpotensi mengganggu produktivitas selama masa pemeliharaan. Ketika kondisi kandang tidak mendukung, pertumbuhan ayam dapat melambat dan risiko kerugian peternak berpeluang meningkat.

"Cuaca memang berpengaruh terhadap ayam, tetapi peternak kini mampu mengatur lingkungan agar ternak tetap nyaman selama pemeliharaan. Di Pulau Jawa, menurut perkiraan saya, sekitar 90 persen peternak telah menggunakan teknologi kandang modern untuk mengendalikan kondisi lingkungan," ujar dia.

Teknologi kandang modern membantu peternak mengelola suhu dan lingkungan, meski tidak menghilangkan dampak kekeringan terhadap ketersediaan bahan pakan. Karena itu, perubahan produksi jagung tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan untuk menjaga kestabilan biaya usaha peternakan.

Ia menyebut harga pakan naik sekitar Rp1.200 hingga Rp1.500 per kilogram sejak triwulan kedua, sekitar Mei, hingga saat ini. Harga yang sebelumnya sekitar Rp8.600 per kilogram kini berada pada kisaran Rp9.800 hingga Rp10.000.

"Kenaikan harga pakan berdampak langsung pada biaya pokok produksi peternak, terutama ketika harga jual ayam belum mengalami kenaikan. Meskipun harga ayam belum naik, peternak tetap merasakan tekanan karena pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pakan semakin besar," ucap dia.

Ke depan, perkembangan harga ayam bergantung pada sejumlah faktor, termasuk pasokan jagung, kondisi cuaca, dan pergerakan harga pakan. Peternak perlu mencermati perubahan tersebut agar dapat mengantisipasi biaya produksi, sementara harga ayam tetap menjadi perhatian pasar. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.