Peternak Ayam Terkendala Naikkan Harga Jual karena Harga Pakan Jagung Tinggi
📅 Selasa, 13 Okt 2026, 15:30 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Peternak ayam belum mampu menaikkan harga jual di tingkat kandang hingga Rp25.000 karena daya beli masyarakat masih terbatas. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi.
Menurut Sugeng, harga Rp23.000 hingga Rp24.000 pun sulit diterima pasar sehingga peternak menghadapi tekanan dalam menjaga usaha mereka.
Kondisi tersebut turut berkaitan dengan pasokan jagung sebagai bahan baku utama pakan yang memengaruhi biaya produksi peternakan. Perubahan iklim berpotensi menghambat masa tanam dan panen jagung, sehingga ketersediaan bahan pakan bagi peternak dapat terganggu.
"Mau kita naikkan menjadi Rp23.000 ataupun Rp24.000, pasar memang tidak mempunyai kemampuan untuk menerima harga tersebut. Daya beli masyarakat menjadi persoalan utama, sehingga peternak harus bertahan sambil menjaga produktivitas kandang saat biaya produksi menekan," kata dia, Selasa (13/10).
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan panen jagung berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan pakan untuk memenuhi kebutuhan industri peternakan ayam. Sejumlah pabrik pakan dapat menggunakan gandum sebagai bahan substitusi, sementara opsi impor jagung secara berkala juga perlu dipertimbangkan.
Pemerintah telah menyediakan bantuan jagung bersubsidi melalui skema SPHP bagi peternak ayam petelur untuk menekan biaya produksi. Melalui program tersebut, peternak bisa memperoleh jagung sekitar Rp5.500 per kilogram, lebih murah dibandingkan harga pasar yang mencapai Rp7.000.
"Menurut saya, kunci keberlanjutan usaha peternakan adalah harga jagung yang lebih terjangkau agar kebutuhan pakan terpenuhi. Ketersediaan bahan baku yang cukup dapat membantu peternak menjaga biaya produksi sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha mereka," ujar dia.
Meski bantuan dapat meringankan biaya, peternak tetap menghadapi tantangan karena harga jual ayam dan telur mengikuti kemampuan belanja masyarakat. Ia menilai, persoalan biaya pakan dan harga jual tersebut terus berulang setiap tahun, sehingga membutuhkan perhatian berbagai pihak terkait.
Selain persoalan pakan, kemarau panjang juga dapat mengganggu ketersediaan air yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan ayam. Ketika pasokan air terbatas, ayam berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan dan kualitas, sehingga peternak perlu menyesuaikan pengelolaan kandang.
"Air sangat vital bagi ayam, ketika kemarau, keterbatasan pasokan dapat mengganggu pertumbuhan dan kualitas ternak. Kondisi itu bahkan bisa membuat peternak memanen ayam lebih cepat sebelum mencapai ukuran panen ideal yang ditargetkan semula," ucap dia.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha peternakan bergantung pada biaya pakan, daya beli konsumen, serta kondisi lingkungan. Karena itu, ketersediaan jagung dengan harga terjangkau dan pengelolaan air yang baik menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas peternak. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!