Perang Iran Picu Krisis Energi, IMF Sebut Negara Miskin Kehilangan Pilihan

Selasa, 13 Okt 2026, 14:22 WIB

Bangkok – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (13/10) memperingatkan bahwa negara-negara berkembang berpendapatan rendah menghadapi dampak guncangan energi akibat perang Iran yang tidak proporsional. Banyak negara tersebut bahkan tidak memiliki pilihan selain memangkas belanja pemerintah atau berisiko harus merestrukturisasi utang.

Berbicara kepada AFP di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF di Bangkok, Wakil Direktur Riset IMF Petya Koeva Brooks mengatakan negara-negara pengimpor minyak dengan beban utang tinggi menghadapi dampak terberat dari guncangan energi. Kondisi tersebut memaksa mereka menghadapi pilihan sulit untuk membantu masyarakat melewati krisis.

Ket. Foto: IMF memperingatkan bahwa negara-negara berpendapatan rendah yang mengimpor minyak dan tidak terpapar lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) merupakan kelompok yang paling rentan terhadap guncangan harga energi saat ini. — Sumber: AFP

“Sayangnya, setelah bertahun-tahun perekonomian global dihantam berbagai guncangan secara berturut-turut, tingkat utang meningkat cukup besar. Pada saat yang sama, inflasi juga menjadi masalah,” kata Koeva Brooks.

Perang yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran telah menjerumuskan Timur Tengah ke dalam konflik dan mendorong harga energi global melonjak. Aksi balasan Teheran menyasar sekutu Washington di kawasan Teluk serta mengganggu pasokan minyak dan gas.

Kenaikan harga energi mulai merembet ke harga berbagai barang lainnya. Krisis tersebut juga berdampak pada pasokan pupuk yang sangat penting bagi sektor pertanian.

IMF meminta negara-negara menerapkan subsidi secara terbatas dan tepat sasaran untuk merespons krisis. Lembaga itu juga merekomendasikan seluruh pemerintah membangun kembali penyangga fiskal dan menangani peningkatan utang setelah bertahun-tahun menghadapi guncangan ekonomi sejak pandemi.

“Pesan kami memang berlaku bagi sebagian besar negara. Namun, kompromi kebijakan dan pilihan yang harus diambil jauh lebih sulit bagi negara-negara yang paling rentan,” ujar Koeva Brooks.

Dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis pada Selasa, IMF mengidentifikasi negara-negara berkembang berpendapatan rendah yang merupakan importir bersih minyak dan tidak terpapar lonjakan investasi teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai kelompok yang paling rentan terhadap dampak perang Iran.

“Di negara-negara yang paling rentan, porsi energi dan pangan dalam keranjang konsumsi sangat besar sehingga situasinya memang jauh lebih sulit,” katanya.

“Namun, sayangnya, tidak ada pilihan lain.”

Pejabat senior IMF tersebut menambahkan bahwa banyak negara berpendapatan rendah sedang mengalami kesulitan pembayaran utang atau berada di ambang kondisi tersebut. Negara-negara itu perlu mempertimbangkan restrukturisasi utang jika tidak mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Jika utang tidak lagi berkelanjutan, penyelesaian masalah utang melalui restrukturisasi yang tertib dan tepat waktu selalu lebih baik daripada menunggu. Sebab, biaya restrukturisasi di kemudian hari akan jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Efek domino

Dalam laporan World Economic Outlook, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh manfaat investasi terkait AI dan peningkatan aktivitas ekonomi di negara-negara maju.

Namun, prospek pertumbuhan berbeda tajam antarnegara, bergantung pada tingkat paparan terhadap perang Iran dan keterlibatan mereka dalam rantai pasok teknologi AI.

Perekonomian negara-negara maju diperkirakan tumbuh 2,1 persen pada 2026. Negara-negara yang terlibat dalam rantai pasok AI, seperti Taiwan dan Korea Selatan, diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi.

Koeva Brooks mengatakan kepada AFP bahwa jika aktivitas investasi AI melambat, perekonomian global akan mengalami dampak negatif terhadap output atau hasil produksi.

“Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, tetapi juga merambat ke Asia melalui keterkaitan perdagangan,” katanya.

Dalam skenario terburuk IMF, yakni ketika AI gagal menghasilkan peningkatan produktivitas seperti yang dijanjikan, proyeksi produk domestik bruto (PDB) global pada 2028 dapat turun hingga 0,4 persen.

Risiko terkait perubahan iklim juga menjadi salah satu fokus utama laporan World Economic Outlook tahun ini. Koeva Brooks mengatakan sebagian dampak fenomena El Nino yang sangat kuat telah diperhitungkan dalam kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

El Nino merupakan fase pemanasan dalam siklus iklim alami yang meningkatkan suhu permukaan laut di kawasan tropis Samudra Pasifik. Fenomena ini memicu perubahan pola cuaca yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan banjir, sekaligus memperburuk pemanasan global akibat aktivitas manusia.

“Kami melihat kenaikan signifikan pada harga minuman, harga beras, dan sebagainya,” kata Koeva Brooks.

“Tentu saja, efek domino yang terjadi bisa jadi jauh lebih besar daripada yang kami perhitungkan saat ini.”

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.