Meta Luncurkan AI Wonder, Klaim Mampu Saingi ChatGPT dan Claude

Selasa, 13 Okt 2026, 06:30 WIB

San Francisco  – Meta pada Senin (12/10), memperkenalkan dua model kecerdasan buatan (AI) mutakhir bernama Wonder dan Wonder Full. Perusahaan tersebut mengklaim kedua model itu memiliki kemampuan yang sebanding dengan ChatGPT milik OpenAI dan Claude buatan Anthropic.

“Muse Spark adalah keluarga model pertama kami, dan kini Muse Wonder merupakan kelas model yang jauh lebih besar dan canggih, yang membawa kami ke garis terdepan,” tulis CEO Meta Mark Zuckerberg di platform X.

Ket. Foto: CEO Meta Mark Zuckerberg selama sekitar satu tahun terakhir mendorong perusahaannya untuk bersaing dengan laboratorium AI terkemuka, terutama OpenAI dan Anthropic, di tengah persaingan untuk menarik pelanggan dan mendiversifikasi sumber pendapatan di luar iklan. — Sumber: AFP

Selama sekitar satu tahun terakhir, Zuckerberg mendorong Meta untuk bersaing dengan laboratorium AI terkemuka, terutama OpenAI dan Anthropic. Persaingan tersebut berlangsung di tengah upaya perusahaan teknologi untuk menarik pelanggan dan mendiversifikasi sumber pendapatan di luar iklan, yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Meta.

Pada Juni 2025, Meta menginvestasikan 14 miliar dolar AS di Scale AI, perusahaan rintisan AI yang berbasis di San Francisco. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Meta merekrut salah satu pendiri Scale AI, Alexandr Wang.

Zuckerberg kemudian menunjuk Wang sebagai kepala AI Meta yang mengawasi divisi baru perusahaan bernama Superintelligence Labs.

Meta meluncurkan model Spark pada April, sekaligus menandai peralihan dari model sumber terbuka perusahaan yang dikenal sebagai Llama, yang tertinggal dibandingkan model-model lain di industri tersebut.

Model-model baru itu akan segera dapat digunakan melalui aplikasi agen personal terbaru Meta, yang dikenal sebagai Muse, khusus bagi pelanggan berbayar.

Wonder merupakan “model terbesar dan paling mumpuni yang pernah kami miliki” serta “menyaingi para pemain besar”, tulis Wang di X. Pernyataan itu tampaknya merujuk pada laboratorium AI terkemuka, OpenAI dan Anthropic.

Dalam sebuah unggahan blog, Meta memamerkan data pembandingan kinerja atau benchmark dari perusahaan independen Artificial Analysis. Data tersebut tampaknya menunjukkan bahwa model Wonder terbaru Meta mengungguli model sebelumnya, Spark, serta berbagai model yang dikembangkan Anthropic, OpenAI, dan Google.

Situs web Artificial Analysis juga menunjukkan bahwa Wonder termasuk di antara model AI dengan biaya paling mahal.

Meta telah berkomitmen menggelontorkan dana miliaran dolar untuk bersaing dalam perlombaan global menguasai teknologi AI, meskipun kekhawatiran mengenai keselamatan dan keamanan teknologi tersebut terus meningkat.

Pada Juli, perusahaan pemilik Facebook dan Instagram itu menyatakan belanja untuk investasi terkait AI dapat mencapai 145 miliar dolar AS pada tahun ini.

Meta memiliki lebih dari 3,6 miliar pengguna aktif harian di seluruh dunia.

Mempercepat Pengembangan

Pada tahun-tahun awalnya, Facebook dikenal dengan filosofi “bergerak cepat dan merusak sesuatu” (move fast and break things). Namun, belakangan Zuckerberg mengisyaratkan bahwa Meta akan menyeimbangkan kecepatan pengembangan dengan aspek keselamatan.

“Meta menunda peluncuran Muse selama beberapa bulan untuk berfokus pada keselamatan dan keamanan. Kami tidak meminta semua pihak lain melakukan hal yang sama sebelum kami melakukannya,” tulis Zuckerberg di X bulan lalu.

Pada Agustus, Meta meluncurkan Muse Code, produk yang dirancang untuk bersaing dengan perangkat pengodean otomatis serupa dari OpenAI dan Anthropic.

Kemudian, pada September, perusahaan itu meluncurkan aplikasi berbasis agen bernama Muse. Perangkat lunak berbasis agen (agentic software) dapat menjalankan tugas tertentu secara mandiri, seperti menulis kode, melakukan riset, berbelanja, dan memesan reservasi.

Dalam konferensi tahunan pengembang Connect bulan lalu, Meta juga memperkenalkan perangkat keras AI genggam baru bernama Muse Charm. Perangkat tersebut memungkinkan pengguna berinteraksi dengan agen Muse tanpa harus menggunakan ponsel pintar.

Para pengembang berlomba merancang aplikasi berbasis agen yang mampu menarik perhatian pengguna, menyita waktu mereka, dan mendorong pengeluaran. Sementara itu, perangkat keras yang ditenagai AI masih menjadi target yang sulit diwujudkan oleh industri teknologi.

Meskipun perusahaan-perusahaan besar Silicon Valley seperti OpenAI, Anthropic, Google, dan Meta mendominasi industri tersebut, perusahaan rintisan baru seperti Instinct juga mulai meraih popularitas besar.

The New York Times melaporkan bahwa Zuckerberg mempercepat peluncuran Muse karena popularitas Instinct.

Sejumlah pesaing menyerukan perlambatan pengembangan AI secara menyeluruh di industri untuk menangani dan mengurangi risiko keselamatan.

Pada September, Zuckerberg menjadi salah satu dari enam eksekutif teknologi Amerika Serikat yang menandatangani komitmen untuk membangun perlindungan yang memadai bagi model AI yang semakin canggih. Presiden Donald Trump menggambarkan komitmen tersebut sebagai janji yang “mengikat secara moral”.

Para eksekutif dari Google, OpenAI, Anthropic, xAI, dan Nvidia juga menandatangani kesepakatan tersebut. Namun, belum ada konsensus di kalangan politisi maupun pemimpin industri mengenai pendekatan terbaik untuk melanjutkan pengembangan teknologi tersebut.

Pimpinan Anthropic, OpenAI, dan Google telah mendorong penerapan prinsip pengaturan tempo (pacing) atau perlambatan pengembangan. Seruan itu muncul setelah model yang dibuat ketiga perusahaan tersebut diketahui berhasil keluar dari lingkungan pengujian atau melakukan tindakan tanpa izin.

“Kami akan memperlambat pengembangan sejauh yang diperlukan untuk memastikan setiap teknologi AI baru yang kami luncurkan benar-benar aman,” kata CEO Anthropic Dario Amodei kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.