Melalui Pengawasan Digital hingga Penerapan SMK PAU, Kemenhub Perkuat Ekosistem Keselamatan Transportasi Darat
📅 Selasa, 13 Okt 2026, 15:52 WIB | Oleh: Mohammad Zaki AlatasJAKARTA - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan terus mendorong penguatan ekosistem keselamatan transportasi darat melalui pengawasan dan penegakan hukum berbasis teknologi serta penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) sebagai langkah preventif. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan mengatakan, strategi tersebut dilakukan guna mencegah risiko kecelakaan sejak awal, karena keselamatan transportasi darat dipengaruhi berbagai faktor, seperti kondisi kendaraan dan kompetensi pengemudi hingga tata kelola perusahaan.
“Kita memiliki tantangan mulai dari kelaikan kendaraan, kompetensi pengemudi, jadwal operasional, hingga pengawasan yang belum optimal. Saat ini kita mulai berupaya mengatasi tantangan tersebut, targetnya bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah penindakan tetapi potensi risiko, kecelakaan, dan korban kecelakaan dapat diturunkan,” kata Aan saat memberikan sambutan pada pembukaan focus group discussion (FGD) “Penguatan Ekosistem Keselamatan Transportasi Darat untuk Mobilitas Berkelanjutan” di Kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa (13/10).
Dirjen Aan menjelaskan, salah satu program penguatan ekosistem keselamatan transportasi darat adalah transformasi digital dalam pengawasan dan penegakan hukum angkutan barang melalui teknologi ETLE HUB. Ia melanjutkan, sebagai tindakan preventif, Kemenhub juga memiliki program penguatan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) yang dinilai penting demi keselamatan angkutan yang berkelanjutan.
“Terkait masalah pengawasan angkutan barang yang tadinya dilakukan secara konvensional, saat ini kita lakukan uji coba pengawasan digital dengan ETLE HUB. Kemudian kita juga sosialisasikan SMK PAU untuk betul-betul diterapkan, yang dimana kita sedang membangun norma baru yakni keselamatan dimulai sejak awal dari hulu ke hilir, karena keselamatan merupakan tanggung jawab kita bersama,” imbuhnya.
Dalam pemaparan FGD, Tenaga Ahli Ditjen Perhubungan Darat, Emil Iskandar menjelaskan lebih lanjut terkait peran ETLE HUB dalam keselamatan angkutan barang. Dalam ekosistem pengawasan dan penegakan hukum angkutan barang, ETLE HUB mampu mendeteksi pelanggaran melalui rekaman elektronik weigh in motion (WIM)/ANPR); kemudian mengidentifikasi kendaraan dengan sistem yang terintegrasi BLUe dan emanifest surat muatan barang (SUMBA); memvalidasi data kendaraan; hingga konfirmasi dan proses penegakan hukum kendaraan over dimension over loading (ODOL) oleh PPNS dan Polri.
“Harapannya dengan penerapan pengawasan dan penegakan hukum seperti ini dapat menimbulkan efek jera. Ke depannya tindak lanjut dapat berupa pemblokiran STNK, blokir OSS, pembatasan akses pelabuhan, dan pembatasan akses jalan tol,” jelas Emil.
Ia menambahkan, saat ini Kemenhub menjalankan uji coba penerapan ETLE HUB sebagai tahapan dari target menuju Zero ODOL 2027. Berdasarkan data pada periode 11 September- 8 Oktober 2026, ETLE HUB mencatat deteksi sebanyak 79.414 total deteksi dengan 51.135 plat unik dan rata-rata deteksi per hari sebanyak 2.836. Potensi pelanggaran yang terdeteksi yakni 31.881 terkait dokumen, 28.282 daya angkut, dan 19.212 dokumen dan daya angkut, sedangkan ada 47.361 kasus kelebihan muatan dan 84,3% di antaranya melebihi 20% batas JBI.
Sementara itu, Advokat LLAJ sekaligus Pemerhati Keselamatan Transportasi Darat, Eddy Suzendi, menyoroti pentingnya penegakan hukum yang menyeluruh untuk penguatan keselamatan transportasi darat, dengan menelusuri berbagai faktor penyebab kecelakaan, mulai dari kondisi kendaraan, muatan, dan jalan hingga penerapan sistem manajemen keselamatan perusahaan. Penetapan tanggung jawab juga harus didasarkan pada alat bukti dan hubungan sebab-akibat.
Sejalan dengan hal tersebut, ia menilai pembentukan Direktorat Keselamatan Transportasi Jalan di lingkungan Ditjen Perhubungan Darat menjadi momentum untuk memperkuat integrasi program keselamatan, mendorong evaluasi dan pengawasan berbasis risiko, mengintegrasikan data keselamatan, serta memastikan penerapan SMK PAU benar-benar dijalankan.
“Direktorat Keselamatan harus menjadi penggerak integrasi keselamatan, bukan bergerak sendiri dan bukan pula menggantikan kewenangan unit lain. Adanya direktorat tersebut juga diharapkan dapat memastikan SMK PAU diterapkan secara nyata, tidak boleh hanya menjadi dokumen administratif, tetapi harus menjadi pedoman operasional yang dijalankan, dievaluasi, dan diperbaiki secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam FGD, Ditjen Hubdat kembali menegaskan penguatan ekosistem keselamatan transportasi darat memerlukan sinergi dan kolaborasi seluruh pihak. Ia berharap dengan upaya yang tengah dilakukan ini dapat mendorong pencegahan risiko sejak awal hingga mewujudkan sistem transportasi darat yang lebih aman dan berkelanjutan.
“Keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama, mulai dari bukti elektronik yang andal, pencegahan risiko sebagai budaya keselamatan perusahaan, hingga kolaborasi integrasi data. Kita pun bergerak bersama menuju mobilitas yang lebih aman dan berkelanjutan karena menjadikan keselamatan sebagai budaya, kepatuhan sebagai standar, dan kolaborasi sebagai fondasi,” pungkas Aan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!