• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Bikin Penasaran! Sutradara...

Bikin Penasaran! Sutradara Roy Julian Belum Tampilkan Satu Karya yang Disiapkan untuk Tahun Depan

Selasa, 13 Okt 2026, 04:40 WIB

JAKARTA - Sutradara sekaligus pemain teater "Kebun Hantu" Roy Julian mengaku masih menyimpan satu karya kejutan setelah menjalani 10 bulan persiapan untuk pentas di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin dan Selasa (13/10) malam.

Roy mengatakan satu lakon terpaksa disimpan terlebih dahulu akibat dinamika komposisi pemain selama persiapan 10 bulan itu, dan kelompok Kantor Teater memilih fokus menyajikan pertunjukan "Kebun Hantu" saja untuk Kanal Teater Dewan Kesenian Jakarta.

Ket. Foto: Salah satu adegan dalam pertunjukan "Kebun Hantu" di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (12/10). — Sumber: Antara foto

"Sepuluh bulan dua naskah pendek, satu lagi (judulnya) Kaktus dan Kuping Gajah, cuma waktu itu sebelas orang pemainnya, ah, lima orang mundur. Jadi gue bikin naskah baru lagi," kata Roy Julian kepada ANTARA usai pertunjukan perdana "Kebun Hantu", Senin.

Roy menjelaskan keputusan menunda pementasan naskah "Kaktus dan Kuping Gajah" tersebut diambil setelah lima orang pemain mengundurkan diri.

Mengingat pertunjukan di Kanal Teater DKJ memilih basis tema pada "arsip tubuh" yang akan mengakar pada ingatan asli dari para pelakon, peran para aktor yang keluar otomatis tidak dapat digantikan oleh orang baru.

"Kalau arsip tubuh dia kan mesti dia yang mainin, kalau orang yang lain yang mainin kan lain rasanya. Nah, jadi waktu yang pertama itu lima pemain mengundurkan diri, enggak kuat latihan," jelas pendiri Kantor Teater tersebut.

Meski demikian, Roy memastikan bahwa naskah pertama yang kini disimpan dalam lemari produksi tersebut tidak dibatalkan, melainkan dipersiapkan secara matang untuk rencana pementasan lain pada tahun depan.

Roy mengatakan "Kebun Hantu" ditulis naskahnya dengan menempatkan pengalaman tubuh aktor sebagai sumber pengetahuan.

Bukan semata-mata sebagai bahan untuk membangun karakter atau menjalankan cerita, melainkan sebagai sesuatu yang memiliki kemungkinan bentuk dan logikanya sendiri.

Ia mengatakan pengalaman itu tidak selalu harus diterjemahkan sebagai kritik, tidak selalu harus dijelaskan melalui tindakan sebab-akibat, dan tidak harus selalu berakhir sebagai makna yang disepakati bersama.

Roy mengatakan saat naskahnya membahas perilaku berselancar di media sosial, kritik adalah implikasi atau dampak dari adanya kesaksian orang-orang modern yang pernah berhadapan dengan media sosial itu.

Kesaksian mereka yang pernah terlibat dengan media sosial, kata dia, seperti mengalami bermacam perasaan mulai dari digiring untuk melihat bencana alam, lalu dalam satu detik berikutnya melihat orang berpacaran, dan sedetik kemudian melihat kasus kriminal (begal).

Semua pengalaman tersebut saling tumpang-tindih secara acak di pikiran tanpa adanya hubungan sebab-akibat yang logis.

"Di antara tubuh yang mengalami, bahasa yang menjelaskan, dan teknologi yang merekam, selalu ada sesuatu yang luput, tidak kelihatan, seperti hantu. Jadi hantu dalam Kebun Hantu bukanlah sosok yang datang dari dunia lain, tapi sesuatu yang hadir, mungkin sudah berlalu, tetapi belum selesai meninggalkan tubuh," kata Roy.

Ia berharap pertunjukannya bisa mendekati pengalaman yang paling menghantui bagi orang-orang yang baru saja menyaksikan sesuatu di media sosial dan belum sepenuhnya memahaminya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.