Studi Visa: Wisatawan Mancanegara Pilih Indonesia karena Biaya Terjangkau dan Pengalaman Wisata Unik
📅 Senin, 12 Okt 2026, 18:25 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Indonesia memiliki daya tarik pariwisata yang melampaui sekadar keindahan alam dan destinasi liburan populer. Kedekatan budaya, tren perjalanan keluarga, pencarian pengalaman premium, hingga ketersediaan pilihan wisata halal turut menjadi pertimbangan utama wisatawan mancanegara saat berkunjung ke Tanah Air.
Studi Visa Global Travel Intentions (GTI) 2026 menunjukkan bahwa keterjangkauan biaya menjadi alasan paling mendasar bagi wisatawan mancanegara dalam memilih Indonesia sebagai destinasi tujuan. Sebanyak 77 persen responden bepergian bersama anggota keluarga, dengan hampir 60 persen dari total anggaran perjalanan dialokasikan khusus untuk tiket penerbangan, akomodasi, dan konsumsi kuliner.
Temuan ini membuka peluang besar bagi industri pariwisata nasional untuk mengembangkan layanan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume kunjungan, tetapi juga pada penguatan kualitas pengalaman wisatawan selama berada di Indonesia.
Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menjelaskan bahwa pergeseran preferensi wisatawan membuka momentum bagi pelaku industri untuk menghadirkan ekosistem perjalanan yang lebih terintegrasi dan bernilai tambah.
“Seiring dengan terus berkembangnya preferensi wisatawan, terdapat peluang besar untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih terhubung dan bernilai. Pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan dapat mendorong wisatawan menjelajahi lebih banyak destinasi, memperpanjang masa tinggal (length of stay), serta berinteraksi lebih dekat dengan pelaku usaha dan komunitas lokal,” ujar Vira dalam keterangan tertulisnya pada Senin (12/10/2026).
Studi GTI 2026 ini didasarkan pada survei kuantitatif terhadap 539 wisatawan mancanegara dari pasar-pasar utama yang berkunjung ke Indonesia. Pengumpulan data dilakukan sepanjang periode November 2025 hingga Februari 2026.
Segmentasi dan Motivasi Wisatawan Pasar Utama
Temuan Visa memperlihatkan bahwa wisatawan dari negara berbeda memiliki motivasi dan pola perjalanan yang amat spesifik, sehingga strategi pengembangan pariwisata nasional perlu memperhitungkan karakteristik unik tiap pasar.
Wisatawan asal Malaysia, misalnya, didorong oleh faktor kedekatan geografis, kesamaan budaya, dan kemudahan konektivitas penerbangan. Aktivitas utama mereka umumnya memadukan wisata kuliner, belanja, serta kunjungan ke berbagai atraksi populer. Sementara itu, wisatawan Singapura lebih condong mencari pengalaman yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran (wellness), olahraga, gaya hidup, serta eksplorasi kuliner lokal.
Adapun wisatawan Australia mencatatkan durasi tinggal paling lama dibandingkan segmen pasar lainnya. Mereka kini semakin aktif mengeksplorasi destinasi di luar Bali, dengan preferensi aktivitas yang mencakup kunjungan ke pasar tradisional lokal, wisata kuliner premium, penggunaan transportasi berbasis aplikasi, kegiatan kebugaran, dan interaksi budaya.
Di sisi lain, wisatawan asal Arab Saudi menjadi segmen dengan potensi pengeluaran paling tinggi (high-spenders). Kelompok ini menyukai masa tinggal berdurasi panjang, akomodasi bintang lima, aktivitas ramah keluarga, restoran fine dining, pusat perbelanjaan, serta ketersediaan fasilitas wisata ramah Muslim (halal tourism).
Akulturasi AI dan Pergeseran Tren Pembayaran Digital
Teknologi digital turut merombak cara wisatawan merencanakan perjalanan. Studi Visa mencatat bahwa 47 persen wisatawan mancanegara memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencari ide perjalanan. Selain itu, 38 persen responden menggunakan AI untuk merancang itinerary, 37 persen untuk menyaring rekomendasi ulasan, serta 36 persen untuk memesan tiket pesawat dan akomodasi secara efisien.
Digitalisasi juga tecermin kuat pada metode transaksi harian wisatawan. Dompet digital kini menjadi pilihan pembayaran terpopuler di Indonesia. Sebaliknya, penggunaan uang tunai sebagai metode pembayaran utama melonjak turun drastis dari 52 persen pada 2023 menjadi hanya 15 persen pada 2026. Meski demikian, kepraktisan tunai tidak sepenuhnya hilang, sebab 46 persen wisatawan tetap menyiapkan uang tunai sebagai dana cadangan.
Di samping itu, 49 persen responden menilai penerimaan kartu pembayaran secara global menjadi alasan utama mereka tetap mengandalkan kartu debit atau kredit saat bepergian ke luar negeri. Ketersediaan infrastruktur pembayaran yang beragam dan tepercaya terbukti menjadi pilar kenyamanan berwisata di tempat baru.
Perilaku Outbound Wisatawan Indonesia dan Fenomena Fandom Tourism
Kebutuhan akan kepastian metode transaksi juga tecermin pada wisatawan Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri (outbound). Sebanyak 48 persen responden domestik mengaku khawatir dompet digital mereka tidak dapat diakses di negara tujuan, sehingga 59 persen masih membawa uang tunai cadangan dan 60 persen berencana memiliki kartu pembayaran khusus perjalanan internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!