IKM Hijau Jadi Masa Depan, Kemenperin Siapkan Akses Pasar dan Pembiayaan Berkelanjutan
Senin, 12 Okt 2026, 22:44 WIBJAKARTA âKementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing Industri Kecil Menengah (IKM) agar tidak tertinggal di rantai pasok yang makin kompetitif. Caranya dengan memperluas kemitraan dengan industri besar, membuka akses pasar, dan mendorong penerapan industri hijau.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, IKM tidak bisa jalan sendiri. Butuh sinergi antara pemerintah, industri besar, lembaga keuangan, dan pelaku usaha.
"Bagi IKM, kemitraan dengan perusahaan besar tidak hanya membuka peluang pemasaran, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menunjukkan kualitas produk dan meningkatkan kemampuan usaha agar sesuai dengan kebutuhan mitra. Sementara itu, perusahaan besar dapat memperkuat rantai pasok domestik dengan menghadirkan lebih banyak produk dalam negeri kepada konsumen," kata Reni di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Salah satu langkah nyata yang sudah dilakukan Kemenperin adalah menggandeng PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MR. DIY Indonesia). Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman pada 18 Mei 2026 lalu.
Ruang lingkupnya meliputi pertukaran data dan informasi, fasilitasi promosi dan perluasan pasar, pengembangan jejaring kemitraan, serta bimbingan teknis dan pendampingan pemasaran produk IKM.
Sebagai tindak lanjut, Ditjen IKMA ikut dalam Pelatihan dan Talkshow Manajemen Keuangan dan Bisnis Berkelanjutan bagi pelaku UMKM dan IKM di Jakarta, 8 Oktober 2026. Kegiatan bertema Growing Sustainably Together: Financial Solutions and ESG Readiness for Future-Ready Suppliers ini diinisiasi MR. DIY bersama PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Menurut Reni, kegiatan ini penting untuk membekali IKM soal pengelolaan keuangan dan kesiapan menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Prinsip ini makin dibutuhkan karena industri besar kini sangat memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam rantai pasoknya.
"Melalui kemitraan ini, kami berharap IKM semakin siap memenuhi kebutuhan pasar, meningkatkan kualitas produk, serta mengembangkan bisnis yang lebih berkelanjutan," ungkapnya.
Penerapan ESG bagi IKM sebenarnya bisa dimulai dari hal sederhana. Seperti efisiensi energi dan sumber daya, pengelolaan sampah dan limbah, penggunaan bahan baku ramah lingkungan, hingga penguatan tata kelola usaha. Selain baik untuk lingkungan, langkah ini juga bikin operasional lebih efisien dan daya saing meningkat.
Reni menjelaskan, penguatan pembiayaan berkelanjutan ini sejalan dengan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, yang mendorong sektor keuangan mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu, sudah ada Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) sebagai panduan untuk mengidentifikasi aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
"Untuk mendukung upaya tersebut, Kemenperin melalui Ditjen IKMA juga telah menghadirkan Program Pemberdayaan IKM Hijau sebagai langkah strategis dalam mengakselerasi transformasi IKM menuju industri yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan," tutur Reni.
Sementara itu, Sekretaris Ditjen IKMA Yedi Sabaryadi menambahkan, pengembangan IKM hijau merupakan amanat dari UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian terkait pembangunan industri hijau.
Program ini juga mengacu pada Buku Putih Pemberdayaan UMKM Hijau Bappenas dan kerangka TKBI, agar prinsip keberlanjutan bisa dipraktikkan IKM sesuai skala usahanya.
"Kami ingin memastikan bahwa prinsip keberlanjutan dapat diterjemahkan ke dalam praktik yang sederhana, namun berdampak nyata, mulai dari penyusunan standar operasional prosedur bisnis perusahaan yang nondiskriminatif, efisiensi energi dan sumber daya, pengelolaan material dan limbah, hingga pencatatan dan dokumentasi praktik hijau," jelas Yedi.
Menurutnya, Program IKM Hijau tidak hanya mengejar jumlah IKM yang menerapkan prinsip berkelanjutan, tapi juga ingin menciptakan IKM percontohan yang bisa menjadi inspirasi bagi pelaku lain.
Dengan penerapan industri hijau yang konsisten, IKM diharapkan lebih siap masuk rantai pasok, mengakses pasar yang peduli lingkungan, serta mendapatkan peluang pembiayaan berkelanjutan.
Yedi menegaskan peran perusahaan besar dan lembaga keuangan sangat strategis untuk mempercepat transformasi ini. Karena itu, kolaborasi Ditjen IKMA dengan MR. DIY Indonesia, Bank CIMB Niaga, dan mitra lain akan terus diperluas.
"Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak IKM yang menerapkan prinsip industri hijau, meningkatkan daya saing, dan memperluas akses pasar maupun pembiayaan," pungkas Yedi.
- Industri Nasional
- Kementerian Perindustrian
- Industri Kecil Menengah (IKM)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
-
Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
-
78% Produk RI untuk Pasar Domestik, Kemenperin: Ini Modal Besar Lawan Produk Impor
-
Menperin Sarmuji Bidik Rumput Laut RI Jadi Nomor Satu Dunia Lewat ISDAP 2026-2030
-
Apakah Kerajaan Sriwijaya Memang Benar-benar Pernah Ada?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.